Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Wabah Campak Meningkat, Apakah Vaksinasi Dini Aman untuk Bayi?        

Wabah Campak Meningkat, Apakah Vaksinasi Dini Aman untuk Bayi?        
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Intinya Sih
  • Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus campak.

  • Vaksinasi campak dini untuk bayi usia 6–11 bulan dinyatakan aman pada kondisi wabah atau perjalanan ke daerah berisiko.

  • Bayi yang belum bisa divaksin disarankan dilindungi lewat strategi “cocooning”.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Indonesia dilaporkan menjadi negara dengan jumlah kasus campak tertinggi kedua di dunia dalam beberapa waktu terakhir. Situasi ini menjadi perhatian serius, terutama setelah pemerintah Australia melaporkan dua warganya terinfeksi campak setelah melakukan perjalanan dari Indonesia.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Anggraini Alam, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025 Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus campak, berada di bawah Yaman. Pada tahun tersebut tercatat 11.094 kasus campak terkonfirmasi, dengan lebih dari 63.769 kasus suspek.

Memasuki awal 2026, penyebaran campak juga belum menunjukkan penurunan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 23 Februari 2026, terdapat 8.224 kasus suspek campak dan empat kasus kematian. Selain itu, tercatat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi, dengan jumlah kasus terbanyak ditemukan di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru bagi orangtua, terutama yang memiliki bayi di bawah usia 12 bulan yang belum mendapatkan vaksin campak. Lalu, saat wabah campak meningkat, apakah vaksinasi dini aman untuk bayi? Berikut Popmama.com rangkum penjelasnya.

Table of Content

1. Apakah vaksinasi campak dini aman untuk bayi?

1. Apakah vaksinasi campak dini aman untuk bayi?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Vaksin campak dini aman untuk bayi jika dalam situasi tertentu seperti wabah campak atau perjalanan ke daerah berisiko. Bayi usia 6–11 bulan boleh menerima vaksin MMR lebih awal. Dokter Spesialis Anak Ellen Fitzpatrick menjelaskan bahwa vaksin dini ini dianjurkan terutama jika bayi tinggal di wilayah wabah atau akan bepergian ke luar negeri. Idealnya, vaksin diberikan dua minggu sebelum perjalanan, mengutip Parents.

Meski aman, penting diketahui bahwa dosis dini ini tidak dihitung sebagai vaksin utama. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan dua dosis vaksin MMR, yaitu pada usia 12–15 bulan dan 4–6 tahun. Jadwal ini mampu memberikan perlindungan hingga sekitar 97 persen terhadap infeksi campak.

Oleh karena itu, jika bayi mendapat vaksin dini, maka anak tetap harus menerima vaksin MMR sesuai jadwal rutin pada usia 12–15 bulan dan 4–6 tahun agar perlindungannya optimal.

Sedangkan di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan imunisasi campak pertama diberikan saat bayi berusia 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan dosis ulangan hingga usia 59 bulan serta imunisasi lanjutan saat anak duduk di bangku sekolah dasar.

2. Cara melindungi bayi yang belum bisa mendapat vaksinasi

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak membuat banyak orangtua khawatir. Bayi yang belum bisa menerima vaksinasi, perlindungannya masih sangat bergantung pada lingkungan sekitar.

Pada kondisi ini, bayi perlu mendapatkan perlindungan ekstra melalui strategi “cocooning” atau perlindungan seperti kepompong. Artinya, bayi dianjurkan lebih banyak berada di rumah dan sementara waktu menghindari aktivitas sosial di luar ruangan, terutama di tempat ramai.

Selain itu, penting memastikan seluruh orang dalam lingkaran terdekat bayi, seperti orangtua, saudara serumah, hingga pengasuh sudah mendapatkan vaksin MR atau MMR. Orangtua juga disarankan menghindari kontak bayi dengan orang yang sedang sakit serta meminimalisir paparan dengan banyak orang untuk menurunkan risiko penularan campak.

3. Bagaimana jika bayi belum 12 bulan dan tidak tinggal di wilayah KLB campak?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Jika bayi belum berusia 12 bulan dan tidak berada di daerah KLB campak, vaksinasi dini biasanya tidak diperlukan.

“Vaksinasi pencegahan tidak diperlukan jika tidak ada kemungkinan paparan langsung (tidak ada perjalanan dan tidak ada wabah di dekatnya),” ujar Molly O’Shea, MD, dokter anak dan juru bicara AAP, dilansir Parents.

Vaksin campak memberikan perlindungan jangka pendek dan lebih lemah jika diberikan antara usia 6 dan 9 bulan dan dapat sedikit menurunkan respons imun bayi mama terhadap vaksin campak berikutnya, jelas Dr. O’Shea.

“Oleh karena itu, kecuali bayi Anda berada di daerah yang mengalami wabah atau Anda bepergian ke luar negeri atau ke daerah tempat terjadinya wabah, menunggu hingga usia yang direkomendasikan untuk vaksinasi adalah langkah yang bijak,” katanya.

4. Alasan kenapa bayi tidak diberikan vaksin MMR sedini mungkin

Popmama.com/Dewi Triana Rahmawati/AI
Popmama.com/Dewi Triana Rahmawati/AI

Sebagian orangtua mungkin bertanya, mengapa vaksin campak atau vaksin MMR tidak langsung diberikan sejak bayi lahir. Alasannya bukan karena vaksin berbahaya, melainkan karena efektivitasnya belum optimal pada bayi yang terlalu kecil.

Menurut Dokter Anak Shilpa Singh, vaksin campak pada bayi usia sangat muda bisa bekerja kurang maksimal karena masih adanya antibodi dari ibu di dalam tubuh bayi. Antibodi ini justru dapat mengganggu pembentukan kekebalan dari vaksin.

Hal serupa dijelaskan oleh Charles Hannum, ketua departemen klinis kedokteran anak di Rumah Sakit Saint Anthony, Chicago, yang menyebut vaksin sebelum usia 12 bulan sebagai dosis “awal dan tambahan.”

Artinya, vaksin tetap memberikan perlindungan, tetapi respons antibodi yang terbentuk tidak sekuat jika diberikan sesuai usia yang direkomendasikan. Karena itu, dosis dini tidak dihitung sebagai bagian dari jadwal utama vaksin MMR, sehingga anak tetap perlu menerima vaksin ulang pada usia 12–15 bulan dan 4–6 tahun.

5. Gejala yang mungkin timbul setelah imunisasi campak

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Imunisasi merupakan upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh, salah satunya melalui pemberian vaksin guna membantu tubuh anak membentuk perlindungan terhadap penyakit Campak. Setelah imunisasi, sebagian anak dapat mengalami KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Kondisi ini merupakan reaksi alami tubuh saat proses pembentukan kekebalan berlangsung, sehingga gejala yang muncul dapat berbeda pada setiap anak. Beberapa gejala yang umum terjadi antara lain demam ringan, kemerahan atau bengkak di area suntikan, anak menjadi lebih rewel, mengantuk, atau nafsu makan sedikit menurun.

Sebagian besar gejala tersebut bersifat ringan dan biasanya membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, jika keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau menimbulkan kekhawatiran, anak sebaiknya dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Semoga informasi ini bermanfaat, Mama!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Latest in Baby

See More