- gangguan fungsi otak,
- kesulitan bergerak,
- gangguan bicara,
- penurunan kemampuan belajar dan berkonsentrasi.
Bahaya Anak di Bawah Umur Mengendarai Motor, Orangtua Perlu Waspada!

- dr. Devie Kristiani menegaskan anak di bawah 17 tahun belum siap secara fisik dan mental untuk mengendarai motor, sehingga orangtua sebaiknya tidak memberikan izin sebelum memiliki SIM.
- Kasus nyata menunjukkan anak 15 tahun mengalami cedera kepala berat akibat kecelakaan motor, menjadi peringatan serius tentang bahaya membiarkan anak di bawah umur berkendara.
- Cedera kepala akibat kecelakaan dapat mengancam nyawa dan menimbulkan dampak jangka panjang, sehingga orangtua berperan penting mencegah anak mengendarai motor demi keselamatan mereka.
Mengendarai sepeda motor sering kali dianggap sebagai hal yang biasa, bahkan banyak orangtua yang mengizinkan anaknya membawa motor untuk berangkat ke sekolah atau sekadar pergi ke tempat yang dekat.
Padahal, anak yang belum berusia 17 tahun belum diperbolehkan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) karena dinilai belum memiliki kesiapan yang cukup untuk berkendara di jalan raya.
Dokter spesialis anak, dr. Devie Kristiani, mengingatkan bahwa keputusan mengizinkan anak di bawah umur mengendarai motor bisa membawa konsekuensi yang sangat serius.
Melalui unggahan di akun Instagram @dr.deviekristiani, ia membagikan sebuah kasus anak berusia 15 tahun yang mengalami cedera kepala berat akibat kecelakaan hingga harus menjalani perawatan intensif di ICU.
Lantas, apa saja risiko yang bisa terjadi jika anak di bawah umur mengendarai sepeda motor? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!
1. Jangan memberikan motor kepada anak di bawah umur

Dokter spesialis anak, dr. Devie Kristiani, mengingatkan para orangtua agar tidak mengizinkan anak yang belum berusia 17 tahun mengendarai sepeda motor.
Menurutnya, batas usia tersebut bukan sekadar aturan administrasi untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), tetapi juga berkaitan dengan kesiapan fisik, mental, dan kemampuan anak dalam berkendara.
Sayangnya, masih banyak yang menganggap anak sudah mampu membawa motor hanya karena terbiasa menggunakannya untuk pergi ke sekolah atau beraktivitas di sekitar rumah.
Padahal, kemampuan mengendalikan kendaraan tidak hanya soal bisa menjalankan motor, tetapi juga memahami situasi lalu lintas, mengenali potensi bahaya, dan mengambil keputusan dengan cepat saat kondisi darurat.
Dalam unggahan di Instagram pribadinya, dr. Devie menyampaikan bahwa ia masih sering menemukan kasus anak di bawah umur yang mengalami kecelakaan akibat diizinkan berkendara sendiri.
Karena itu, para orangtua harus lebih tegas menolak permintaan anak membawa motor sebelum usianya benar-benar memenuhi syarat.
2. Berisiko mengalami kecelakaan hingga harus menjalani perawatan di ICU

Sebagai contoh nyata, dr. Devie membagikan kisah seorang anak berusia 15 tahun yang mengalami kecelakaan tunggal setelah mengendarai sepeda motor.
Menurut penjelasannya, anak tersebut sebelumnya telah diberi izin oleh orangtuanya untuk membawa motor meski belum cukup umur dan belum memiliki SIM.
Benturan yang dialaminya menyebabkan cedera yang sangat serius hingga harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kecelakaan dapat terjadi kapan saja, bahkan saat anak hanya berkendara sendirian tanpa melibatkan kendaraan lain.
Yang lebih memprihatinkan, dr. Devie mengatakan bahwa kejadian serupa bukanlah kasus yang jarang ditemuinya.
Sebagai dokter anak, ia cukup sering menangani pasien yang mengalami cedera berat akibat kecelakaan lalu lintas.
Karena itu, ia berharap para orangtua tidak menganggap remeh risiko membiarkan anak di bawah umur mengendarai motor.
3. Cedera kepala akibat kecelakaan bisa mengancam nyawa dan menimbulkan dampak jangka panjang

Melalui hasil rontgen dan CT scan yang ditunjukkannya, dr. Devie menjelaskan bahwa anak tersebut mengalami cedera kepala yang sangat parah.
Beberapa tulang di bagian kepala dilaporkan mengalami patah, mulai dari tulang dahi, tulang di sekitar rongga sinus dekat mata, hingga bagian dasar tengkorak atau basis cranii.
Pemeriksaan CT scan juga menunjukkan adanya perdarahan di dalam otak (intracranial hemorrhage) yang disertai pembengkakan otak cukup berat.
Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin karena dapat mengancam nyawa.
Bahkan jika pasien berhasil melewati masa kritis, cedera kepala berat tetap berisiko menimbulkan dampak jangka panjang, seperti:
Melalui kasus ini, dr. Devie ingin menunjukkan bahwa kecelakaan saat berkendara bukan hanya menyebabkan luka luar yang dapat sembuh dalam beberapa minggu.
Benturan keras di kepala dapat mengubah kehidupan seorang anak dalam sekejap.
4. Anak di bawah umur belum memiliki kematangan untuk berkendara sendiri

Menurut dr. Devie, salah satu alasan mengapa anak di bawah umur tidak dianjurkan mengendarai sepeda motor adalah karena kemampuan mereka dalam berkendara masih belum matang.
Pada usia ini, koordinasi tubuh, kemampuan mengambil keputusan, serta keterampilan mengenali dan mengantisipasi bahaya masih terus berkembang.
Anak mungkin sudah merasa percaya diri membawa motor, tetapi belum tentu mampu bereaksi dengan tepat ketika menghadapi situasi tak terduga di jalan, seperti kendaraan yang tiba-tiba mengerem, pejalan kaki yang menyeberang, atau kondisi jalan yang licin.
Selain itu, anak-anak dan remaja juga cenderung lebih berani mengambil risiko tanpa mempertimbangkan dampaknya secara matang.
Sifat spontan dan rasa ingin mencoba hal baru dapat membuat mereka lebih mudah melakukan manuver yang berbahaya.
dr. Devie pun mengimbau orangtua agar tidak terburu-buru memberikan kepercayaan kepada anak untuk membawa motor sendiri, demi melindungi keselamatan mereka maupun pengguna jalan lainnya.
5. Orangtua memegang peran penting untuk mencegah kecelakaan pada anak

Tidak mengizinkan anak di bawah umur mengendarai sepeda motor bukan berarti membatasi kebebasan mereka, melainkan bentuk perlindungan dari risiko yang dapat mengancam keselamatan.
Orangtua mungkin merasa anak sudah mahir mengendarai motor atau hanya menempuh perjalanan yang dekat, tetapi kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan tidak selalu disebabkan oleh kesalahan pengendara sendiri.
Anak juga dapat menjadi korban akibat kelalaian pengguna jalan lain. Selain membahayakan diri sendiri, anak yang belum siap berkendara juga berpotensi membahayakan pengendara maupun pejalan kaki di sekitarnya apabila kehilangan kendali atas kendaraan.
Karena itu, orangtua memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan anak menggunakan moda transportasi yang lebih aman hingga usianya memenuhi syarat memiliki SIM.
Tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya terluka, apalagi hingga harus menjalani perawatan akibat kecelakaan yang sebenarnya bisa dicegah.
Menunggu hingga anak cukup umur dan memiliki kesiapan untuk berkendara merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang dapat diberikan orangtua.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu mengutamakan keselamatan anak di atas segalanya.
Bagaimana menurut Mama, apakah masih banyak anak di bawah umur yang mengendarai motor di lingkungan sekitar?





















