Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

5 Cara agar Anak Laki-Laki Tidak Tumbuh Jadi "Cowok Bingung"

5 Cara agar Anak Laki-Laki Tidak Tumbuh Jadi "Cowok Bingung"
Pexels/cottonbro studio
Intinya Sih
  • Psikolog Rayna Winata menekankan pentingnya melatih anak laki-laki mengambil keputusan sejak kecil agar tumbuh percaya diri, mandiri, dan tidak mudah terpengaruh pendapat orang lain.
  • Orangtua disarankan membiarkan anak menghadapi kegagalan serta memberi tanggung jawab bertahap supaya ia belajar menerima konsekuensi, disiplin, dan memiliki mental tangguh.
  • Selain kepatuhan, anak perlu diajak berpikir kritis dan memahami emosinya agar mampu mengelola perasaan dengan sehat serta berani menghadapi tantangan hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap orangtua tentu ingin anak laki-lakinya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas pilihannya.

Namun, tanpa disadari, pola asuh sehari-hari justru terkadang membuat anak terbiasa bergantung pada keputusan orang lain atau takut menghadapi konsekuensi.

Menurut Psikolog dan Konselor Pernikahan, Rayna Winata, melalui unggahan di akun Instagram @raynawinata, kemampuan mengambil keputusan dan bertanggung jawab tidak muncul begitu saja ketika anak dewasa.

Keterampilan ini perlu dilatih sejak kecil melalui respons orangtua dalam situasi sehari-hari, mulai dari memberi kesempatan memilih, menghadapi kegagalan, hingga memahami emosinya.

Lalu, apa saja yang bisa Mama dan Papa lakukan agar anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dalam berpikir dan bertindak? Berikut Popmama.com telah merangkum informasinya.

1. Latih anak mengambil keputusan sejak dini

Ajarkan anak untuk mengambil keputusan dalam kesehariannya
Pexels/Timur Weber

Kemampuan mengambil keputusan merupakan salah satu bekal penting yang akan digunakan anak sepanjang hidupnya.

Sayangnya, tanpa disadari banyak orangtua justru sering mengambil alih pilihan anak karena merasa lebih tahu mana yang terbaik.

Padahal, selama pilihan tersebut masih aman dan sesuai usianya, anak perlu diberi kesempatan untuk menentukan keinginannya sendiri.

Misalnya saat anak ingin memilih sepatu berwarna biru, sementara Mama lebih menyukai warna merah.

Daripada langsung mengubah pilihannya dengan berkata:

"Yang merah saja lebih bagus,"

Cobalah untuk mengatakan:

"Mama sebenarnya suka yang merah. Tapi yang memakai kamu, jadi kita pilih yang biru ya."

Respons sederhana ini menunjukkan bahwa pendapat orangtua tetap dihargai, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan anak.

Menurut Psikolog dan Konselor Pernikahan Rayna Winata, kebiasaan memberi ruang bagi anak untuk memilih akan melatih rasa percaya diri sekaligus kemampuan mengambil keputusan.

Anak juga belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi yang perlu diterima.

Ketika ia terbiasa membuat keputusan sejak kecil, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah terombang-ambing oleh pendapat orang lain dan lebih yakin terhadap pilihannya sendiri.

2. Biarkan anak mengalami kegagalan atau kesalahan

Tidak apa-apa jika anak mengalami kegagalan atau kesalahan
Pexels/Pixabay

Tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya merasa sedih karena kalah atau gagal.

Namun, keinginan untuk selalu melindungi anak terkadang membuat orangtua tanpa sadar mencari kambing hitam atas kegagalan tersebut.

Misalnya saat anak kalah lomba, Mama langsung mengatakan bahwa jurinya tidak adil atau peserta lain lebih diuntungkan.

Respons seperti ini mungkin membuat anak merasa lebih tenang sesaat, tetapi ia justru kehilangan kesempatan untuk belajar mengevaluasi dirinya.

Sebaliknya, cobalah mengakui lebih dulu perasaan anak. Mama bisa mengatakan:

"Mama tahu kamu kecewa. Tapi kalah juga bagian dari belajar. Yuk, kita cari tahu apa yang bisa kita perbaiki untuk lomba berikutnya."

Kalimat tersebut membantu anak memahami bahwa kecewa adalah emosi yang wajar, tetapi bukan alasan untuk berhenti mencoba.

Rayna Winata menjelaskan bahwa membiarkan anak menghadapi kegagalan bukan berarti orangtua tidak peduli.

Justru, inilah cara agar anak belajar menerima konsekuensi, mengembangkan mental tangguh (resilience), serta berani bangkit setelah mengalami kegagalan.

Pengalaman seperti ini akan menjadi bekal berharga ketika ia menghadapi tantangan yang lebih besar di sekolah, pertemanan, maupun kehidupan saat dewasa nanti.

3. Berikan tanggung jawab secara bertahap

Biasakan anak untuk bertanggung jawab atas tindakannya
Pexels/Gustavo Fring

Belajar bertanggung jawab tidak bisa dilakukan secara instan ketika anak sudah remaja atau dewasa.

Kebiasaan ini perlu dibangun sejak kecil melalui pengalaman sehari-hari, termasuk ketika anak harus menghadapi konsekuensi dari kelalaiannya sendiri.

Meski terkadang terasa berat bagi orangtua, membiarkan anak belajar dari kesalahannya justru menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan.

Misalnya, anak baru memberi tahu bahwa besok ia harus membawa bahan untuk praktikum, padahal malam sudah larut dan toko-toko telah tutup.

Alih-alih langsung berusaha mencarikan barang tersebut atau menyelesaikan masalahnya, Papa bisa mengatakan:

"Papa paham kamu panik. Tapi sekarang tokonya sudah tutup. Kali ini kamu perlu menerima konsekuensinya. Lain kali, coba biasakan memberi tahu lebih awal, ya."

Respons seperti ini bukan berarti orangtua tidak membantu, melainkan mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Menurut Rayna Winata, anak yang terbiasa diberi tanggung jawab sesuai usianya akan belajar lebih disiplin, mampu mengatur kebutuhannya sendiri, dan tidak selalu bergantung pada orang lain ketika menghadapi masalah.

4. Jangan hanya mengajarkan kepatuhan, tetapi perkuat kemampuan berpikir mandirinya

Ajak anak berdiskusi ketika melarang sesuatu yang ingin dilakukannya
Pexels/August de Richelieu

Mengajarkan anak untuk patuh memang penting, tetapi kepatuhan yang dibangun tanpa pemahaman sering kali hanya membuat anak mengikuti aturan karena takut dimarahi.

Akibatnya, ia tidak belajar mempertimbangkan alasan di balik sebuah keputusan dan bisa saja memberontak ketika tidak lagi berada di bawah pengawasan orangtua.

Oleh karena itu, Rayna Winata mengingatkan bahwa orangtua perlu mengajak anak berdiskusi, bukan sekadar memberi larangan.

Misalnya ketika anak meminta izin menginap di rumah temannya. Daripada menjawab:

"Nggak boleh, pokoknya nggak boleh,"

Papa dapat menjelaskan alasannya, seperti:

"Menurut Papa, kamu masih belum siap untuk menginap di rumah teman. Biasanya anak-anak tidur terlalu malam dan aktivitasnya juga tidak selalu bisa dipantau orangtua."

Penjelasan tersebut membantu anak memahami bahwa keputusan orangtua dibuat berdasarkan pertimbangan tertentu, bukan sekadar melarang.

Dengan cara ini, anak belajar berpikir kritis, memahami sudut pandang orang lain, serta terbiasa mempertimbangkan alasan sebelum mengambil keputusan.

5. Anak laki-laki juga perlu belajar memahami emosinya

Latih anak untuk memahami emosinya sendiri
Pexels/Vidal Balielo Jr.

Masih banyak anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu terlihat kuat, berani, dan tidak boleh menunjukkan rasa takut.

Padahal, setiap anak memiliki emosi yang perlu dikenali dan diterima, termasuk rasa cemas, sedih, atau kecewa.

Jika orangtua justru meremehkan perasaan tersebut, anak bisa tumbuh dengan kebiasaan memendam emosi atau menghindari situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Misalnya saat anak berkata:

"Ma, aku nggak mau ikut lomba, takut kalah."

Daripada menanggapi dengan kalimat seperti:

"Ah, gitu aja takut."

Cobalah mengatakan:

"Wajar kok kalau kamu merasa takut. Tapi kadang kita tetap perlu mencoba meskipun masih merasa takut."

Respons ini membantu anak memahami bahwa rasa takut bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan emosi yang bisa dikelola.

Menurut Rayna Winata, langkah pertama yang dapat dilakukan orangtua adalah mengakui perasaan anak, kemudian membantu mereka mengenali penyebab emosinya.

Setelah itu, dampingi anak mencari cara untuk menghadapinya tanpa menghakimi.

Ketika anak terbiasa mengenali dan mengelola emosinya sejak kecil, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berani mengungkapkan perasaan dengan sehat, serta tidak mudah lari dari tantangan yang dihadapinya.

Setiap proses tentu membutuhkan waktu dan kesabaran.

Namun, ketika Mama dan Papa konsisten mendampingi tanpa selalu mengambil alih, anak akan belajar menjadi pribadi yang berani berpikir, memilih, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilnya.

Nah Ma, dari kelima cara di atas, kebiasaan mana yang sudah mulai diterapkan di rumah dan mana yang ingin Mama coba mulai hari ini?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More