Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

5 Cara Membangun Diskusi Sehat Soal Pornografi dengan Anak

5 Cara Membangun Diskusi Sehat Soal Pornografi dengan Anak
Pexels/www.kaboompics.com
Intinya Sih
  • Pentingnya orangtua mengatur emosi dan tidak bersikap menghakimi saat anak terpapar pornografi agar komunikasi tetap terbuka dan anak merasa aman bercerita.

  • Ditekankan bahwa pornografi bukan sumber pendidikan seks yang sehat, melainkan rekayasa komersial yang dapat menyesatkan persepsi anak tentang hubungan dan tubuh manusia.

  • Orangtua disarankan menjelaskan risiko ilmiah paparan pornografi serta menetapkan batasan digital secara transparan tanpa kesan mengontrol, demi membangun kepercayaan dan perlindungan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Apakah Mama belakangan ini mulai was was dengan riwayat pencarian di gawai anak yang beranjak remaja?

Menghadapi fakta bahwa anak mungkin sudah bersinggungan dengan dunia pornografi memang menjadi tantangan terbesar para orangtua ya Ma.

Biasanya, apa respons spontan Mama saat anak tidak sengaja terpapar konten pornografi? Langsung memarahi atau bahkan menyita gawainya?

Sayangnya nih Ma, cara agresif ini justru bisa membuat anak makin menutup dirinya, lho.

Biar tidak salah langkah, sudah Popmama.com rangkum 5 cara membangun diskusi sehat soal pornografi dengan anak agar ia tetap merasa aman bercerita kepada Mama.

1. Atur emosi dan hindari sikap menghakimi

Mama, Papa, dan anak sedang duduk santai di teras rumah sambil berbincang dengan hangat dan santai
Pexels/Julia M Cameron

Memergoki anak sedang melihat atau menemukan riwayat pencarian mengenai pornografi di gawai tentu akan membuat Mama terkejut ya.

Rasanya pasti campur aduk antara kaget, kecewa, dan marah. Namun, hal pertama dan paling krusial yang wajib Mama lakukan adalah menenangkan diri terlebih dahulu ya.

Karena bila Mama langsung memberikan respon agresif seperti marah-marah sampai menyita gawainya.

Respons agresif ini tidak akan membuat anak berhenti karena kesadaran sendiri Ma, malah membuat ia ketakutan.

Jangan sampai, di lain hari ia memilih menyembunyikannya dengan jauh lebih rapi di belakang Mama. Duh ini bahayanya Ma!

Untuk itu daripada menghakimi, Mama bisa mengingatkan bahwa rasa penasaran tentang perubahan tubuh dan seksualitas adalah hal yang wajar diketahui saat anak memasuki usia remaja.

2 .Bahas lebih dahulu bersama anak

Mama duduk di sofa sambil mengajak diskusi dengan anak
Pexels/Yan Krukau

Banyak dari orangtua yang merasa tabu, malu, atau bingung saat harus membahas masalah seks dengan anak.

Berujung, pembahasan mengenai pendidikan seks sering dihindari dan baru dibahas saat anak sudah terlanjur terpapar konten pornografi.

Padahal, dengan membuka obrolan lebih dulu, Mama sedang membangun tempat aman yang valid dan terpercaya untuk bertanya, tanpa harus mencari tahu secara sembunyi-sembunyi di luar.

Mama bisa memulai obrolan santai di momen yang kasual. Bahkan saat menonton film bersama. Cukup katakan kalimat seperti,

"Kak, kalau nanti kamu nggak sengaja menemukan video atau konten seksual di internet, tenang saja ya, Mama dan Papa nggak akan marah kok. Kita bisa ngobrolin itu bareng-bareng."

3. Jelaskan bahwa pornografi bukan pendidikan seks

Mama, Papa, dan anak remaja perempuan
Pexels/Julia M Cameron

Saat berdiskusi dengan anak remaja, penting bagi Mama untuk meluruskan persepsi bahwa, pornografi bukanlah media pendidikan seks yang sehat ataupun cerminan kehidupan nyata.

Konten tersebut tidak menggambarkan bagaimana hubungan asmara yang sehat berjalan.

Bahkan anak bisa membentuk pemahaman yang keliru tentang bentuk tubuh yang tidak realistis, serta cara memperlakukan orang lain dengan salah.

Ajak anak berdiskusi sehat dan jelaskan bahwa pornografi itu rekayasa dan bertujuan komersial belaka. Mama bisa katakan kepada anak bahwa,

"Pornografi itu bukan sesuatu yang nyata dan bukan hubungan yang sehat. Di sana tidak ada rasa hormat, persetujuan, bahkan kedekatan emosional yang benar.”

4. Kenalkan pada risiko terpapar secara ilmiah

Mama, Papa, dan anak sedang melakukan diskusi serius
Pexels/Monstera Production

Saat anak remaja terpapar pornografi, jangan langsung menakut-nakuti dengan ancaman atau mitos ya Ma.

Alih-alih membuat anak sadar, cara ini justru sering kali dianggap angin lalu oleh generasi sekarang yang kritis.

Dengan tenang Mama bisa memaparkan fakta ilmiah dan medis, sehingga ia bisa berpikir dua kali sebelum terus melakukannya.

Bahwa menurut dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A(K) yang dikutip dalam Cara Melindungi Anak dari Paparan Pornografi Berdasarkan Saran Ahli, pornografi memiliki dampak seperti kecanduan narkoba sampai memicu anak menjadi pelaku atau korban dari kejahatan seksual.

Sejalan dengan pendapat dr. Eva Devita Harmoniati, Sp.A(K), penelitian pada jurnal National Library of Medicine turut menemukan bahwa yang terbiasa mengonsumsi pornografi melalui internet dapat mengalami peningkatan gairah seksual saat menonton yang kemudian berdampak buruk pada kognisi dan emosinya.

5. Buat batasan tanpa terkesan mengontrol

Papa menunjukkan ponsel kepada anak
Pexels/Julia M Cameron

Setelah Mama berhasil membangun ruang diskusi yang nyaman, langkah selanjutnya adalah menetapkan batasan untuk anak.

Melindungi dari bahaya pornografi bukan berarti harus menjadi "kamera" yang mengawasi setiap gerak-geriknya selama 24 jam.

Kuncinya adalah memberikan batasan yang jelas, namun tetap memberikan ruang aman ya Ma.

Terapkan aturan secara transparan, tegas, dan tetap tenang. Mama bisa mendiskusikan pemasangan filter internet sebagai langkah proteksi. Dan katakan dengan jujur kepada anak, seperti

"Kak, konten seperti ini belum sesuai buat seusia kamu. Jadi, Mama dan Papa akan menyetel filter dan mengatur penggunaan gawai ya. Tapi ini bukan karena Mama dan Papa tidak percaya, tapi karena ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai orangtua untuk menjaga kamu.”

Itulah 5 cara membangun diskusi sehat soal pornografi dengan anak. Saat anak tahu bahwa ia memiliki ruang aman yang bebas dari penghakiman di pelukan Mama, ia tidak akan ragu untuk selalu bersikap jujur Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More