Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Cara Menghadapi Masa Krisis Anak Remaja Usia 8-12 Tahun
Pexels/Merve Sahin
  • Usia 8–12 tahun jadi masa krisis sosial pertama bagi anak, di mana mereka mulai mempertanyakan nilai diri dan posisi dalam pertemanan.

  • Fase ini membantu anak belajar menghadapi penolakan sosial, memahami realita bahwa tidak semua orang akan menyukai mereka.

  • Peran orangtua penting sebagai pendengar yang suportif tanpa langsung campur tangan, agar anak belajar mandiri dan membangun kepercayaan diri.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mama mungkin mengira bahwa masa-masa paling berat dalam kehidupan sosial anak baru akan dimulai saat mereka menginjak bangku sekolah menengah atas. 

Namun pada kenyataannya, fase usia antara 8 hingga 12 tahun justru sering kali menjadi momen pertama di mana anak-anak mulai mengalami krisis emosional yang cukup membingungkan. 

Di usia pra-remaja ini, anak mulai mempertanyakan posisi mereka di lingkungan pertemanan, mencari tahu siapa yang benar-benar menyukai mereka.

Berikut Popmama.com rangkum hal yang terjadi selama masa krisis anak usia 8-12 tahun dan langkah bijak untuk menghadapinya!

1. Anak mulai mempertanyakan keberadaan diri di lingkungan

Pexels/www.kaboompics.com

Fase usia 8 hingga 12 tahun merupakan masa transisi krusial di mana kesadaran sosial anak berkembang dengan sangat pesat. 

Pada tahap inilah anak-anak untuk pertama kalinya mulai aktif mempertanyakan di mana mereka bisa menyesuaikan diri, siapa saja teman yang menyukai kehadiran mereka, dan apakah mereka benar-benar berharga di dalam suatu kelompok. 

Krisis identitas kecil ini sering kali membuat anak menjadi lebih sensitif, mudah murung, dan kerap membandingkan dirinya dengan teman sebaya yang mereka lihat sehari-hari di sekolah.

2. Mulai peka terhadap dinamika sosial

Pexels/cottonbro studio

Pada rentang usia pra-remaja ini, anak-anak biasanya mulai memperhatikan hal-hal detail mengenai struktur pertemanan yang ada di sekitarnya. 

Mereka mulai menyadari siapa saja anak yang sering ditinggalkan atau dikucilkan dari kelompok besar, serta siapa yang memiliki pengaruh untuk mengatur teman-temannya.

Selain itu, anak juga mulai mengamati adanya teman yang rela mengubah kepribadian aslinya demi bisa diterima di suatu kelompok, serta mulai bisa membedakan mana anak yang dianggap keren dan mana yang tidak di lingkungan mereka.

3. Menyimpan pertanyaan emosional yang tidak diucapkan

Pexels/RDNE Stock Project

Krisis sosial di usia ini sering kali memicu lahirnya berbagai pertanyaan emosional di dalam benak anak yang tidak pernah mereka ucapkan keras-keras kepada Mama. 

Anak-anak mulai sering bertanya pada diri mereka sendiri apakah kehadiran mereka mengganggu orang lain, mengapa mereka tidak diundang ke suatu acara, atau apakah orang-orang di sekitarnya benar-benar menyukai mereka. 

Bahkan dalam kondisi yang cukup berat, anak bisa mulai menyalahkan diri sendiri dan mempertanyakan kekurangan apa yang ada di dalam tubuh maupun kepribadian mereka.

4. Naluri Mama untuk langsung memperbaiki

Pexels/Ron Lach

Sebagai seorang Mama, insting alami Mama pasti akan langsung bergerak cepat untuk memperbaiki keadaan ketika melihat anak sedang terluka atau merasa dikucilkan oleh temannya. 

Ada keinginan yang sangat besar dalam diri orangtua untuk langsung menelepon orangtua murid lain, memastikan anak selalu diajak bermain, serta melakukan berbagai cara untuk menghilangkan rasa sakit hati tersebut agar segalanya kembali baik-baik saja. 

Namun, intervensi yang terlalu cepat dari Mama justru bisa mematikan kesempatan anak untuk belajar mandiri.

5. Fase penting untuk belajar menghadapi penolakan sosial

Pexels/Kindel Media

Meskipun terasa sangat menyakitkan melihat anak bersedih, tahapan krisis sosial ini sebenarnya merupakan fase yang sangat membantu mereka untuk belajar memahami realita kehidupan. 

Lewat momen-momen sulit ini, anak diajarkan sebuah kenyataan berharga bahwa tidak semua orang di dunia ini akan memilih atau menyukai mereka, dan mereka harus tetap baik-baik saja meskipun hal itu terjadi. 

Pelajaran ini memang terasa pahit untuk dilalui oleh anak seusia mereka, namun di sinilah mental mereka sedang ditempa.

6. Membangun batasan diri dan pertemanan yang lebih sehat

Pexels/Vanessa Loring

Pengalaman tidak mengenakkan di sekolah atau lingkungan rumah justru menjadi fondasi utama yang akan membangun rasa percaya diri anak di masa depan. 

Melalui krisis sosial ini, anak-anak belajar bagaimana cara menetapkan batasan diri yang kuat, melindungi harga diri mereka, dan menyaring jenis pertemanan yang jauh lebih sehat serta tulus di kemudian hari.

Rasa kecewa yang berhasil dikelola dengan baik akan mengubah karakter anak menjadi pribadi yang lebih tangguh dan tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain.

7. Langkah bijak yang bisa dilakukan oleh Mama

Pexels/www.kaboompics.com

Hal terbaik yang bisa Mama lakukan di rumah adalah hadir sebagai pendengar yang aman tanpa perlu langsung menghakimi atau mengambil alih masalah anak. 

Validasi semua perasaan sedihnya dengan mengatakan bahwa wajar bagi mereka untuk merasa kecewa, namun ajarkan juga cara menghargai diri sendiri. 

Berikan ruang bagi anak untuk menyelesaikan konflik sosialnya sendiri sembari terus membekali mereka dengan pemahaman bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh seberapa banyak teman yang menyukai mereka di sekolah.

Menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan pertemanan anak memang sulit, namun ingatlah bahwa Mama sedang mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia nyata yang sesungguhnya. 

Dengan bimbingan yang tepat dan pelukan hangat di rumah, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan mampu memilih lingkaran pertemanan yang positif bagi masa depan mereka.

Editorial Team

Related Article