Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Alasan Anak Remaja Mudah Tertrigger, Ini Cara Memahaminya

Alasan Anak Remaja Mudah Tertrigger, Ini Cara Memahaminya
Pexels/cottonbro studio
Intinya Sih
  • Remaja mudah terpicu karena otak emosinya berkembang lebih cepat dari logika, membuat mereka sulit mengendalikan reaksi dan membutuhkan ketenangan dari Mama dan Papa.

  • Tekanan ekspektasi akademik, sosial, dan keluarga sering membuat remaja kewalahan hingga meluapkan emosi sebagai bentuk kelelahan mental yang belum bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.

  • Mama dan Papa disarankan memvalidasi perasaan remaja tanpa menghakimi serta menetapkan batasan tegas namun penuh penghargaan agar tercipta hubungan yang aman dan saling memahami.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah Mama merasa sangat sedih atau justru ikut tersulut emosi ketika menghadapi anak remaja yang mendadak jadi sangat reaktif dan sulit diajak bicara? 

Sering kali, Mama melihat ledakan kemarahan mereka sebagai bentuk pembangkangan, padahal di baliknya ada jeritan minta tolong karena mereka sendiri merasa kewalahan menghadapi badai di dalam dirinya. 

Menjadi sosok yang tetap tenang dan hangat adalah hadiah terbesar yang bisa Mama berikan untuk membantu mereka melewati masa-masa penuh gejolak ini.

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang harus Mama ketahui saat anak remaja mudah tertrigger saat pubertas!

Table of Content

1. Proses perkembangan otak yang belum matang

1. Proses perkembangan otak yang belum matang

Perkembangan otak anak
Pexels/MART PRODUCTION

Pada usia remaja, otak anak sebenarnya sedang berada dalam masa transisi, terutama pada bagian yang mengatur kontrol emosi dan logika. Bagian otak yang merespons emosi dan ancaman berkembang lebih cepat daripada bagian yang berfungsi untuk berpikir jernih dan menahan diri. 

Kondisi inilah yang membuat mereka sangat mudah merasa terpicu atau triggered oleh komentar atau situasi tertentu yang sebenarnya tidak bermaksud menyerang. Mereka merespons dunia dengan perasaan yang sangat intens karena emosi di otak mereka belum sepenuhnya bekerja dengan sempurna. 

Menyadari keterbatasan biologis ini sangat penting agar Mama tidak ikut meledak saat menghadapi reaksi mereka yang tinggi.

2. Tekanan ekspektasi yang terasa menghimpit

Anak menunjukkan gambarnya
Pexels/Pavel Danilyuk

Remaja yang sedang dalam masa pubertas hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi yang besar, mulai dari tuntutan akademik di sekolah, standar pertemanan, hingga harapan Mama akan prestasi mereka. 

Ketika beban tersebut menumpuk, mereka sering kali merasa kewalahan dan kehilangan arah untuk menyalurkan rasa stresnya. Ledakan emosi yang mereka tunjukkan sering kali adalah luapan dari rasa lelah akibat mencoba memenuhi semua ekspektasi tersebut setiap harinya. 

Mereka sedang berjuang keras untuk membuktikan diri namun di sisi lain merasa kapasitas mereka sangat terbatas untuk memikul semuanya sekaligus. Memahami bahwa mereka sedang merasa "tercekik" oleh tuntutan hidup akan membantu Mama untuk memberikan ruang napas yang mereka butuhkan.

3. Kesulitan menemukan kata yang tepat untuk perasaan

Anak tidak bisa bercerita pada Mama dan Papa
Pexels/Gustavo Fring

Meskipun kosa kata mereka sudah luas, remaja sering kali tetap mengalami kesulitan besar dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi yang kompleks. 

Mereka mungkin merasa cemas, malu, atau kesepian, namun semua perasaan tersebut hanya keluar dalam satu bentuk reaksi saja, yaitu kemarahan. Karena mereka tidak tahu cara mengomunikasikan rasa sakitnya secara verbal, mereka menjadi mudah tertrigger dan meledak secara fisik atau nada bicara. 

Mama bisa membantu mereka dengan tidak langsung membalas kemarahannya, melainkan membantu mereka menamai apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan di balik amarah tersebut. Kemampuan untuk membahasakan emosi adalah kunci utama agar mereka tidak lagi mudah meledak tanpa alasan.

4. Ketidaksadaran remaja atas ucapan saat emosi

Anak remaja perempuan setelah marah dengan Mama
Pexels/RDNE Stock Project

Satu hal yang sering menyakitkan hati Mama dan Papa adalah kata-kata kasar atau nada bicara yang tinggi dari remaja saat mereka sedang marah. Padahal, saat sedang merasa terpicu, remaja sering kali tidak benar-benar sadar dengan apa yang mereka katakan atau dampak dari ucapannya tersebut. 

Mereka masuk ke dalam mode survival di mana emosi mengambil alih seluruh kendali pembicaraan dan logika mereka seolah tertutup rapat. Begitu badai emosinya mereda, tak jarang mereka justru merasa menyesal namun terlalu malu untuk mengakuinya. 

Mengetahui bahwa ucapan mereka bukanlah representasi dari perasaan mereka yang sebenarnya akan membantu Mama untuk tidak menyimpan dendam atas ledakan mereka.

5. Dampak dari perasaan kesepian

Anak remaja laki-laki yang kesepian
Pexels/Hoang Tien Anh

Di era koneksi internet yang tanpa batas, banyak remaja yang justru merasa sangat kesepian dan tidak benar-benar dipahami oleh siapa pun. 

Perasaan terisolasi secara emosional ini membuat mereka menjadi lebih sensitif dan mudah merasa tersinggung oleh hal-hal yang remeh. Mereka mungkin merasa bahwa tidak ada yang peduli dengan perjuangan mereka, sehingga setiap interaksi terasa seperti ancaman atau beban tambahan. 

Saat mereka tertrigger, itu sering kali merupakan cara mereka untuk mendapatkan perhatian atau sekadar mengetes apakah Mama masih peduli pada mereka. Kehadiran Mama yang tulus dan mendalam bisa membantu mengisi kekosongan emosional yang sering mereka rasakan tersebut. 

6. Pentingnya validasi perasaan tanpa anggapan berlebihan

Anak bercerita pada Mama tentang harinya
Pexels/PNW Production

Langkah pertama saat remaja merasa tertrigger adalah dengan memvalidasi perasaan mereka tanpa memberikan label "lebay" atau berlebihan. Meskipun masalah yang mereka hadapi terlihat kecil di mata Mama, perasaan sedih atau marah yang mereka rasakan adalah nyata dan sangat intens bagi mereka. 

Dengan mengakui bahwa perasaan mereka valid, Mama sedang meruntuhkan tembok pertahanan mereka dan membangun jembatan kepercayaan yang kuat. Validasi tidak berarti Mama setuju dengan perilakunya, tetapi Mama setuju bahwa perasaan yang ia alami memang sedang menyakitkan. 

Begitu mereka merasa didengar dan dimengerti, biasanya tensi emosinya akan menurun dengan sendirinya tanpa perlu banyak kata.

7. Membangun batasan tegas namun tetap menghargai

Mama memeluk anak
Pexels/Any Lane

Menjadi figur yang tenang bukan berarti Mama membiarkan remaja bersikap semena-mena atau melewati batas kesopanan yang berlaku. Mama tetap perlu membuat batasan yang jelas tentang perilaku apa yang bisa diterima dan apa yang tidak, namun sampaikanlah batasan tersebut dengan cara yang tetap menghargai mereka. 

Katakan dengan tegas bahwa Mama bersedia mendengarkan saat mereka sudah bisa bicara dengan nada yang lebih tenang. Batasan ini justru membantu remaja merasa aman karena mereka tahu ada aturan yang melindungi semua orang di dalam rumah. 

Intinya, Ma, menghadapi remaja memang membutuhkan keluasan hati yang luar biasa. Menurut Mama, mana yang paling sulit dilakukan saat anak Mama mulai "meledak", tetap tenang atau tidak terpancing untuk membalas ucapannya?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More