- Mengubah cerita
- Menyalahkan tanpa alasan jelas
- Membuatnya merasa ragu terus-menerus
7 Cara Menghadapi Teman yang Suka Memutarbalikkan Fakta

- Artikel membahas fenomena gaslighting pada pertemanan anak dan remaja, di mana seseorang memutarbalikkan fakta hingga membuat orang lain meragukan ingatan serta perasaannya sendiri.
- Psikolog klinis Ayank Irma menjelaskan pentingnya membantu anak tetap tenang, percaya pada diri sendiri, dan mengenali pola perilaku teman yang manipulatif agar tidak mudah terjebak.
- Ditekankan pula pentingnya mencatat kejadian, menjaga jarak emosional, serta mencari dukungan dari orang terpercaya untuk menjaga kesehatan mental dan hubungan sosial anak.
“Kok jadi aku yang disalahkan, ya?”
Situasi seperti ini cukup sering dialami anak-anak dan remaja, terutama saat sedang berkonflik dengan teman. Awalnya mungkin cuma beda cerita, tapi lama-lama anak jadi ragu dengan ingatannya sendiri, bahkan merasa bersalah tanpa tahu pasti kenapa.
Sebagai orangtua, penting untuk membantu anak memahami bahwa tidak semua perbedaan cerita itu wajar. Ada kondisi di mana seseorang sengaja mengubah fakta hingga membuat orang lain bingung.
Menurut psikolog klinis Ayank Irma, hal ini dikenal sebagai gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang mempertanyakan ingatan, perasaan, dan logikanya sendiri.
Supaya anak tidak terjebak dalam situasi seperti ini, berikut Popmama.com rangkum 7 cara yang bisa dilakukan.
1. Tetap tenang dan tidak mudah terpancing

Saat dihadapkan pada situasi yang membingungkan, anak mungkin langsung bereaksi emosional. Padahal, justru itu yang sering dimanfaatkan.
Ajak anak untuk tetap tenang dan fokus pada apa yang benar-benar terjadi. Sikap ini membantu mereka tetap berpikir jernih.
2. Hindari debat yang berputar-putar

Orang yang suka memutarbalikkan fakta biasanya akan membuat percakapan jadi melebar dan tidak jelas ujungnya.
Ajarkan anak bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan. Kalau diskusi sudah tidak sehat, lebih baik berhenti.
3. Percaya pada ingatan dan perasaan sendiri

Saat anak mulai berkata, “Aku salah ya?” atau “Aku terlalu berlebihan nggak, sih?”, itu tanda mereka mulai ragu pada diri sendiri.
Bantu anak untuk berani percaya pada apa yang mereka alami. Validasi diri adalah langkah penting agar tidak mudah dimanipulasi.
4. Biasakan mencatat kejadian

Jika situasi ini sering terjadi, anak bisa diajak untuk mengingat atau bahkan mencatat kronologi kejadian.
Ini membantu mereka tetap punya gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi, tanpa terpengaruh cerita yang berubah-ubah.
5. Jaga jarak secara emosional

Tidak semua teman harus dekat secara emosional.
Jika ada teman yang sering membuat anak merasa lelah atau bingung, tidak apa-apa untuk mengurangi interaksi dan menjaga batasan.
6. Kenali pola perilakunya

Ajak anak untuk memperhatikan, apakah temannya sering:
Kalau iya, ini bisa jadi tanda hubungan yang kurang sehat.
7. Cari dukungan dari orang yang dipercaya

Anak perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Dorong mereka untuk bercerita ke orangtua, guru, atau teman yang dipercaya. Dukungan ini penting untuk membantu mereka melihat situasi dengan lebih objektif.
Sebagai orangtua, peran Mama bukan hanya menenangkan, tapi juga membantu anak memahami apa yang sedang terjadi. Dengan komunikasi yang terbuka, anak akan lebih berani bercerita dan tidak mudah terjebak dalam hubungan yang membuatnya ragu pada diri sendiri.
Hubungan yang sehat seharusnya membuat anak merasa aman dan dihargai, bukan justru bingung dan terus menyalahkan diri sendiri.


















