Instagram.com/sadampermana.w
Menghadapi rentetan dampak buruk yang kian meresahkan di atas, gelombang perlawanan dan kritik tajam akhirnya datang dari para pembuat konten edukasi dan aktivis.
Kreator edukasi sekaligus alumni Fakultas Hukum UI, Sadam Permana, menggunakan pengaruh digitalnya untuk memberikan tamparan keras kepada kreator yang tidak bijak.
"Semakin sering konten-konten ini dibuat, dan makin orang merasa ini lelucon, semakin dinormalisasi tindakan yang salah kayak gini," ujarnya di salah satu postingan Instagram pribadinya, @sadampermana.w.
Sadam menegaskan sebuah batasan etika baru di Indonesia bahwa keterbatasan fisik maupun mental manusia tidak akan pernah bisa ditoleransi sebagai komoditas candaan demi meraih keuntungan views semata.
Selain itu, Adam Prabata seorang Ph. D. in medical sciences Kobe University juga membagikan pandangannya di akun Thread pribadinya, @adamprabata.
“Video kaya begini termasuk ke dalam ableism yang merupakan bentuk prasanka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Hitungannya sudah MERENDAHKAN mereka!
Hal-hal kaya begini yang dinormalisasi, apalagi dijadikan konten hiburan, hitungannya GAK LUCU!,” tegasnya.
Melalui pemahaman mendalam mengenai deretan dampak buruk di atas, kita sebagai pengguna media sosial harus lebih bijak dan selektif lagi dalam mengonsumsi maupun membagikan konten.
Berhenti memberikan panggung bagi para kreator yang hobi mengeksploitasi keterbatasan fisik sesama manusia demi popularitas semata!