Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Tanda Anak Sedang Menjadi Korban Grooming, Orangtua Perlu Waspada
Pexels/ronlach
  • Grooming adalah proses manipulatif di mana pelaku membangun kepercayaan anak secara perlahan untuk mengontrol atau mengeksploitasi mereka, sering kali melalui media sosial dan platform digital.
  • Tanda-tanda grooming meliputi anak diminta menyimpan rahasia, menjadi tertutup soal aktivitas online, menerima hadiah mencurigakan, hingga menunjukkan perubahan emosi dan perilaku drastis.
  • Orangtua disarankan membangun komunikasi terbuka agar anak berani bercerita serta memahami hak untuk menolak situasi yang membuatnya tidak nyaman, baik di dunia nyata maupun digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di era digital yang semakin maju, ancaman terhadap anak tidak selalu datang dari orang asing yang ditemui secara langsung. Banyak pelaku grooming justru membangun kedekatan dengan anak melalui media sosial, game online, hingga aplikasi chat.

Grooming adalah proses ketika seseorang berusaha mendapatkan kepercayaan anak secara bertahap untuk memanipulasi, mengontrol, atau mengeksploitasi mereka. Karena prosesnya sering terjadi perlahan, banyak anak tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi target.

Itulah mengapa penting bagi Mama dan Papa untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini serta mengajarkan anak cara melindungi dirinya sendiri.

Berikut Popmama.com rangkum 7 Tanda Anak Mungkin Sedang Mengalami Grooming.

1. Ada orang yang meminta anak merahasiakan sesuatu dari orangtua

Pexels/ronlach

Salah satu tanda grooming yang paling umum adalah ketika seseorang meminta anak menyimpan rahasia dari orang-orang terdekatnya.

Misalnya dengan mengatakan, “Jangan bilang Mama ya,” atau “Ini rahasia kita berdua.”

Mama perlu mengajarkan bahwa orang dewasa yang baik tidak akan meminta anak menyembunyikan sesuatu dari orangtua atau pengasuh yang dipercaya.

2. Anak mulai sangat tertutup soal aktivitas online-nya

Pexels/ronlach

Perhatikan jika anak yang biasanya terbuka tiba-tiba menjadi sangat menjaga privasi saat menggunakan ponsel atau laptop.

Misalnya langsung menutup layar ketika orangtua mendekat, menghapus percakapan secara rutin, atau enggan bercerita tentang teman online yang baru dikenalnya.

Perubahan ini tidak selalu berarti anak sedang mengalami grooming, tetapi tetap perlu menjadi perhatian.

3. Terlihat terus-menerus menunggu pesan dari seseorang

Pexels/ronlach

Anak yang menjadi target grooming sering kali membangun hubungan emosional yang intens dengan pelaku.

Akibatnya, mereka bisa terlihat terus memeriksa notifikasi, sulit lepas dari ponsel, atau tampak cemas ketika tidak menerima pesan dari orang tertentu.

Jika perilaku ini muncul secara tiba-tiba, cobalah mengajak anak berbicara dengan tenang tanpa menghakimi.

4. Mulai menggunakan istilah atau bahasa seksual yang tidak sesuai usianya

Pexels/ronlach

Mama dan Papa juga perlu memperhatikan jika anak tiba-tiba menggunakan kata-kata, istilah, atau pembahasan seksual yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui.

Hal ini bisa menjadi tanda bahwa anak terpapar percakapan yang tidak sesuai usianya, baik melalui internet maupun seseorang yang berinteraksi dengannya secara langsung.

Daripada langsung memarahi, cobalah mencari tahu dari mana anak mendapatkan informasi tersebut.

5. Mendapat hadiah atau uang tanpa alasan yang jelas

Pexels/ronlach

Pelaku grooming sering menggunakan hadiah, uang, voucher game, atau berbagai bentuk perhatian lainnya untuk mendapatkan kepercayaan anak.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui asal-usul barang atau hadiah yang diterima anak, terutama jika anak tidak bisa menjelaskan dengan jelas dari siapa pemberian tersebut.

Ajarkan anak bahwa mereka tidak perlu menerima hadiah dari orang yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

6. Perubahan emosi dan perilaku yang cukup drastis

Pexels/ronlach

Anak yang sedang mengalami grooming bisa menunjukkan perubahan perilaku tertentu, seperti lebih mudah marah, cemas, murung, menarik diri dari keluarga, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya mereka sukai.

Perubahan ini sering terjadi karena anak merasa bingung, takut, atau tertekan dengan situasi yang sedang dialaminya.

Jika Mama melihat perubahan yang berlangsung cukup lama, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

7. Anak belum memahami bahwa mereka berhak mengatakan “tidak”

Pexels/ronlach

Salah satu cara terbaik melindungi anak dari grooming adalah mengajarkan konsep batasan diri sejak dini.

Bantu anak memahami bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” ketika ada seseorang yang membuat mereka tidak nyaman, baik melalui perkataan, permintaan, sentuhan, maupun percakapan online.

Pastikan anak tahu bahwa mereka selalu boleh bercerita kepada Mama atau Papa tanpa takut dimarahi.

Selain mengenali tanda-tandanya, yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi yang terbuka di rumah.

Mama bisa mengajarkan satu aturan sederhana: jika ada orang yang meminta mereka menyimpan rahasia dari orangtua, membuat mereka takut, atau membuat mereka merasa tidak nyaman, mereka harus segera bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya.

Dengan bekal komunikasi yang baik dan pengawasan yang sehat, anak akan lebih siap mengenali situasi berbahaya dan melindungi dirinya sendiri, baik di dunia nyata maupun dunia digital. 

Editorial Team

Related Article