Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Review Toy Story 5: iPad Kids dan Mimpi Buruk Orangtua Milenial

Review Toy Story 5: iPad Kids dan Mimpi Buruk Orangtua Milenial
imdb.com
Intinya Sih
  • Toy Story 5 menyoroti Jessie dan tantangan baru dunia mainan menghadapi Lilypad, tablet pintar yang menggantikan peran teman bermain anak di era digital.
  • Film ini menggambarkan dilema orangtua milenial dan Gen Z dalam mengasuh anak di tengah dominasi teknologi, antara kekhawatiran risiko internet dan tekanan sosial agar anak tetap diterima.
  • Melalui kisah Bonnie, film ini menyoroti dampak gawai terhadap emosi, interaksi sosial, serta hubungan orangtua-anak, sekaligus mengingatkan pentingnya koneksi manusiawi di tengah kemajuan teknologi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Siapa yang masih ingat petualangan Woody dan Buzz yang menemani masa kecil Andy dan tentunya para orangtua milenial nih? Cerita dan petualangan Toy Story kini sudah tiga dekade lho di mana tahun 2026 ini ditandai dengan meluncurnya film Toy Story 5 di bioskop Indonesia mulai 17 Juni 2026. 

Namun, kali ini ceritanya bukan sekadar tentang petualangan mainan di dalam kamar melainkan sebuah refleksi mendalam bagi fenomena orangtua milenial dengan anak gen Alpha yang melek gawai. 

Film ini terasa sangat personal bagi orangtua milenial dan Gen Z, karena mengangkat isu yang setiap hari kita hadapi: "iPad Kids" dan dominasi teknologi dalam kehidupan anak-anak saat ini. Apakah ini ancaman? Atau sekedar ketakutan dan mimpi buruk orangtua semata?

Berikut Popmama.com rangkum review film Toy Story 5 yang relate banget!

1. Fokus cerita Toy Story 5: Jessie dan ancaman layar sentuh

toy story 5
imdb.com

Jika sebelumnya Woody dan Buzz selalu menjadi pusat perhatian, di seri kelima ini fokus cerita bergeser ke Jessie. Bonnie kini telah tumbuh menjadi anak berusia 8 tahun yang pemalu dan kesulitan menjalin pertemanan di dunia nyata.

Situasi ini terasa sangat relevan dengan anak-anak yang tumbuh di era teknologi digital yang serba cepat. Dengan semakin mudahnya interaksi di dunia maya, anak-anak perlahan bisa kehilangan kedalaman emosi dan pengalaman sosial saat berhubungan langsung dengan teman sebaya.

Di film ini, ketakutan terbesar Jessie bukan lagi soal ditinggalkan karena Bonnie tumbuh dewasa melainkan tergantikan oleh gawai. Musuh utama para mainan hadir dalam bentuk Lilypad, sebuah tablet pintar yang diberikan orangtua Bonnie agar ia bisa bermain gim daring bersama teman-temannya. 

Lilypad bukan sekadar alat, tetapi simbol tantangan baru di era digital bagi dunia mainan dan masa kecil anak-anak.

2. Toy Story 5 jadi gambaran bagaimana parenting orangtua Milenial dan Gen Z

toy story 5
imdb.com

Film ini secara berani menggambarkan dilema orangtua Bonnie yang mungkin juga orangtua di Indonesia rasakan. Di satu sisi, mereka khawatir akan risiko penyalahgunaan internet, tetapi di sisi lain mereka takut Bonnie menjadi "anak yang terkucilkan" jika tidak memiliki gawai.

Bagi orangtua milenial dan Gen Z, tantangan parenting memang jauh lebih kompleks. Kita seringkali terjebak dalam fenomena digital babysitter yang gawai menjadi solusi praktis untuk menenangkan anak di tengah kesibukan atau saat berada di tempat umum. 

Padahal, riset dari We, The Family: How Gen Z Is Rewriting the Rules of Parenting tahun 2021 menunjukkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan pada balita berkaitan erat dengan masalah perilaku dan emosi saat mereka mulai sekolah nanti.

3. Melihat dampak gawai dan fenomena "iPad Kids" Gen Alpha

toy story 5
imdb.com

Melalui karakter Bonnie, orangtua seolah diingatkan tentang apa yang hilang ketika anak terlalu asyik dengan layarnya. Film ini menyentuh isu technoference, yaitu interaksi orangtua-anak yang terganggu karena distraksi teknologi.

Distraksi ini juga bisa menghilangkan kedalaman rasa dan kedekatan emosional anak kepada teman-temannya. Terbukti di final act film Toy Story 5 dimana grup yang dianggap Bonnie ‘teman’ justru tidak memahami kesukaannya.

Dari Toy Story 5 bisa dilihat ada beberapa poin penting yang disinggung secara implisit dalam film ini mengenai dampak layar pada anak antara lain:

  • Siklus dopamin, anak merasa senang saat bermain game di tablet, namun menjadi sangat mudah marah (tantrum) saat gawai tersebut harus dimatikan
  • Kecerdasan sosial, terlalu banyak menatap layar dapat mengurangi kemampuan anak membaca ekspresi wajah dan isyarat sosial di dunia nyata
  • Gangguan tidur, cahaya biru dari layar seperti Lilypad dapat menghambat produksi melatonin, membuat si Kecil sulit tidur nyenyak

4. Meski cerah dan haru, Toy Story 5 bisa jadi "horor" bagi orangtua

toy story 5
imdb.com

Film ini memang bukan berbicara mengenai seramnya monster atau hantu. Namun, ‘horor’ yang dimaksud justru lebih dekat: realita parenting saat ini. Dikutip dari berbagai sumber, beberapa kritikus menyebut film ini sebagai "film horor paling traumatis bagi orangtua" tahun ini.

Mengapa? Karena film ini seolah "menyerang" sisi emosional orangtua yang sering merasa bersalah dan tidak cukup baik dalam mendidik anak di era digital. Namun, untuk yang ingin bernostalgia Toy Story 5 tetap memberikan harapan. 

Melalui usaha Jessie yang pantang menyerah untuk membantu Bonnie kembali terhubung dengan dunia nyata, orangtua diingatkan bahwa koneksi manusiawi tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Ini yang harus dipahami, bagaimanapun teknologi canggih tidak ada yang membuatnya lebih menjadi manusia dibandingkan manusia itu sendiri. Koneksi yang tulus tetap menjadi barrier hubungan yang sehat.

Film ini bukan tontonan untuk melarang anak main iPad, tapi sebuah ajakan bagi para orangtua menjalin koneksi yang sehat sesama manusia.

Wajib ditonton bersama keluarga, tapi siapkan tisu ya, Ma! Karena selain ceritanya yang menyentuh, melodi ikonik dari Randy Newman akan membawa kita kembali ke kenangan masa lalu yang emosional.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More