DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp. A, Subsp. Kardio (K), Ketua Pengurus Pusat IDAI
Dr. dr. Ariani, Sp. A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, Anggota UKK Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI
Waspada Child Grooming, Anak Sering Jadi Target

Child grooming adalah proses manipulatif yang membuat anak kehilangan batasan dan rentan terhadap eksploitasi seksual, sering dilakukan oleh orang terdekat maupun melalui dunia digital.
Data KPAI dan LPSK menunjukkan peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak, menegaskan bahwa kelompok usia ini masih paling rentan dan membutuhkan perlindungan serta pendampingan intensif.
Pencegahan child grooming menekankan pentingnya komunikasi terbuka, edukasi tentang batas tubuh, serta pengawasan aktivitas digital agar anak merasa aman dan berani melapor jika ada tanda bahaya.
Kasus child grooming kembali menjadi perhatian publik dan kerap muncul di berbagai media sosial. Meski sebagian kasus sebenarnya sudah lama terjadi, praktik ini sering kali tidak terlihat karena berlangsung secara tersembunyi dan bertahap.
Ancaman ini tidak hanya terjadi di dunia digital, tetapi juga bisa datang dari lingkungan terdekat anak, termasuk orang yang dikenal dan dipercaya keluarga. Hal inilah yang membuat child grooming menjadi salah satu bentuk kekerasan seksual anak yang sulit dikenali sejak awal.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengadakan media briefing pada Senin (31/03/2026) dengan tema “Mengenali Child Grooming”. Adapun narasumber dalam kegiatan ini adalah:
Berikut Popmama.com rangkum kasus child grooming yang perlu Mama waspadai.
Table of Content
1. Child grooming jadi awal kekerasan seksual anak

Child grooming merupakan proses manipulatif yang dilakukan terhadap anak di bawah usia 18 tahun untuk membangun kedekatan emosional secara bertahap. Tujuannya bukan sekadar menjalin hubungan, tetapi untuk mendapatkan kepercayaan anak hingga membuka peluang terjadinya eksploitasi seksual.
Proses ini berlangsung perlahan, tidak instan, dan sering kali dirancang dengan sangat rapi. Pelaku memanfaatkan ketidaktahuan anak, sehingga korban tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Inilah yang membuat banyak kasus grooming tidak dilaporkan.
“Namanya anak-anak, bisa jadi mereka tidak sadar bahwa ini adalah suatu manipulasi, apalagi ketika orangtuanya tidak memberi perhatian atau kasih sayang yang cukup,” ujar Dr Piprim.
Ia juga menggambarkan bagaimana perhatian kecil bisa menjadi celah terjadinya child grooming.
“Ada orang asing yang memberi perhatian, kemudian jadi ke-GR-an dan jadi salah tingkah. Masuklah child grooming dari orang-orang jahat itu,”
Sementara itu, dr. Ariani menegaskan bahwa grooming memang dlakukan untuk merusak batasan anak.
“Tujuannya agar anak tidak tahu batasan normal, yang tidak boleh jadi diperbolehkan sehingga membuka pintu eksploitasi”
2. Data kekerasan seksual anak meningkat

Kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan child grooming. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban anak masih mendominasi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Berdasarkan laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 2.063 anak menjadi korban kekerasan. Angka ini menunjukkan bahwa anak masih berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi secara tersembunyi seperti grooming.
Tidak hanya itu, data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga memperkuat kondisi ini. Dari total 13.027 permohonan yang masuk sepanjang tahun 2025, terdapat 1.776 permohonan terkait Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Dari jumlah tersebut, korban anak mencapai 1.464, sementara korban dewasa sebanyak 312.
Jika dilihat lebih dalam, jumlah layanan yang diakses juga menunjukkan dominasi anak sebagai korban.
“Berdasarkan data LPSK tadi 3.019 layanan, itu diakses hampir 2/3 nya anak anak. Sebanyak 2.448 yang mengakses. Terdiri dari pemenuhan hak prosedural dan bantuan rehabilitasi psikologis sebanyak 657,” ungkap dr. Ariani.
Angka ini menegaskan bahwa kebutuhan perlindungan dan pendampingan terhadap anak masih sangat tinggi, baik dari sisi hukum maupun pemulihan psikologis.
Lebih lanjut, dr. Ariani juga menjelaskan bahwa kondisi ini juga memperlihatkan perbandingan yang cukup mencolok antara korban anak dan dewasa.
“Persentase anak masih lebih besar ya daripada dewasa. Jadi memang secara bukti, anak masih menjadi kelompok yang paling rentan dalam kejahatan kekerasan seksual”
3. Grooming bisa terjadi di mana saja

Child grooming dapat terjadi dalam berbagai situasi dan tidak terbatas pada satu lingkungan saja. Seiring perkembangan teknologi, pola grooming menjadi semakin kompleks dan sulit dideteksi. Grooming dapat terjadi dalam beberapa bentuk:
Online grooming, melalui media sosial, game, atau chat dengan identitas palsu
Offline grooming, dilakukan oleh orang terdekat seperti keluarga, guru, tetangga, atau pelatih
Hybrid grooming, dimulai dari interaksi online lalu berlanjut ke pertemuan langsung
Pelaku bisa berasal dari siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa maupun anak yang lebih besar. Bahkan, pelaku juga bisa berasal dari lingkungan yang dianggap aman seperti tempat ibadah, sekolah, atau komunitas.
Dalam pendekatan langsung, pelaku biasanya berusaha mengenal anak dan keluarganya terlebih dahulu, lalu menawarkan bantuan atau mengajak aktivitas bersama.
Sementara dalam dunia digital, pelaku sering berpura-pura menjadi teman sebaya atau figur tertentu untuk membangun kedekatan.
4. Tahapan child grooming yang perlu dikenali

Child grooming terjadi melalui tahapan yang sistematis dan terencana. Proses ini tidak langsung mengarah pada eksploitasi, tetapi dimulai dari hal yang terlihat normal.
“Child grooming ini adalah suatu manipulasi psikologis yang terencana dan sistematis,” ujar Dr Piprim
Adapun tahapan grooming meliputi:
1. Targeting the child (menentukan target)
Pada tahap awal, pelaku akan memilih anak yang dianggap lebih mudah didekati atau memiliki kerentanan tertentu. Misalnya anak yang merasa kesepian, kurang percaya diri, berasal dari keluarga yang tidak stabil, atau jarang mendapatkan pendampingan orangtua di rumah.
Namun, tidak menutup kemungkinan anak dengan kondisi “baik-baik saja” juga bisa menjadi target. Hal ini karena kebutuhan akan pengakuan, ingin dipuji, atau ingin diperhatikan juga bisa dimanfaatkan oleh pelaku.
2. Gaining trust (membangun kepercayaan)
Setelah menentukan target, pelaku mulai membangun kepercayaan, tidak hanya kepada anak tetapi juga kepada orangtua dan lingkungan sekitarnya.
Pelaku biasanya mengumpulkan informasi tentang anak, memahami kebiasaan, kesukaan, hingga kondisi keluarga. Dari situ, pelaku berusaha mengambil hati anak dengan sikap yang terlihat baik.
Dalam tahap ini, pelaku juga mulai mengenalkan konsep “rahasia”, sehingga anak perlahan terbiasa menyimpan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua.
3. Fulfilling a need (memenuhi kebutuhan anak)
Setelah hubungan mulai terbangun, pelaku akan memberikan berbagai bentuk perhatian atau hal-hal yang menyenangkan. Bisa berupa hadiah, perhatian emosional, atau sekadar komunikasi intens. Contohnya seperti pertanyaan sederhana, misalnya “sudah makan belum?” atau “kamu mau apa?”
Hal-hal kecil ini membuat anak merasa diperhatikan dan dianggap penting. Dari sini, anak mulai memiliki ketergantungan emosional terhadap pelaku.
4. Isolation (mengisolasi anak)
Pada tahap ini, pelaku mulai membentuk pengaruh yang lebih kuat terhadap anak. Grooming diibaratkan seperti “didandani”, di mana pelaku perlahan menyetir cara berpikir anak.
Pelaku bisa menawarkan bantuan seperti mengantar ke les atau menemani aktivitas, sehingga kehadirannya menjadi semakin dominan dalam kehidupan anak.
Selain itu, pelaku juga mulai menanamkan doktrin seperti “aku baik dan sayang sama kamu”
Hal ini membuat anak merasa pelaku adalah sosok yang paling memahami dirinya, sehingga jarak dengan orang lain semakin terbentuk.
5. Sexualizing the relationship (menormalisasi perilaku seksual)
Tahap ini menjadi titik penting, di mana pelaku mulai mengubah batasan hubungan. Awalnya mungkin hanya berupa sentuhan ringan, seperti memegang tangan.
Anak biasanya merasa tidak nyaman di awal, tetapi pelaku akan memanipulasi dengan mengatakan bahwa hal tersebut adalah bentuk kasih sayang orang dewasa.
Anak kemudian didoktrin bahwa perilaku tersebut adalah normal, sehingga perlahan batasan anak menjadi kabur dan hubungan mengarah ke hal yang lebih seksual.
6. Maintaining control (mengendalikan dan menjaga hubungan)
Setelah anak berada dalam kendali, pelaku akan memastikan hubungan tersebut tetap berjalan dan tidak terbongkar. Kontrol ini bisa dilakukan melalui:
Ancaman, seperti menyebarkan foto atau video
Manipulasi perasaan, seperti membuat anak merasa bersalah
Memberikan kenyamanan kembali agar anak tidak menjauh
Pelaku juga bisa mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah keinginan anak, sehingga korban merasa tidak punya pilihan dan sulit keluar dari situasi tersebut.
5. Faktor anak lebih rentan jadi korban

Meskipun semua anak berpotensi menjadi korban, terdapat beberapa faktor yang meningkatkan kerentanan. Terdapat 3 faktor yang menjadi risiko anak terkena child grooming. Di antaranya adalah:
Dari sisi individu, anak dengan rasa percaya diri rendah, paparan konten seksual sejak dini, kebutuhan afeksi yang tinggi, serta anak dengan disabilitas cenderung memiliki kerentanan lebih besar terhadap child grooming. Kondisi-kondisi ini membuat anak lebih mudah mencari validasi, perhatian, atau penerimaan dari luar, yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh pelaku.
Dari sisi keluarga, kurangnya perhatian orangtua, adanya konflik dalam rumah tangga, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat menciptakan celah emosional pada anak. Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi, anak lebih rentan merasa kesepian dan mencari kenyamanan dari orang lain di luar lingkungan keluarga.
Dari sisi sosial, akses internet yang luas tanpa pengawasan serta kondisi anak yang terisolasi secara sosial juga menjadi faktor yang memperbesar risiko. Anak yang banyak menghabiskan waktu sendiri, terutama di dunia digital, lebih berpotensi terpapar interaksi dengan pihak yang tidak dikenal tanpa adanya kontrol yang memadai.
6. Ciri-ciri anak mengalami grooming

Perubahan perilaku pada anak sering menjadi tanda awal yang perlu diperhatikan. Namun, perubahan ini kerap dianggap sebagai hal biasa.
“Apapun sikap yang berubah pada anak, kita harus curiga. Kalau ada sesuatu yang terjadi, harus aware,” ujar dr. Ariani.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
Lebih sering membicarakan orang dewasa atau ingin bertemu mereka
Menjalin hubungan dengan orang yang jauh lebih tua
Bolos sekolah atau kegiatan
Menarik diri dari lingkungan sosial
Lebih sering menyendiri di kamar
Memiliki barang baru tanpa penjelasan
Berhenti berbagi cerita
Selain ciri-ciri di atas, ada juga ciri tambahan yang perlu Mama sadari:
Mendapat hadiah dari orang dewasa
Tiba-tiba memiliki uang atau barang mahal
Komunikasi intens dengan orang asing
7. Karakteristik pelaku dan korban grooming

Pelaku grooming biasanya memiliki pola tertentu dalam mendekati korban. Mereka berusaha membangun kepercayaan dari anak dan lingkungan sekitar. Berikut ini adalah beberapa karakteristik pelaku grooming:
Terlihat ramah dan suka membantu
Dekat dan lebih nyaman berbaur dengan anak
Memberikan perhatian dan hadiah mewah pada anak
Memanfaatkan posisi atau reputasi untuk memanipulasi anak dan orangtua
Menyamar sebagai teman sebaya atau idola anak di dunia digital
Sementara itu, karakteristik korban grooming adalah:
Anak usia sekolah hingga remaja
Rentan secara emosional
Kebutuhan afeksi tinggi
Kurang mendapat perhatian
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai mengarahkan korban pada perilaku yang tidak wajar, baik secara langsung maupun digital.
8. Dampak child grooming bagi anak

Child grooming dapat memberikan dampak yang serius terhadap kondisi psikologis anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Dampak jangka pendek grooming meliputi:
Kecemasan
Gangguan tidur
Perubahan perilaku
Sedangkan dampak jangka panjang grooming meliputi:
PTSD
Depresi dan anxiety
Kesulitan membangun hubungan sehat
Penurunan performa akademik
Menarik diri dari lingkungan sosial
Perilaku menyakiti diri sendiri
Dampak ini dapat berlangsung panjang jika tidak ditangani dengan tepat. Untuk itu, kedekatan emosional sangat ditekankan untuk mencegah terjadinya grooming.
“Jadikan anak-anak sebagai teman untuk diskusi, sahabat. Apalagi yang sudah remaja. Jangan sampai anak-anak itu haus akan kasih sayang sehingga mudah dimanipulasi oleh orang orang yang pura-pura mendukung dan perhatian padahal memiliki maksud jahat di balik itu,” tegas Dr Piprim.
9. Cara mencegah child grooming

Pencegahan menjadi langkah utama untuk melindungi anak dari risiko child grooming. Hal ini tidak hanya bergantung pada pengawasan, tetapi juga pada kualitas hubungan antara orangtua dan anak. Beberapa langkah yang dapat Mama lakukan adalah:
Memberikan edukasi tentang batasan tubuh dan keamanan
Membangun komunikasi terbuka
Memantau aktivitas digital anak
Mengenali lingkungan sosial anak
Meningkatkan kepercayaan diri anak
Pendekatan komunikasi yang tepat menjadi kunci utama.
“Dan juga jangan cepat judging ketika anak-anak menyampaikan curhatnya sehingga anak tidak ragu-ragu ketika ada masalah atau ada orang asing yang mendekat dan sebagainya,” ujar Dr Piprim.
Penting juga untuk membangun pola komunikasi yang nyaman bagi anak.
“Pelajari pola komunikasi yang baik dengan anak-anak kita, jadilah pendengar yang baik untuk anak kita. Jangan jadi orangtua yang nyebelin. Kalo jadi orangtua yang nyebelin, bagaimana bisa anak kita ngejelasin dengan nyaman kepada bapak ibunya?,” lanjut Dr Piprim.
Child grooming merupakan ancaman nyata yang dapat terjadi di mana saja, termasuk dari lingkungan yang selama ini dianggap aman. Prosesnya yang bertahap membuat anak sering tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Peran orangtua menjadi sangat penting, bukan hanya dalam mengawasi, tetapi juga membangun kedekatan emosional dan komunikasi yang terbuka. Dengan lingkungan yang aman dan suportif, anak akan lebih berani bicara dan tidak mudah terjebak dalam manipulasi.
Sudahkah Mama benar-benar mengenali lingkungan dan orang-orang yang dekat dengan anak sehari-hari?


















