Paparan abu vulkanik perlu menjadi perhatian orangtua, terutama karena anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampaknya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Instagram mengimbau mengenai dampak paparannya ke anak dari bencana erupsi gunung berapi ini.
Dr. dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K) di unggahan IDAI “Anak dan Bencana Erupsi Gunung Berapi" membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan orangtua untuk menjaga kesehatan dan keselamatan anak saat terjadi paparan abu vulkanik.
Selain melindungi anak dari paparan abu, orangtua juga perlu mengajarkan kebiasaan menjaga kebersihan dan keselamatan dengan cara yang sesuai usia. Komunikasi yang tepat penting agar anak memahami apa yang perlu dilakukan tanpa justru merasa semakin takut atau cemas.
Abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikel yang terkandung di dalamnya dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Anak dengan kondisi pernapasan tertentu juga dapat lebih rentan mengalami perburukan gejala.
Di sisi lain, situasi bencana dapat membuat anak merasa takut, cemas, atau stres. Karena itu, komunikasi dengan anak menjadi bagian penting dalam upaya melindungi mereka.
Lantas, bagaimana cara menjelaskan kebersihan dan keselamatan kepada anak saat terjadi paparan abu vulkanik? Berikut Popmama.com rangkum beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua.
