Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Bahaya Polusi Udara untuk Anak yang Perlu Mama Waspadai!
Popmama.com/Syiva Amalia/AI
  • Polusi udara menjadi ancaman global serius dengan 7 juta kematian tiap tahun, termasuk di Indonesia yang menempati posisi kelima penyebab kematian tertinggi.

  • Paparan polusi udara berdampak besar pada anak, mulai dari gangguan perkembangan otak, risiko stunting sejak dalam kandungan, hingga infeksi saluran pernapasan akut seperti pneumonia dan bronkiolitis.

  • Dalam jangka panjang, polusi juga dapat memicu kanker, menghambat fungsi paru-paru, serta memengaruhi kesehatan mental dan perilaku anak akibat peradangan pada otak yang masih berkembang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Polusi udara masih menjadi ancaman kesehatan yang serius tiap tahunnya.

Menurut WHO ada sekitar tujuh juta orang meninggal lebih cepat akibat menghirup polusi udara. Bahkan hampir 99% populasi penduduk di dunia, mendiami wilayah yang rentan polusi udara.

Mengutip dari Kompas, di Indonesia sendiri polusi udara bertengger pada posisi ke-5 sebagai penyebab kematian tertinggi. 

Pencemaran udara dapat berasal dari berbagai sumber, seperti asap kendaraan, limbah pabrik, pembakaran sampah, kebakaran hutan, aktivitas industri, hingga letusan gunung berapi yang melepaskan debu, gas, dan awan panas. Polutan yang berasal dari aktivitas tersebut diantaranya adalah karbondioksida dan sulfur dioksida.

Mengutip dari Kemenkes, gas CO2 atau karbondioksida yang muncul dari aktivitas pembakaran dapat mengurangi oksigen dalam tubuh.

Sedangkan gas SO2 atau sulfur dioksida yang dihasilkan dari kegiatan industri ini dapat menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan seperti pada selaput lendir hidung, tenggorokan, hingga paru-paru.

Sedihnya, anak-anak masuk ke dalam kelompok yang rentan terpapar polusi udara. Hal ini dikarenakan sistem imun dan kekebalan yang belum matang serta saluran pernapasan yang masih berkembang.

Jika anak terus-menerus menghirup udara yang tercemar, efeknya bisa berbahaya untuk pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan perilakunya.

Kali ini sudah Popmama.com rangkum informasi mengenai bahaya polusi udara untuk anak. Disimak ya, Ma!

1. Perkembangan otak menjadi terganggu

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Bahaya polusi udara tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak anak. Mengingat anak masih berada dalam masa pertumbuhan, paparan polusi secara terus-menerus berisiko mengganggu proses perkembangannya.

Mengutip jurnal Skala kesehatan, terdapat beberapa jenis polutan yang diketahui berdampak pada kesehatan otak, diantaranya black carbon (BC) yang berkaitan dengan partikel PM2.5 serta ultrafine particles (UFPs) atau partikel berukuran sangat halus (PM0,1). Karena ukurannya sangat kecil, partikel-partikel tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru, kemudian mengalir bersama darah hingga mencapai otak.

Ketika berhasil menembus otak, polutan yang masuk dapat memicu peradangan dan mengganggu kinerja sel-sel saraf. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko mengikis bagian korteks otak yang berperan dalam proses berpikir, mengingat, dan mengolah informasi.

Akibatnya, anak mengalami penurunan kemampuan belajar, daya ingat, hingga konsentrasi. Bahkan, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa paparan polusi udara turut memengaruhi proses epigenetik, yaitu perubahan cara gen bekerja tanpa mengubah struktur DNA.

Perubahan tersebut dapat mengganggu perkembangan otak dan berdampak pada kemampuan kognitif anak di kemudian hari.

2. Memicu stunting pada anak

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Siapa sangka, polusi udara juga berkaitan dengan risiko stunting pada anak. Namun, dampak ini bukan terjadi ketika anak menghirup udara yang tercemar, melainkan sejak ia masih berada di dalam kandungan.

Selama masa kehamilan, paparan polusi udara yang terus-menerus dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan serta stres oksidatif.

Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi plasenta dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan janin untuk tumbuh dengan optimal.

Menurut laporan WHO, paparan polusi udara selama kehamilan menimbulkan gangguan pada pertumbuhan janin, seperti bayi lahir dengan berat badan rendah dan kelahiran prematur. Kondisi ini meningkatkan risiko stunting pada anak.

Karena itu menjaga kualitas udara yang dihirup selama kehamilan menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.

3. Infeksi saluran pernapasan akut

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Paparan polusi udara seringnya menyerang sistem pernapasan anak.

Hal ini karena saluran napasnya masih berkembang sehingga menjadi lebih sensitif. Partikel halus seperti PM2.5, debu, asap kendaraan, hingga sulfur dioksida dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan pada saluran pernapasan.

Kondisi ini membuat pertahanan alami saluran napas menjadi melemah sehingga virus maupun bakteri lebih mudah menyebabkan infeksi.

Dibuktikan dengan penelitian yang terbit di jurnal Air Quality, Atmosphere & Health bahwa paparan PM2.5 berhubungan dengan meningkatnya risiko acute lower respiratory infections (ALRI), seperti pneumonia dan bronkiolitis, pada anak. Sehingga bila paparan polusi PM2.5 mencapai 10 μg/m³ risiko ALRI menjadi meningkat sebanyak 12 persen.

Akibatnya, anak menjadi lebih mudah mengalami batuk, pilek berkepanjangan, sesak napas, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

Tidak hanya itu, jika paparan polusi terjadi secara terus-menerus dapat memperburuk penyakit asma dan meningkatkan risiko gangguan paru kronis saat anak beranjak dewasa. Karena itu, penting bagi Mama untuk membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk

4. Memicu kanker

Magnific/Freepik

Paparan polusi udara dalam jangka panjang juga berkaitan dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker. Menurut WHO, polusi udara mengandung berbagai zat karsinogen yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh.

Partikel halus yang terhirup dapat menumpuk di paru-paru dan memicu kerusakan sel akibat peradangan yang berlangsung lama. Kerusakan tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker paru, bahkan pada seseorang yang tidak memiliki kebiasaan merokok.

Meskipun kanker akibat polusi udara umumnya baru muncul saat dewasa, paparan pada anak tetap perlu diwaspadai, ya Ma. Sebab semakin lama anak menghirup udara yang tercemar, semakin besar dampaknya terhadap kesehatan di masa mendatang.

5. Menghambat proses belajar anak

Pexels/Cheng Shi Xuen

Polusi udara tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan belajar anak lho Ma. Sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Social Science & Medicine menemukan bahwa paparan polusi udara berkaitan dengan menurunnya kemampuan kognitif anak, terutama setelah anak terpapar secara terus-menerus selama sekitar dua bulan.

Dalam penelitian tersebut, ozon (O₃) menjadi polutan yang berhubungan langsung dengan penurunan kemampuan kognitif, disusul partikel halus PM2.5. Akibatnya, anak menjadi lebih sulit berpikir, mengolah informasi, dan menyelesaikan tugas yang membutuhkan kemampuan bernalar.

Mama perlu tahu bila selama tahun ajaran sekolah berlangsung, anak terus terkena paparan polusi udara. Kemampuan kognitifnya akan terganggu di masa-masa penting untuk anak belajar dan berkembang. Dengan kata lain, bukan karena anak menjadi malas belajar ya Ma, melainkan karena fungsi kognitifnya tidak bekerja seoptimal biasanya akibat dari paparan polusi udara.

6. Mengganggu fungsi paru

Pexels/DS Stories

Paru-paru anak sejatinya akan terus tumbuh sampai usia remaja. Namun, apa jadinya bila saat pertumbuhan itu, anak menerima paparan polusi dalam jumlah besar? Mengutip artikel Popmama.com dr. Darmawan menjelaskan bahwa polusi udara bisa mengakibatkan paru-paru mengalami ketidakseimbangn pada proses perkembangannya.

Masalah ini terjadi karena asupan oksigen ke paru mengalami penurunan sehingga paru didominasi zat-zat polutan dibandingkan dengan oksigen. Kadar oksigen yang berkurang tentuna enghamabt sistem pernapasan dalam tubuh. Akibatnya anak lebih berpotensi terjangkit alergi asma.

Selain karena penurunan oksigen, dr Darmawan turut menyampaikan masalah yang terjadi di saluran respirator. Di mana kadar karbon monoksida yang berlebih mengakibatkan terjadinya pengentalan darah dan inflamasi pada protein. Akibatnya terjadi peradangan pada pembuluh darah yang memicu penyakit kardiovaskular.

7. Memengaruhi kesehatan mental dan perilaku anak

Pexels/Vida Balielo Jr.

Mama mungkin tidak menyangka kalau udara yang dihirup anak setiap hari, dapat memengaruhi kesehatan mentalnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti mulai menemukan bahwa paparan polusi udara tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga perkembangan otak yang berperan dalam mengatur emosi, perhatian, dan perilaku anak.

Dalam jurnal Reviews on Environmental Health ditemukan bahwa paparan PM2.5 dan nitrogen dioksida (NO₂) meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak, termasuk gangguan perhatian dan perubahan perilaku. Peneliti menduga hal ini terjadi karena partikel polusi yang sangat kecil itu mampu memicu peradangan pada otak yang masih berkembang.

Akibatnya, sebagian anak dapat menjadi lebih sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, atau mengalami perubahan perilaku dibandingkan anak yang tidak terpapar polusi. Meski begitu, polusi udara bukanlah satu-satunya penyebab. Faktor genetik, pola asuh, dan lingkungan tempat anak tumbuh juga memiliki peran penting terhadap kesehatan mentalnya.

Meski polusi udara menjadi tantangan yang sulit dihindari, bukan berarti Mama harus merasa khawatir berlebihan. Justru dengan memahami bahaya polusi udara untuk anak, Mama bisa mengambil langkah sederhana untuk mengurangi paparan. Yuk lindungi anak dari bahaya polusi udara!

Curated For You

Editorial Team

Related Article