Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa yang Terjadi pada Tubuh Kalau Panik di Dalam Air?

Apa yang Terjadi pada Tubuh Kalau Panik di Dalam Air?
Pexels/Jordi Clapera Parés
Intinya Sih
  • Saat panik di air, tubuh langsung aktifkan respons fight or flight yang memicu adrenalin, detak jantung cepat, dan napas tak teratur sehingga energi cepat terkuras.
  • Hiperventilasi akibat panik menurunkan kadar CO₂ dalam darah, membuat otak sulit fokus, pandangan menyempit, dan keputusan jadi tidak rasional di dalam air.
  • Jika kepanikan berlanjut lebih dari satu menit, oksigen menurun drastis hingga risiko kehilangan kesadaran meningkat; menjaga ketenangan jadi kunci utama bertahan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bermain air, berenang, atau menikmati liburan di pantai memang menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan bersama keluarga. Namun, situasi dapat berubah menjadi berbahaya ketika seseorang tiba-tiba mengalami kepanikan saat berada di dalam air.

Rasa takut yang muncul seketika ternyata bukan hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga memicu berbagai reaksi di dalam tubuh dalam hitungan detik.

Banyak orang mengira bahwa penyebab utama seseorang tenggelam adalah karena tidak bisa berenang. Padahal, kepanikan yang tidak terkendali juga menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk keadaan. Saat panik, tubuh akan mengaktifkan sistem pertahanan alami yang justru membuat napas menjadi tidak teratur, jantung berdetak lebih cepat, dan energi terkuras lebih banyak.

Melalui video edukasi yang dibagikan akun TikTok @setengahikan.id, dijelaskan bagaimana tubuh bereaksi sejak detik pertama ketika seseorang panik di dalam air. Mengetahui proses ini penting agar Mama dapat memahami mengapa menjaga ketenangan menjadi salah satu kunci utama dalam situasi darurat di air.

Yuk, simak penjelasan yang telah dirangkum oleh Popmama.com berikut ini!

1. Detik 1–10 tubuh langsung masuk ke mode fight or flight

Apa yang terjadi pada tubuh kalau panik saat di dalam air yaitu otak akan bekerja jauh lebih cepat
Popmama.com/Violin Heldina/AI

Saat seseorang merasa dirinya berada dalam bahaya, otak akan bekerja jauh lebih cepat dibandingkan kesadaran kita. Dalam hitungan detik, bagian otak yang berperan mendeteksi ancaman akan mengirimkan sinyal ke sistem saraf simpatik untuk mengaktifkan respons fight or flight. Respons ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk membantu manusia bertahan hidup ketika menghadapi situasi berbahaya.

Begitu respons tersebut aktif, tubuh langsung melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah yang cukup besar. Akibatnya, jantung mulai berdetak lebih cepat agar darah dan oksigen dapat segera dialirkan ke otot-otot tubuh.

Pada saat yang sama, napas menjadi lebih cepat dan cenderung dangkal sebagai upaya tubuh untuk mendapatkan lebih banyak oksigen. Tubuh juga mulai memusatkan energi pada organ-organ yang dianggap penting untuk bertahan hidup.

Sayangnya, respons yang sangat berguna ketika menghadapi ancaman di darat justru bisa menjadi masalah saat berada di dalam air. Adrenalin yang meningkat membuat seseorang cenderung menggerakkan tangan dan kaki secara berlebihan tanpa arah yang jelas.

Gerakan yang terburu-buru ini membuat tenaga lebih cepat terkuras, sementara napas menjadi semakin sulit dikendalikan.

Rasa takut yang semakin besar juga dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Alih-alih mencoba mengapung atau mencari cara menyelamatkan diri, tubuh justru bereaksi secara spontan karena merasa harus segera keluar dari situasi tersebut. Inilah mengapa beberapa detik pertama menjadi fase yang sangat penting.

Semakin cepat seseorang mampu menenangkan diri, semakin besar pula peluang untuk mengendalikan tubuh dan menghemat energi selama berada di dalam air.

2. Detik 10–30 napas terlalu cepat membuat otak sulit fokus

Apa yang terjadi pada tubuh kalau panik di dalam air adalah membuat otak sulit fokus
Pexels/Heloisa Vecchio

Memasuki 10 hingga 30 detik berikutnya, rasa panik biasanya belum juga mereda. Sebaliknya, banyak orang justru mulai bernapas semakin cepat karena merasa kekurangan udara. Kondisi ini dikenal sebagai hiperventilasi, yaitu ketika seseorang menarik dan mengembuskan napas secara berlebihan dalam waktu singkat.

Sekilas, bernapas lebih cepat mungkin terasa seperti cara terbaik untuk mendapatkan lebih banyak oksigen. Kebiasaan ini justru dapat menurunkan kadar karbon dioksida (CO₂) dalam darah secara drastis. Karbon dioksida bukan sekadar zat sisa hasil pernapasan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membantu menjaga aliran darah ke otak tetap optimal. Saat kadar CO₂ menurun terlalu banyak, pembuluh darah di otak dapat menyempit.

Akibatnya, pasokan darah ke otak ikut berkurang sehingga muncul berbagai gejala yang membuat situasi semakin sulit dikendalikan. Seseorang bisa mulai merasa pusing, linglung, sulit berpikir jernih, hingga kesulitan mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat menyebabkan tunnel vision, yaitu gangguan penglihatan yang membuat pandangan terasa menyempit seperti melihat melalui sebuah terowongan. Akibatnya, kemampuan untuk melihat lingkungan sekitar menjadi berkurang.

Hal ini tentu sangat berbahaya jika terjadi di dalam air karena seseorang mungkin tidak menyadari letak tepian kolam, pelampung, atau bahkan orang yang berusaha memberikan pertolongan.

Di fase ini, kepanikan juga sering memicu lingkaran yang sulit diputus. Semakin pusing dan sulit fokus, seseorang akan merasa semakin takut.

Rasa takut itu kemudian membuat napas menjadi semakin cepat, sehingga kadar CO₂ terus menurun dan gejala yang dirasakan semakin memburuk. Itulah mengapa mengatur ritme napas menjadi salah satu langkah paling penting saat mulai merasa panik di dalam air.

3. Detik 30-60 oksigen terkuras lebih cepat, tubuh mulai kehabisan tenaga

Apa yang terjadi pada tubuh kalau panik saat di air adalah tubuh mulai kehabisan tenaga
Pexels/Mcphotographer

Jika kepanikan masih berlanjut hingga 30 sampai 60 detik, tubuh akan mulai merasakan dampaknya secara lebih nyata. Pada fase ini, energi yang semula digunakan untuk membantu tubuh bertahan justru semakin banyak terbuang.

Gerakan yang dilakukan saat panik biasanya tidak lagi terkontrol. Seseorang cenderung mengayuh tangan dan kaki sekuat tenaga, mencoba menggapai apa saja yang ada di sekitarnya, atau terus berusaha mengangkat kepala ke atas permukaan air tanpa pola yang efektif.

Kondisi tersebut membuat tubuh menggunakan oksigen jauh lebih cepat dibandingkan saat seseorang berenang dalam keadaan tenang. Otot bekerja lebih keras untuk menopang setiap gerakan, sementara jantung terus memompa darah dengan kecepatan tinggi.

Akibatnya, cadangan energi dan oksigen di dalam tubuh semakin cepat berkurang. Semakin banyak energi yang dikeluarkan, otot pun mulai mengalami kelelahan.

Tangan dan kaki yang awalnya masih kuat untuk bergerak perlahan menjadi terasa berat, kaku, dan sulit dikendalikan. Gerakan berenang yang seharusnya membantu menjaga tubuh tetap mengapung justru menjadi tidak efisien karena dilakukan secara terburu-buru dan tanpa ritme yang jelas.

Di saat yang sama, otak juga mulai menerima pasokan oksigen yang lebih sedikit. Kondisi ini dapat membuat seseorang semakin sulit berpikir jernih, sehingga keputusan yang diambil sering kali hanya berdasarkan rasa panik. Misalnya, terus meronta tanpa arah atau berusaha melawan air dengan tenaga yang tersisa. Padahal, tindakan tersebut justru membuat tubuh semakin cepat lelah.

4. Setelah 1-2 menit risiko kehilangan kesadaran semakin meningkat

Apa yang terjadi pada tubuh kalau panik saat di dalam air yaitu kehilangan kesadaran
Pexels/Dmitry Limonov

Ketika kepanikan terus berlangsung selama satu hingga dua menit tanpa berhasil dikendalikan, tubuh mulai memasuki fase yang paling berbahaya. Pada kondisi ini, cadangan oksigen di dalam tubuh semakin menipis akibat napas yang tidak teratur dan gerakan yang terus-menerus menguras energi. Sementara itu, otak sebagai organ yang sangat bergantung pada pasokan oksigen mulai mengalami penurunan fungsi.

Kekurangan oksigen dalam waktu singkat dapat menyebabkan kesadaran seseorang perlahan menurun. Pada awalnya, seseorang mungkin merasa tubuhnya semakin lemas, sulit menggerakkan tangan dan kaki, serta tidak mampu lagi berpikir jernih.

Respons tubuh terhadap lingkungan sekitar pun menjadi semakin lambat, sehingga kemampuan untuk menyelamatkan diri ikut berkurang. Jika kondisi ini terus berlanjut, seseorang berisiko mengalami shallow water blackout, yaitu kehilangan kesadaran akibat otak tidak mendapatkan cukup oksigen saat berada di dalam air. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa terjadi tanpa tanda-tanda yang jelas.

Banyak orang mengira bahwa tenggelam selalu ditandai dengan teriakan atau gerakan meminta bantuan. Padahal, dalam banyak kasus, korban justru tidak memiliki cukup tenaga untuk berteriak karena seluruh energinya telah habis digunakan untuk bernapas dan berusaha tetap berada di permukaan air.

Akibatnya, proses tenggelam sering kali berlangsung dalam keadaan yang relatif sunyi dan sulit disadari oleh orang di sekitarnya.

Karena itulah, menjaga ketenangan sejak detik-detik awal menjadi hal yang sangat penting. Semakin cepat seseorang mampu mengendalikan rasa panik, semakin sedikit oksigen yang terbuang dan semakin besar peluang otak tetap mendapatkan pasokan oksigen yang dibutuhkan.

Inilah alasan mengapa para instruktur renang dan penyelamat air selalu menekankan bahwa tetap tenang bukan hanya soal mengendalikan emosi, tetapi juga langkah penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dalam situasi darurat di dalam air.

Jadi, apa yang harus dilakukan saat panik di dalam air?

Hal yang harus dilakukan ketika panik di dalam air adalah tetap tenang
Pexels/Brenner Oliveira

Merasa panik saat berada di dalam air adalah respons yang wajar, terutama jika seseorang tiba-tiba kehilangan keseimbangan, mengalami kram, atau merasa tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Namun, yang perlu diingat, kepanikan bukanlah musuh yang harus dilawan dengan gerakan yang semakin kuat.

Justru sebaliknya, semakin tenang seseorang mampu mengendalikan diri, semakin besar peluang untuk menghemat energi dan menyelamatkan diri. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika rasa panik mulai muncul di dalam air.

Hal pertama adalah diam dan tenang. Jangan langsung melawan rasa takut yang muncul. Langkah berikutnya adalah mengatur napas. Usahakan menarik napas secara perlahan dan teratur, bukan dengan napas pendek yang terburu-buru.

Pernapasan yang lebih tenang dapat membantu menstabilkan detak jantung sekaligus mencegah hiperventilasi yang membuat tubuh semakin sulit berpikir jernih. Setelah itu, rilekskan tubuh sebisa mungkin. Banyak orang justru mengeluarkan tenaga berlebihan karena berusaha melawan air.

Jika sudah merasa lebih tenang, fokuslah untuk naik ke permukaan atau menuju tempat yang aman secara perlahan. Hindari bergerak secara membabi buta karena hanya akan membuat tubuh semakin kelelahan. Apabila ada pelampung, tepian kolam, tali penyelamat, atau orang yang dapat membantu, manfaatkan bantuan tersebut tanpa ragu. Yang tidak kalah penting, selalu ingat prinsip safety first.

Jika berenang di laut, sungai, maupun kolam, pastikan selalu memperhatikan kondisi sekitar, berenang di area yang diawasi petugas, dan jangan memaksakan diri jika merasa lelah atau kemampuan berenang masih terbatas.

Pada akhirnya, memahami apa yang terjadi pada tubuh saat panik di dalam air dapat membantu Mama maupun anggota keluarga lebih siap menghadapi situasi darurat.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More