Melahirkan dan membesarkan anak adalah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
7 Cara Berbicara yang Baik kepada Anak Menurut Islam, Jangan Dibentak

Cara berbicara orangtua kepada anak dalam Islam bukan sekadar metode komunikasi, melainkan bentuk ibadah dan madrasah pertama bagi akhlak anak.
Menggunakan perkataan yang lembut, menghindari bentakan, serta mendengarkan pendapat anak adalah teladan langsung dari Rasulullah SAW dan para nabi.
Setiap ucapan yang keluar dari lisan Mama adalah doa yang mengalir, yang kelak akan membentuk kepribadian dan mental anak saat mereka tumbuh dewasa.
Dalam mendidik anak, salah satu tantangan terbesar orangtua setiap harinya adalah menjaga lisan.
Sering kali saat emosi terkuras, Mama refleks mengeluarkan nada tinggi atau kata-kata yang kurang baik, padahal Islam telah memberikan panduan yang begitu indah tentang cara berkomunikasi dengan anak.
Al-Qur'an dan hadis telah mencontohkan bagaimana kelembutan lisan mampu menyentuh hati anak tanpa perlu kekerasan fisik maupun verbal.
Berikut Popmama.com rangkum 7 cara berbicara yang baik kepada anak menurut Islam beserta dalil dan penerapannya!
Table of Content
1. Selalu bicara dengan nada lembut dengan anak

Menggunakan nada suara yang rendah dan tenang sangat penting diterapin karena hati anak-anak sangat lembut.
Jika Mama menghadapi mereka dengan kekasaran atau sering membentak, anak-anak justru akan merasa terancam dan menjauh.
Ketika Mama berbicara dengan lembut, pesan atau nasihat yang ingin disampaikan justru akan lebih mudah meresap ke dalam lubuk hati anak tanpa membuat mereka merasa dihakimi.
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
Innar-rifqa la yakunu fi syai-in illa zanahu wa la yunza'u min syai-in illa syanahu.
Artinya: "Sesungguhnya sifat lemah lembut tidak ada pada sesuatu kecuali akan memperindahnya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya." (HR. Al-Bukhari)
Langkah nyata yang bisa Mama praktikkan sehari-hari di rumah:
Menatap mata anak sejajar dengan tinggi badan mereka saat berbicara.
Mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum merespons kesalahan anak.
Menggunakan intonasi yang datar dan stabil sekalipun suasana hati sedang lelah.
2. Membiasakan untuk tidak membentak anak

Islam melarang keras orangtua berkomunikasi dengan cara membentak atau berhati kasar kepada anak.
Hal ini wajib diterapin di rumah karena bentakan dan kata-kata kasar terbukti dapat mematahkan rasa percaya diri anak serta menjauhkan hubungan emosional antara anak dan orangtua.
Al-Qur'an secara gamblang menjelaskan bahwa watak yang keras hanya akan membuat orang-orang di sekitar Mama, termasuk anak kandung sendiri, menjadi antipati dan enggan mendengarkan perkataan Mama.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Fabima rahmatim minallahi linta lahum, walau kunta fadhdhan ghalidhal-qalbi lanfadhdhu min hawlika.
Artinya: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..." (QS. Ali 'Imran: 159)
Trik mengontrol lisan agar terhindar dari bentakan saat mendidik anak:
Berjalan menjauh sejenak dari anak jika emosi sudah mencapai puncaknya.
Mengganti volume suara yang keras dengan ketegasan yang tetap tenang.
Mengingat kembali bahwa anak adalah titipan yang kelak laporannya akan dimintai pertanggungjawaban.
3. Memanggil dengan nama atau panggilan yang baik

Rasulullah SAW selalu mencontohkan panggilan penuh kasih sayang kepada anak-anak, baik dengan sebutan ya bunayya (wahai anakku) maupun menggunakan nama kecil yang indah.
Alasannya adalah karena panggilan yang baik akan menumbuhkan rasa dihargai, menanamkan rasa cinta yang dalam di hati anak, serta membuat mereka merasa aman berada di dekat orangtuanya.
Teguran yang diawali dengan panggilan sayang akan terdengar sebagai bentuk perhatian, bukan sebuah ancaman.
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Ya ghulam, sammillaha, wa kul biyamini-ka, wa kul mimma yali-ka.
Artinya: "Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu." (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Cara sederhana menyisipkan panggilan sayang ini dalam rutinitas harian:
Menghindari penggunaan kata ganti yang cuek seperti "kamu" atau "anak ini" saat menegur.
Membuat panggilan kesayangan yang bermakna baik dan disenangi oleh anak.
Membuka setiap obrolan serius dengan menyebut nama lengkap atau nama panggilan terbaik mereka.
4. Berbicara sesuai tingkat pemahaman anak

Sebagai orangtua, Mama dituntut untuk menurunkan ego dan berbicara menggunakan bahasa yang dipahami dunia anak-anak.
Prinsip komunikasi ini harus diterapin agar pesan moral atau nilai-nilai agama yang Mama sampaikan bisa ditangkap dengan tepat oleh logika mereka yang masih berkembang.
Berbicara dengan istilah yang terlalu tinggi atau kaku hanya akan membuat anak merasa bingung, bosan, dan akhirnya mengabaikan nasihat yang diberikan.
خَاطِبُوا النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ
Khatibun-nasa 'ala qadri 'uqulihim.
Artinya: "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektual) mereka." (HR. Muslim)
Strategi menyelaraskan frekuensi bicara Mama dengan dunia anak:
Menggunakan perumpamaan atau media cerita dongeng saat menanamkan nilai kebaikan.
Menghindari kalimat yang terlalu panjang dan berbelit-belit saat memberi instruksi.
Memilih kosakata yang sederhana dan populer di kalangan usia mereka.
5. Menyisipkan kalimat thayyibah dan menghindari label buruk

Perkataan orangtua adalah doa yang sangat mustajab di hadapan Allah SWT, sehingga Mama dilarang keras menyumpahi atau melabeli anak dengan kata-kata buruk seperti "nakal", "bodoh", atau "pemalas".
Aturan ini wajib diterapin secara ketat di rumah karena ucapan buruk dari mulut Mama bisa menjadi kenyataan jika bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa.
Mengganti keluhan dengan kalimat thayyibah (seperti Astaghfirullah atau Subhanallah) saat anak berulah akan menjaga lisan Mama tetap berkah.
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ
La tad'u 'ala anfusikum wa la tad'u 'ala awladikum wa la tad'u 'ala amwalikum, la tuwafiqu minallahi sa'atan yus-alu fiha 'atha-un fayastajiba lakum.
Artinya: "Janganlah kamu memprotes (menyumpahi) dirimu sendiri, janganlah kamu menyumpahi anak-anakmu, dan janganlah kamu menyumpahi hartamu. Jangan sampai kamu menepati suatu waktu dari Allah yang jika Dia diminta pada waktu itu, Dia akan mengabulkannya untukmu." (HR. Muslim)
Langkah preventif untuk menjaga lisan Mama dari labeling negatif:
Mengganti kata "kamu nakal" menjadi doa "semoga anak sholeh/sholehah".
Membiasakan diri mengucapkan praise (pujian) Islami seperti Masya Allah saat anak berbuat baik.
Menuliskan kalimat-kalimat positif di area rumah sebagai pengingat visual bagi orangtua.
6. Mendengarkan dan menerapkan dialog dua arah

Prinsip komunikasi dalam Islam tidak boleh berjalan satu arah atau otoriter, melainkan harus membuka ruang dialog yang demokratis dengan anak.
Metode mendengarkan pendapat anak ini perlu diterapin karena dapat melatih kedewasaan berpikir mereka dan membuat mereka merasa diakui sebagai bagian dari keluarga.
Contoh dialog terbaik ini diabadikan saat Nabi Ibrahim AS meminta pendapat Nabi Ismail AS tentang perintah Allah, di mana beliau memilih mendengar respons anaknya terlebih dahulu alih-alih langsung memaksakan kehendak sebagai ayah.
قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Qala ya bunayya inni ara fil-manami anni adzbahuka fandhur madza tara, qala ya abatif'al ma tu'maru satajiduni in sya-allahu minash-shabirin.
Artinya: "... Ibrahim berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ismail menjawab: 'Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." QS. As-Saffat: 102
Cara menumbuhkan kebiasaan berdiskusi yang sehat bersama anak:
Menyediakan waktu khusus di malam hari untuk mendengarkan cerita atau keluh kesah anak.
Menanyakan alasan atau pendapat anak sebelum Mama mengambil keputusan terkait urusan mereka.
Tidak memotong pembicaraan saat anak sedang berusaha menjelaskan sesuatu.
7. Menjadi teladan dalam berkata baik

Aturan terakhir ini mutlak diterapin karena jika Mama mendambakan anak yang berkata jujur, sopan, dan santun, maka lisan orangtua harus terjaga terlebih dahulu di depan mereka.
Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dan dengar dari keseharian Mama dan Papa di rumah, bukan sekadar dari deretan teori atau aturan tertulis yang Mama buat.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kana yu'minu billahi wal-yawmil-akhiri falyaqul khairan aw liyashmut.
Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Langkah mempraktikkan keteladanan lisan di lingkungan keluarga:
Mengucapkan kata "tolong", "maaf", dan "terima kasih" secara konsisten kepada anak.
Tidak membicarakan keburukan orang lain (ghibah) di depan pendengaran anak.
Memilih diam dan mengontrol ekspresi saat sedang menahan amarah yang besar.
Itulah, Ma, 7 cara berbicara yang baik kepada anak menurut Islam.
Menjaga lisan di depan anak memang membutuhkan kelapangan hati dan kesabaran yang luar biasa, Ma.
Namun dengan meneladani cara bicara Islami ini, Mama tidak hanya sedang mendidik anak yang santun, tetapi juga sedang menjemput rida Allah dalam mengasuh amanah-Nya.


















