Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Cara Ajarkan Anak untuk Menjauh dari Drama Pertemanan
Pexels/gsregvrd
  • Mengajarkan anak membedakan antara masalah nyata dan drama membantu mereka menghemat energi emosional sejak dini.

  • Melatih kemampuan mengambil jeda sebelum merespons tindakan orang lain ampuh mencegah anak menjadi korban provokasi lingkungan.

  • Memilih lingkaran pertemanan yang sehat dan tahu kapan harus melapor pada orang dewasa adalah pilar utama perlindungan diri anak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat anak tumbuh besar dan mulai memperluas pertemanan mereka di luar rumah tentu mendatangkan rasa bangga sekaligus kekhawatiran tersendiri bagi Mama sebagai orangtua. 

Di dalam dunia pertemanan yang semakin kompleks, anak-anak tidak jarang akan dihadapkan pada situasi penuh gosip, atau drama pertemanan yang melelahkan pikiran. 

Jika tidak dibekali dengan prinsip benteng diri yang kokoh, anak-anak cenderung mudah terseret ke dalam konflik yang sebenarnya sama sekali tidak berkaitan dengan diri mereka. 

Berikut Popmama.com rangkum 7 cara bijak mengajarkan anak untuk berjalan menjauh dari drama pertemanan!

1. Membedakan antara masalah dan drama

Pexels/Norma Mortenson

Langkah paling awal yang perlu Mama tanamkan pada anak adalah kemampuan untuk menganalisis dan membedakan antara masalah yang nyata dengan drama. 

Masalah adalah situasi yang membutuhkan solusi karena merugikan hak seseorang, sedangkan drama biasanya hanyalah sebuah reaksi berlebihan yang sengaja dibesar-besarkan untuk mencari perhatian semata. 

Anak perlu memahami sebuah prinsip penting bahwa tidak semua komentar, ejekan, atau sindiran yang dilontarkan oleh teman di sekolah harus diberikan respons atau ditanggapi dengan serius. 

Dengan mengajarkan anak untuk mengabaikan hal-hal sepele yang tidak penting, Mama sedang membantu mereka untuk menghemat energi agar tidak mudah terombang-ambing oleh opini negatif orang lain di sekitar mereka.

2. Mengambil jeda sejenak sebelum memberikan reaksi

Pexels/RDNE Stock Project

Ketika anak mendengar sebuah berita miring atau mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari temannya, emosi mereka pasti akan langsung tersulut untuk memberikan pembelaan. 

Di sinilah pentingnya peran Mama untuk melatih kekuatan kontrol diri anak dengan cara mengajarkan mereka untuk mengambil jeda sejenak sebelum mengeluarkan kata-kata atau tindakan refleks. 

Jeda waktu beberapa detik ini berfungsi sangat luar biasa untuk menenangkan detak jantung serta memberikan ruang bagi logika berpikir anak agar bisa bekerja dengan lebih jernih. 

Anak yang terbiasa mengambil napas dalam-dalam sebelum merespons tidak akan mudah terjebak dalam jebakan emosi sesaat, sehingga mereka tumbuh menjadi lebih matang, tenang, serta penuh pertimbangan matang dalam menghadapi ketegangan sosial.

3. Menghentikan kebiasaan menyebarkan kembali gosip yang beredar

Pexels/Anastasia Shuraeva

Pusaran drama di lingkungan pertemanan tidak akan pernah bisa membesar apabila tidak ada pihak yang bertindak sebagai penyebar cerita tersebut. 

Oleh karena itu, Mama harus memberikan pemahaman yang tegas kepada anak mengenai bahaya dari kebiasaan membicarakan keburukan orang lain atau mengoper cerita yang belum jelas kebenarannya kepada teman yang lain. 

Ajarkan anak untuk menjadi pemutus rantai gosip dengan cara diam dan tidak ikut membagikan informasi negatif tersebut kepada siapa pun di lingkaran bermain mereka. 

Ketika anak memilih untuk menghentikan cerita tersebut hanya sampai di telinga mereka saja, mereka sedang melindungi diri mereka sendiri dari risiko dituduh sebagai provokator sekaligus menjaga mereka tetap bersih dari konflik interpersonal.

4. Mengedukasi anak untuk menyadari ketika dipancing emosinya

Pexels/Ron Lach

Anak-anak perlu diajarkan sebuah realita bahwa di dunia luar sana akan selalu ada tipe orang yang merasa senang jika berhasil memancing emosi atau kemarahan orang lain. 

Mama bisa membimbing anak untuk mengenali bahasa tubuh atau pola kalimat dari teman yang memiliki niat buruk tersembunyi untuk sekadar melihat mereka menangis atau mengamuk. 

Ketika anak sudah bisa membaca situasi dan menyadari bahwa orang tersebut hanya sedang mencari panggung lewat reaksi kemarahan mereka, anak akan merasa lebih mudah untuk mengendalikan emosinya. 

Kesadaran ini akan membuat anak tersenyum tenang dan memilih untuk berjalan menjauh, karena mereka tahu bahwa memberikan respons acuh tak acuh adalah cara paling ampuh untuk mematikan kepuasan dari sang pemancing drama.

5. Menanamkan sikap netral dan tidak memihak

Pexels/Mikhail Nilov

Dalam perselisihan kelompok yang terjadi di sekolah, anak-anak sering kali mendapatkan tekanan sosial yang sangat kuat dari teman-temannya untuk segera memilih salah satu kubu yang sedang bertikai. 

Mengajarkan anak untuk berani mengambil sikap netral dan tidak memihak siapa pun adalah sebuah keterampilan diplomasi yang sangat mahal nilainya bagi kedamaian batin mereka. 

Katakan kepada anak bahwa mereka tetap bisa menjadi teman yang baik bagi kedua belah pihak tanpa harus ikut campur dalam urusan perselisihan pribadi yang sedang terjadi di antara kedua teman tersebut. 

Sikap netral ini akan menjaga anak dari permusuhan, membuat mereka dihormati sebagai orang yang objektif, serta menjauhkan kehidupan sekolah mereka dari kubu-kubuan yang toksik.

6. Membantu anak memilih pertemanan yang sehat

Pexels/king caplis

Karakter dan kesehatan mental anak sedikit banyak akan sangat dipengaruhi oleh dengan siapa mereka menghabiskan waktu luang mereka sehari-hari selama berada di luar rumah. 

Mama memiliki tugas penting untuk membimbing anak dalam menjaga kualitas hubungan pertemanan mereka, apakah teman-teman tersebut saling mendukung atau justru sering menarik mereka pada drama-drama yang melelahkan. 

Bantulah anak untuk lebih selektif dalam mendekatkan diri dengan teman-teman yang memiliki energi positif, jujur, serta fokus pada aktivitas yang produktif seperti belajar atau berolahraga bersama. 

Memiliki sedikit teman yang tulus jauh lebih berkualitas daripada berada di dalam lingkaran pergaulan yang luas namun penuh dengan kecemburuan serta konflik emosional yang tiada habisnya.

7. Mengajarkan kapan waktu yang tepat untuk melibatkan orang dewasa

Pexels/Atlantic Ambience

Meskipun Mama ingin mendidik anak tumbuh menjadi sosok yang mandiri dalam menyelesaikan masalah sosialnya, mereka tetap harus tahu batasan kapan sebuah situasi sudah berada di luar kendali mereka. 

Anak perlu diajarkan dengan sangat jelas mengenai perbedaan antara sekadar mengadu hal sepele dengan melaporkan sebuah tindakan bahaya yang mengancam.

Jadi, Ma, metode pendekatan atau obrolan santai sebelum tidur seperti apa yang paling ingin Mama coba terapkan untuk mengenalkan batasan drama pertemanan ini mulai malam nanti?

Editorial Team

Related Article

9 Nama Negara dari Huruf L21 Jun 2026, 00:10 WIBBig Kid