Kesadaran mengenai pentingnya menjaga fungsi organ dalam anak sering kali baru muncul ketika kondisi kesehatannya sudah memasuki fase yang kritis.
5 Jenis Penyakit Ginjal yang Sering Menyerang Anak dan Gejalanya

dr. Henny Adriani Puspitasari menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan ginjal pada anak karena gejalanya sering tersembunyi dan bisa berdampak fatal bagi tumbuh kembang mereka.
Lima penyakit ginjal yang umum menyerang anak meliputi ISK, sindrom nefrotik, hipertensi terkait ginjal, serta penyakit ginjal kronis dengan berbagai gejala khas di tiap kelompok usia.
Pencegahan dilakukan lewat pemeriksaan rutin, pengendalian tekanan darah, menjaga berat badan ideal, membatasi asupan garam, dan menghindari pemberian obat tanpa resep dokter.
Hal ini menjadi sorotan utama dalam acara media gathering bersama Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta Pusat yang menghadirkan dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp. A, Subsp. Nefro pada Jumat (19/6/2026).
Beliau mengingatkan bahwa jika fungsi penyaringan ini terganggu serta terlambat dideteksi, dampaknya bisa sangat fatal bagi masa depan anak karena gejalanya sering kali tersembunyi di balik keluhan fisik yang sepele.
Berikut Popmama.com rangkum 5 jenis penyakit ginjal yang sering diderita oleh anak beserta seluruh detail medisnya yang wajib Mama pahami!
Table of Content
1. Memahami fungsi organ ginjal bagi tumbuh kembang anak

Banyak dari Mama yang mengira bahwa tugas utama ginjal hanyalah mengeluarkan urine dari dalam tubuh saja.
Padahal, organ ini memiliki sistem kerja yang sangat kompleks dan multifungsi, meliputi beberapa tugas penting berikut ini:
Mengendalikan stabilitas cairan tubuh, sistem kerja ginjal akan otomatis mengeluarkan kelebihan cairan menjadi pipis saat anak terlalu banyak minum, serta sebaliknya akan menahan cairan tubuh agar anak tidak mengalami dehidrasi sewaktu sedang berpuasa.
Membuang zat sisa beracun, organ ini bertindak sebagai penyaring alami yang bertugas membuang sisa makanan tidak terpakai maupun sisa obat-obatan dari dalam darah.
Mengaktifkan peranan vitamin D, ginjal bertanggung jawab dalam proses mineralisasi struktur tulang, sehingga apabila organ ini mengalami kerusakan, dampaknya banyak anak yang tumbuh pendek atau kondisi tulangnya menjadi sangat mudah patah.
Menjaga stabilitas kadar mineral, ketika anak sedang mengeluarkan banyak keringat, ginjal secara otomatis akan menahan sisa elektrolit di dalam darah agar tubuh tidak mengalami kekurangan zat penting tersebut.
Memproduksi hormon penstabil tensi, ginjal bekerja berdampingan dengan organ jantung untuk mengatur tekanan darah lewat produksi hormon khusus, yang bertugas mempercepat pengeluaran zat garam agar tensi anak tidak melonjak tinggi.
Memproduksi sel darah merah, penting untuk pembentukan sel darah merah. Jika fungsinya turun, maka tidak bisa membentuk sel darah merah dengan baik.
2. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi Saluran Kemih atau ISK menempati urutan teratas sebagai penyakit ginjal yang paling sering dijumpai pada anak di semua kelompok usia, khususnya kelompok bayi serta balita.
Berdasarkan data epidemiologi medis, terdapat sekitar 8.4% anak perempuan dan 1.7% anak laki-laki yang setidaknya pernah mengalami satu kali episode serangan ISK sebelum mereka menginjak usia 7 tahun.
Angka ini didapati semakin meningkat tajam hingga menyentuh angka 11.3% pada anak perempuan serta 3.6% pada anak laki-laki ketika memasuki usia 16 tahun.
Gejala klinis serangan ISK ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda yang dibagi ke dalam tiga kelompok usia anak berikut ini:
Kelompok neonatus (bayi di bawah usia 1 bulan), tandanya sangat sulit dikenali secara kasat mata karena biasanya hanya berupa demam, bayi tidak mau menyusu, tubuh terlihat letargi atau lemas, kondisi sepsis, hingga perubahan warna kulit bayi sampai kuning atau ikterus.
Kelompok bayi (usia 1-24 bulan), sering kali ditandai dengan serangan demam tinggi mendadak tanpa adanya sumber penyebab yang jelas seperti batuk atau pilek, di mana suhu tubuh bisa melonjak hingga 39-40 derajat celsius. Gejala penyerta lainnya meliputi anak menjadi sangat rewel, muntah, nafsu makan merosot tajam, serta mengalami failure to thrive atau kondisi gagal untuk tumbuh karena walau sudah makan banyak tetapi tidak gemuk atau tinggi.
Kelompok anak-anak (di atas usia 2 tahun), proses deteksinya jauh lebih mudah karena anak biasanya sudah bisa bicara untuk mengeluhkan rasa sakitnya yang mirip dengan orang dewasa, seperti nyeri perut bawah, anyang-anyangan, frekuensi pipis meningkat, serta rasa sakit saat berkemih yang disertai gejala khas berdasarkan titik lokasinya:
Uretritis (infeksi saluran uretra), mengalami disuria (nyeri pipis), pruitirus (gatal), atau adanya cairan sekret yang keluar dari saluran uretra.
Sistitis (infeksi kandung kemih), mengalami disuria, hematuria (pipis berdarah), urine terlihat keruh atau berbau tidak sedap, serta nyeri di area suprapubik.
Pielonefritis (infeksi ginjal atas), memicu serangan demam, flank pain (nyeri pinggang), sakit perut, muntah, hingga gejala sistemik lainnya.
3. Sindrom Nefrotik dan penyakit Glomerular

Masalah ginjal berikutnya yang juga sering mengintai anak-anak adalah Sindrom Nefrotik, sebuah penyakit glomerular yang mencatat angka insiden global sebesar 1.15 mg sampai 16.9 mg per 100.000 anak di setiap tahunnya.
Secara statistik, angka insidensi tahunan penyakit ini berada di kisaran 2-7 kasus per 100.000 anak dengan tingkat prevalensi mencapai 12-16 kasus per 100.000 anak.
Data menunjukkan bahwa sekitar 80-90% kasus yang menyerang anak kelompok usia 1-10 tahun merupakan jenis idiopathic nephrotic syndrome.
Kondisi ini dipicu oleh adanya kebocoran zat protein dalam skala besar akibat rusaknya membran filtrasi pada glomerulus ginjal.
Gejala Sindrom Nefrotik yang wajib diwaspadai meliputi:
Edema Periorbital, munculnya pembengkakan di sekitar kelopak mata yang biasanya menjadi tanda awal yang paling pertama terlihat.
Edema Perifer, pembengkakan pada area tungkai bawah atau skrotum, di mana bengkak ini memiliki sifat pitting yang artinya jika ditekan tidak akan langsung kembali ke bentuk semula secara cepat.
Lonjakan berat badan anak, terjadi peningkatan timbangan secara drastis akibat penumpukan cairan.
Ascites serta Efusi Pleura, adanya kumpulan cairan yang terjebak di dalam rongga perut maupun rongga selaput dada anak.
Kondisi urine berbusa, air seni anak akan terlihat mengeluarkan busa dalam jumlah yang sangat banyak.
Gejala sistemik tubuh, kondisi fisik anak akan mengalami penurunan nafsu makan yang drastis, tubuh menjadi sangat mudah lelah, serta sistem imun melemah sehingga rentan terkena infeksi penyakit lain.
Untuk menanganinya, dr. Henny menekankan pentingnya pemeriksaan yang presisi agar fungsi organ penyaring ini tidak mati total.
“Dia sangat perlu dievaluasi yang baik supaya fungsi ginjalnya masih bisa dipertahankan,” ujar dr. Henny.
4. Hipertensi yang mempercepat kerusakan ginjal

Tekanan darah tinggi atau hipertensi nyatanya juga bisa menyerang anak-anak dengan angka temuan sekitar 3-5% pada populasi anak serta remaja, di mana hal ini terus meningkat seiring dengan tingginya kasus berat badan berlebih atau obesitas.
Berdasarkan jurnal ilmiah dari Robinson CH dan Christiani R (2022), hipertensi dan kerusakan ginjal memiliki ikatan hubungan dua arah yang saling menghancurkan lewat beberapa mekanisme utama berikut ini:
Hubungan timbal balik penyakit, kondisi penyakit ginjal kronis dapat memicu timbulnya tekanan darah tinggi, dan sebaliknya, serangan hipertensi akan mempercepat laju kerusakan organ ginjal sehingga fungsinya merosot jauh lebih cepat.
Kerusakan struktur pembuluh darah, tekanan darah yang terus-menerus tinggi akan merusak jaringan endotel, memicu penebalan serta penyempitan pada arteriol ginjal, yang berujung pada anjloknya aliran pasokan darah menuju nefron sehingga fungsi ginjal menurun drastis.
Lonjakan tekanan intraglomerulus, hipertensi memicu kenaikan tekanan di dalam glomerulus, hiperfiltrasi, serta cedera jaringan glomerulus progresif yang dalam jangka panjang menyebabkan glomerulosklerosis, proteinuria, hingga penurunan laju filtrasi GFR.
Mempercepat progresi CKD (Penyakit Ginjal Kronis), anak penderita CKD yang juga mengidap hipertensi akan mengalami penurunan fungsi ginjal yang jauh lebih agresif dibandingkan dengan anak yang tekanan darahnya terkontrol, sehingga manajemen mengontrol tensi adalah kunci memperlambat kerusakan organ.
Dalam hal penanganan medis, dr. Henny menjelaskan bahwa pemberian obat-obatan kimia tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa apabila kondisinya baru dimulai.
“Nggak buru-buru kasih obat, kecuali ada penyakit lain karena tensi tinggi kejang atau pusing. Cuma kalau baru-baru, ya, akan berusaha dipakein non farmakologi,” papar dr. Henny.
5. Penyakit ginjal kronis

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) pada anak merupakan masalah kesehatan serius dengan tingkat prevalensi global sekitar 15-75 kasus per juta populasi anak, serta mencatat angka insidensi tahunan berkisar 5-18 kasus per juta populasi anak di setiap tahunnya.
Masalah hipertensi sendiri ditemukan menyerang sekitar 50-60% dari total populasi anak penderita penyakit ginjal kronis ini, sekaligus menjadi faktor kemudi utama yang mempercepat progresivitas kerusakan jaringan organ dalam tersebut.
Terdapat beberapa tanda klinis penting yang mengindikasikan bahwa ginjal anak sedang bermasalah dan membutuhkan pemeriksaan mendesak ke dokter:
Kondisi pertumbuhan tinggi badan yang terhambat atau kerdil.
Serangan demam tinggi yang berulang tanpa diketahui penyebab medis yang jelas.
Pancaran aliran urine yang melemah atau tersendat-sendat saat anak pipis.
Adanya pembengkakan yang tampak jelas di area mata atau wajah.
Ditemukannya bercak darah pada air urine anak.
Air urine yang mengeluarkan busa tebal.
Kondisi anemia atau kekurangan sel darah merah.
Tekanan darah yang terukur tinggi.
Intinya, Ma, memperketat asupan garam, menjaga berat badan ideal anak, serta tidak sembarangan memberikan obat bebas tanpa resep adalah langkah proteksi terbaik yang bisa kita lakukan mulai hari ini demi melindungi masa depan mereka.
Gejala fisik atau kebiasaan berkemih seperti apa yang paling ingin Mama pantau secara jeli pada diri anak?








-zrcT7BSoG6Ydvhg3v5mYmaVDk7gW3Ajx.jpg)










