- Tanah bagian dalam lebih dingin
- Kelembapannya lebih terjaga
- Terlindungi dari panas matahari langsung
7 Cara Hewan “Pecinta Hujan” Bertahan saat Musim Kemarau

- Hewan seperti cacing, kodok, dan siput beradaptasi saat kemarau dengan bersembunyi di tempat lembap atau menggali lebih dalam untuk menjaga suhu dan kelembapan tubuh.
- Banyak hewan mengurangi aktivitas siang hari, berpindah ke area yang masih memiliki air, serta menjaga kelembapan tubuh agar tidak dehidrasi di tengah cuaca panas.
- Beberapa hewan memasuki fase estivasi untuk menghemat energi dan menunda berkembang biak hingga kondisi kembali lembap, membuat mereka tampak jarang terlihat selama musim kemarau.
Musim kemarau di Indonesia diperkirakan mulai sekitar April 2026 menurut BMKG. Saat hujan mulai jarang turun, mungkin kamu mulai sadar hewan-hewan yang biasanya sering muncul saat hujan jadi lebih sulit ditemukan.
Tenang, mereka bukan hilang, kok. Hewan seperti cacing, kodok, siput, bekicot, hingga serangga seperti kepik sebenarnya sedang beradaptasi dengan lingkungan yang lebih kering.
Lalu, apa saja yang mereka lakukan saat musim kemarau? Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang terjadi.
1. Menggali dan bersembunyi di tempat yang lebih lembap

Beberapa hewan seperti cacing, semut tanah, dan larva serangga akan masuk lebih dalam ke tanah saat cuaca panas.
Ini karena:
Cara ini membantu mereka tetap hidup meski permukaan tanah sudah kering.
2. Mengurangi aktivitas di siang hari

Hewan seperti kodok, katak, dan siput biasanya menghindari aktivitas di siang hari saat cuaca panas.
Mereka cenderung:
- Bersembunyi di tempat teduh
- Keluar saat pagi atau malam hari
- Menghindari paparan panas berlebih
Tujuannya sederhana: menjaga tubuh tetap lembap dan tidak kehilangan cairan terlalu cepat.
3. Pindah ke area yang masih memiliki air

Saat sumber air berkurang, beberapa hewan akan berpindah ke tempat yang lebih mendukung, seperti:
- Pinggir sungai atau danau
- Area berlumpur
- Lingkungan dengan banyak tanaman
- Di dalam tanah
Contohnya katak, kodok, dan keong yang sangat bergantung pada air untuk bertahan hidup.
4. Menjaga kelembapan tubuh agar tidak dehidrasi

Hewan seperti cacing, siput, dan bekicot sangat bergantung pada kondisi lembap.
Saat kemarau, mereka akan:
- Mengurangi aktivitas
- Mencari area basah
- Menjaga tubuh tetap lembap
Jika lingkungan terlalu kering, mereka bisa mengalami dehidrasi yang berbahaya.
5. Masuk ke fase “istirahat” (estivasi) saat panas ekstrem

Beberapa hewan memiliki cara unik untuk bertahan, yaitu estivasi atau “tidur” saat cuaca panas.
Dilansir dari Discovery Place Nature, saat estivasi terjadi hewan akan:
- Laju pernapasan melambat
- Detak jantung menurun
- Metabolisme tubuh ditekan untuk menghemat energi
Contohnya:
- Siput dan bekicot, bahkan menurut National Geographic ada jenis siput yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun dalam kondisi ini
- Beberapa jenis katak, seperti katak penampung air
- Serangga tertentu seperti kepik, kumbang, dan nyamuk
Mereka akan “menunggu” sampai kondisi lingkungan kembali lembap.
6. Menunda berkembang biak

Banyak hewan “pecinta hujan” membutuhkan air untuk berkembang biak.
Misalnya:
- Katak dan kodok bertelur di air
- Serangga tertentu berkembang di lingkungan lembap
Saat kemarau, mereka cenderung menunda proses ini karena:
- Air tidak mencukupi
- Risiko anak tidak bertahan hidup lebih tinggi
7. Tetap ada, tapi jarang terlihat

Meski jarang muncul, hewan-hewan ini sebenarnya tidak ke mana-mana. Mereka hanya:
- Lebih sering bersembunyi
- Berpindah ke tempat yang aman
- Mengurangi aktivitas di permukaan
Selain cacing dan kodok, hewan seperti kecoak tanah, lipan kecil, dan rayap juga melakukan hal serupa saat musim kemarau.
Ternyata, banyak hewan punya cara cerdas untuk bertahan hidup saat musim kemarau. Mereka mungkin terlihat “menghilang”, tapi sebenarnya sedang beradaptasi dengan lingkungannya.
Saat musim hujan kembali, hewan-hewan ini biasanya akan muncul lagi dan jadi lebih aktif. Seru banget untuk diamati, ya!


















