Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

8 Keseruan Pentas Budaya Betawi Sekolah Cikal Amri Setu

8 Keseruan Pentas Budaya Betawi Sekolah Cikal Amri Setu
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
Intinya Sih
  • Pentas budaya Betawi bertajuk 'Playground of Sunda Kelapa' digelar Sekolah di Ciputra Artpreneur sebagai ajang seni, edukasi sejarah, dan aksi donasi untuk pelatihan guru.

  • Acara menampilkan teater kreatif, tarian khas Betawi, serta pameran karya murid yang dijual untuk donasi; seluruh prosesnya melibatkan siswa dari perencanaan hingga produksi musik orisinal.

  • Persiapan Sekolah Cikal Amri Setu berlangsung empat hingga enam bulan dengan kolaborasi erat antara guru dan murid lintas jenjang, menumbuhkan semangat gotong royong serta kecintaan terhadap warisan budaya Jakarta.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

“Playground of Sunda Kelapa” dari sekolah Cikal, khususnya Sekolah Cikal Amri Setu, kembali digelar tahun ini pada Jumat (5/6/2026) di Ciputra Artpreneur Jakarta Selatan. 

Sebuah selebrasi pembelajaran dan pengembangan diri murid Cikal dalam bentuk penampilan seni dan kebudayaan Betawi dari provinsi DKI Jakarta ini juga menjadi aksi donasi untuk pengembangan pelatihan kompetensi guru dan juga pameran karya hasil belajar murid.

Di tahun ini, Sekolah Cikal mengusung satu tema besar yang sama, yakni mengangkat kembali memori dan keindahan sejarah Sunda Kelapa yang merupakan nama Jakarta di masa lampau.

Berikut Popmama.com rangkum 8 keseruan mendalam di balik layar pentas seni budaya Betawi hasil karya anak bangsa!

Table of Content

1. Eksplorasi teater kreatif dan sejarah musik Jakarta

1. Eksplorasi teater kreatif dan sejarah musik Jakarta

Penampilan Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Sajian pertunjukan utama yang ditampilkan oleh para murid dikemas melalui alur cerita yang sangat kreatif dan tidak membosankan untuk ditonton oleh keluarga. 

Panggung dibuka dengan menggambarkan suasana interaksi belajar mengajar di dalam ruang kelas sekolah, di mana para murid sedang mempelajari materi kebudayaan lokal Betawi. 

Penampilan akting yang jenaka tersebut kemudian diselingi oleh berbagai macam tarian khas Betawi yang memukau, mulai dari tari cokek, tari kreasi modern, hingga tarian massal yang diiringi oleh lagu Ondel-Ondel. 

Tidak hanya menampilkan tarian, pentas ini juga berani mengangkat sejarah berharga mengenai asal-usul alat musik keroncong yang pada zaman kolonial Belanda sempat dianggap sebagai sebuah bentuk pembelotan politik. 

Konsep edukasi sejarah ini disajikan secara interaktif lewat latar panggung yang menyerupai pertunjukan lenong tradisional, lengkap dengan pengenalan lagu-lagu legendaris seperti Kicir-Kicir dan Sirih Kuning.

2. Pameran hasil karya murid untuk didonasikan

Hasil karya Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Keseruan acara ini tidak hanya berpusat pada gemerlap panggung pertunjukan utama saja, melainkan juga dimeriahkan oleh area pameran atau exhibition yang memajang ratusan hasil karya tangan anak-anak. 

Di dalam galeri tersebut, para pengunjung dapat melihat dan mengapresiasi langsung kreativitas anak berupa stiker, rumah-rumahan, hingga aneka kerajinan tangan fungsional yang memanfaatkan pengolahan bahan-bahan bekas tidak terpakai. 

Pameran ini juga menampilkan narasi tertulis yang menceritakan kisah latar belakang serta filosofi mendalam di balik proses pembuatan pertunjukan mereka. 

Menariknya, sebagian besar karya orisinal buatan anak-anak ini sengaja dijual kepada para pengunjung, di mana seluruh dana yang terkumpul akan didonasikan untuk membantu sekolah-sekolah yang membutuhkan di daerah Jakarta, khususnya sebagai dana operasional untuk memberikan pelatihan kompetensi yang bermanfaat bagi guru di sekolah tersebut.

3. Latihan intensif selama berbulan-bulan

Dita Annisa Johari selaku Technical Director Playground of Sunda Kelapa
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Proses panjang untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang megah di atas panggung besar tentu membutuhkan komitmen waktu yang tidak sebentar dari seluruh tim sekolah. 

Berdasarkan penjelasan dari Dita Annisa Johari selaku Technical Director Playground of Sunda Kelapa, proyek berskala besar ini memakan waktu sekitar empat hingga enam bulan. 

Hal tersebut dimulai dari tahap awal berupa pembuatan draf naskah cerita, proses audisi atau casting peran, hingga persiapan latihan fisik. 

Untuk persiapan latihan gerak dan peran itu sendiri membutuhkan waktu bersih sekitar empat bulan di sela-sela aktivitas akademis sekolah. 

Proses latihan tahun ini memiliki tantangan tersendiri karena awalnya direncanakan mulai sebelum bulan Februari, namun terpotong oleh masa libur puasa, sehingga anak-anak baru bisa benar-benar memacu latihan intensif mereka sesaat setelah libur lebaran usai.

4. Alasan mengangkat budaya Betawi di era modern

Penampilan Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Pemilihan tema kebudayaan lokal Betawi pada pergelaran tahun ini didasari oleh sebuah alasan yang melompat jauh melampaui momentum perayaan hari ulang tahun kota Jakarta yang akan segera tiba. 

Kota Jakarta dipandang sebagai salah satu pusat utama dari peradaban modern sekaligus poros inovasi yang berkembang sangat pesat di Indonesia, sehingga warisan leluhurnya tidak boleh terlupakan. 

Dita memaparkan bahwa pihak penyelenggara memiliki misi besar untuk menghidupkan kembali kecintaan anak muda terhadap identitas daerah mereka melalui panggung seni yang bergengsi ini, demi mengembalikan apresiasi masyarakat yang mulai luntur.

“Kebetulan tahun ini memang yang dipilih adalah Betawi. Karena, yah, itu sih mungkin karena ulang tahun Jakarta dan juga kita juga tinggal di Jakarta, jadi untuk mengangkat kembali kayanya juga di Jakarta mungkin kebudayaan Betawi itu udah mulai nggak terlalu diapresiasi. Jadi untuk mengangkat lagi ini nih, kita tuh sebenernya bener-bener apresiasi, lho, semua kebudayaan yang kita punya,” jelas Dita.

5. Tema budaya nusantara yang berbeda setiap tahun

Penampilan Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Komitmen untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada generasi muda sudah menjadi agenda tahunan yang wajib dilaksanakan dengan mengeksplorasi daerah yang berbeda pada setiap tahunnya. 

Dita menceritakan bahwa pada pergelaran tahun lalu mereka sukses mengangkat tema Nusa Nipa yang secara spesifik membedah cerita lokal serta pentingnya menjaga kelestarian flora dan fauna komodo di nusantara. 

Pada tahun-tahun sebelumnya, panggung seni ini juga pernah mengusung konsep Playground of Mataram yang kental akan tradisi Jawa, serta kisah kepahlawanan Laksamana Malahayati lewat tema Samudera Pasai. 

6. Para murid ikut terlibat dalam proses pembuatan

Penampilan Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Salah satu poin yang membedakan pentas seni ini dengan acara sekolah pada umumnya adalah tingkat keterlibatan murid yang sangat dominan sejak tahap awal perencanaan. 

“Jadi mulai dari pembuatan skrip, pembuatan properti, dan pembuatan musik. Untuk theme song kali ini memang yang satu dibuat dengan kerja sama antara guru dan murid. Tapi tadi yang terakhir itu (theme song kedua) memang buatan asli anak-anak,” papar Dita.

Seluruh elemen dekorasi properti hingga lagu tema utama di dalam pertunjukan ini juga diproduksi secara mandiri tanpa mengambil musik instan dari platform luar. 

“Jadi memang dari idenya, liriknya, nadanya, semua mereka yang bikin,” lanjut Dita.

Kemampuan anak-anak dalam memproduksi karya seni musik ini terbukti sangat matang, di mana mereka memegang kendali penuh atas aransemen instrumen performa mereka.

7. Playground menjadi ajang kerja sama antara guru dan murid

Penampilan Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Megoordinasikan ratusan anak dari berbagai jenjang pendidikan tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga kestabilan suasana hati anak-anak yang sering kali berubah-ubah selama proses latihan berjalan. 

Namun, Dita mengungkapkan kekagumannya terhadap kedewasaan sikap dan semangat juang yang ditunjukkan oleh para murid selama berbulan-bulan di lapangan basket sekolah yang sangat patut diacungi jempol.

“Biasanya kita latihan itu ada di lapangan basket sekolah. Itu memang sudah dibikin sebesar apa. Jadi mereka sebenarnya sudah terbiasa dengan ukurannya, tapi belum terbiasa dengan ukuran panggung,” jelas Dita.

Anak-anak dilatih di lapangan basket yang ukurannya sudah dimodifikasi menyerupai panggung asli, meskipun mereka hanya mendapatkan kesempatan satu kali gladi resik di panggung yang sesungguhnya.

8. Murid-murid yang terlibat dalam proses pembuatan pertunjukan

Penampilan Sekolah Cikal Amri Setu pada Playground of Sunda Kelapa di Ciputra Artpreneur
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Seluruh rangkaian kegiatan ini didukung oleh tiga orang stage manager (termasuk satu asisten dan satu murid kelas sebelas) yang membantu menyiapkan barang-barang setiap hari. Pentas ini melibatkan murid Sekolah Dasar kelas satu hingga empat, serta jenjang SMP dan SMA.

“Semuanya terlibat, untuk kelas 12 memang porsinya nggak boleh yang jadi cast atau musician karena mereka ikut ujian dan segala macem. Jadi mereka tadi terlibatnya menjadi kru kebanyakan,” jelas Dita.

Melalui ruang berekspresi yang tepat, anak-anak tidak hanya belajar mengasah bakat seni mereka, melainkan juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap warisan budaya Indonesia. 

Dukungan penuh dari orangtua dan bimbingan yang sabar dari para guru menjadi modal utama bagi anak-anak untuk berani berkarya, berempati lewat donasi, dan percaya diri menampilkan jati diri bangsa di atas panggung modern. 

Apakah Mama tertarik untuk mulai mengajak anak menonton pentas seni kebudayaan daerah untuk mengasah rasa cinta budayanya sejak dini?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More