Belakangan ini, ruang digital Indonesia dihebohkan oleh tindakan tidak bijak dari seorang TikToker dengan nama akun Xander (@violettaaxandrea) yang memicu kecaman luas akibat membuat konten video meniru ekspresi wajah tertentu secara tidak pantas.
5 Dampak Normalisasi Konten Ableism di Media Sosial

Kasus TikToker Xander memicu kecaman publik karena kontennya dianggap menyinggung anak berkebutuhan khusus dan menjadi contoh nyata diskriminasi atau ableism di ruang digital.
Normalisasi konten ofensif dinilai merusak empati, mendorong perundungan terhadap penyandang disabilitas, serta menghancurkan upaya menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan aman.
Para aktivis dan kreator edukasi menyerukan batasan etika baru agar keterbatasan fisik maupun mental tidak dijadikan bahan candaan demi popularitas di media sosial.
Konten tersebut dinilai sangat menyinggung dan merupakan bentuk diskriminasi nyata terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK).
Walaupun saat ini tiktoker yang bersangkutan diketahui sudah mengunggah video permohonan maaf secara terbuka ke publik, kasus ini dinilai tidak boleh lewat begitu saja dan harus tetap dijadikan perhatian serius sebagai bahan edukasi moral yang mendalam.
Berikut Popmama.com rangkum 5 dampak fatal dari meluasnya tren konten digital yang toksik tersebut!
Table of Content
1. Hilangnya self-censorship akibat terjebak dorongan FOMO

Maraknya tren viral di media sosial saat ini menciptakan sebuah dorongan psikologis yang sangat berbahaya bagi para pembuat konten untuk ikut-ikutan tanpa berpikir panjang.
Demi mengejar angka views, metrik interaksi, dan popularitas yang tinggi, para kreator kerap kali tega mengorbankan empati digital serta nalar sehat mereka saat memproduksi sebuah tayangan.
Ketika popularitas instan ini dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan di dunia maya, maka fself-censorship dalam diri kreator akan mati secara perlahan.
Akibatnya, konten-konten yang bersifat ofensif, merendahkan, dan tidak mendidik dapat lolos begitu saja ke ruang publik tanpa adanya penyaringan moral dasar terlebih dahulu dari sang pemilik akun.
2. Hancurnya harga diri kelompok disabilitas

Dampak yang paling menyakitkan dari tren digital ini adalah munculnya tindakan ableism atau diskriminasi terselubung terhadap para penyandang disabilitas di ruang siber.
Penggunaan ekspresi wajah "plenger" sebagai bahan hiburan atau lelucon komedi mempertegas tindakan ableism tersebut, di mana dampak utamanya adalah mereduksi identitas anak berkebutuhan khusus (ABK) menjadi sekadar objek tertawaan belaka.
Konten semacam ini juga memberikan hantaman emosional yang sangat berat dan menyakitkan bagi para orangtua ABK.
Di tengah perjuangan lahir batin mereka yang tanpa lelah membesarkan anak mereka secara layak dan penuh kasih sayang, ruang digital justru menyuguhkan konten yang memperlakukan kondisi fisik anak mereka sebagai lelucon receh yang hina.
3. Merebaknya aksi perundungan di kehidupan nyata

Semakin sering video ofensif dan tidak bijak seperti ini lewat di beranda media sosial masyarakat, maka dampaknya akan sangat berbahaya bagi perkembangan karakter penonton usia muda.
Masyarakat dan anak-anak akan mulai menganggap bahwa ejekan fisik merupakan hal yang lumrah, biasa, dan boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak turunan dari normalisasi digital ini bertindak sebagai lampu hijau yang memberikan pembenaran atas aksi perundungan atau bullying nyata terhadap anak-anak disabilitas di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Hal ini tentu sangat mengerikan karena anak-anak berkebutuhan khusus akan menjadi sasaran empuk kekerasan verbal oleh teman sebaya yang meniru konten medsos.
4. Runtuhnya fondasi inklusi dan meluasnya pengucilan sosial

Komunitas disabilitas, para orangtua, dan aktivis telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berjuang menciptakan lingkungan inklusif yang setara, ramah, dan menghargai hak asasi manusia.
Namun, kehadiran konten yang nir-empati dan eksploitatif seperti ini seketika langsung menghancurkan fondasi inklusi tersebut dan mempertebal stigma negatif yang melekat pada diri mereka.
Ruang digital yang tidak aman akibat maraknya ejekan fisik pada akhirnya akan membuat para penyandang disabilitas merasa cemas, terisolasi secara sosial, mengalami krisis kepercayaan diri, hingga enggan untuk berbaur di ruang publik yang nyata karena muncul rasa takut akan dihakimi atau ditertawakan oleh orang asing.
5. Terjebak dalam lingkaran setan industri kreatif yang toksik

Industri kreatif digital di tanah air berada dalam ancaman kemunduran moral yang parah jika konten penghinaan terhadap kelompok rentan terus dibiarkan lolos tanpa adanya sanksi.
Sistem algoritma media sosial akan terus merekomendasikan dan menaikkan konten yang toksik jika masyarakat tetap memberikan interaksi aktif berupa tanda like, komentar, dan komoditas share.
Hal ini menciptakan sebuah lingkaran setan konten ofensif yang sulit diputus.
Tanpa adanya kecaman masif dari netizen atas dampak buruk ini, kreator-kreator lain yang miskin ide akan mengira bahwa mengeksploitasi keterbatasan fisik dan mental manusia adalah formula cepat dan mudah untuk meraih popularitas, sehingga siklus buruk ini akan terus berulang di masa depan.
6. Kritik tajam demi batasan etika

Menghadapi rentetan dampak buruk yang kian meresahkan di atas, gelombang perlawanan dan kritik tajam akhirnya datang dari para pembuat konten edukasi dan aktivis.
Kreator edukasi sekaligus alumni Fakultas Hukum UI, Sadam Permana, menggunakan pengaruh digitalnya untuk memberikan tamparan keras kepada kreator yang tidak bijak.
"Semakin sering konten-konten ini dibuat, dan makin orang merasa ini lelucon, semakin dinormalisasi tindakan yang salah kayak gini," ujarnya di salah satu postingan Instagram pribadinya, @sadampermana.w.
Sadam menegaskan sebuah batasan etika baru di Indonesia bahwa keterbatasan fisik maupun mental manusia tidak akan pernah bisa ditoleransi sebagai komoditas candaan demi meraih keuntungan views semata.
Selain itu, Adam Prabata seorang Ph. D. in medical sciences Kobe University juga membagikan pandangannya di akun Thread pribadinya, @adamprabata.
“Video kaya begini termasuk ke dalam ableism yang merupakan bentuk prasanka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Hitungannya sudah MERENDAHKAN mereka!
Hal-hal kaya begini yang dinormalisasi, apalagi dijadikan konten hiburan, hitungannya GAK LUCU!,” tegasnya.
Melalui pemahaman mendalam mengenai deretan dampak buruk di atas, kita sebagai pengguna media sosial harus lebih bijak dan selektif lagi dalam mengonsumsi maupun membagikan konten.
Berhenti memberikan panggung bagi para kreator yang hobi mengeksploitasi keterbatasan fisik sesama manusia demi popularitas semata!



















