Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Cara Mendidik Anak Laki-Laki agar Tak Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual
Pexels/Alina Matveycheva
  • Kasus pelecehan seksual oleh mahasiswa FH UI jadi pengingat pentingnya peran orangtua dalam menanamkan empati dan rasa hormat pada anak laki-laki sejak dini.
  • Psikolog Hertha Christabelle menekankan pencegahan kekerasan seksual dimulai dari pola asuh sadar, seperti mengajarkan empati, mengenali emosi, serta memahami batasan tubuh dan consent.
  • Orangtua berperan sebagai teladan utama; sikap dan interaksi di rumah membentuk cara anak menghargai orang lain serta mencegah perilaku kekerasan di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus room chat pelecehan seksual yang terdiri dari anak-anak FH UI viral di internet. Ini menjadi pengingat jika peran orangtua penting dan sangat dibutuhkan dalam mendidik anak sejak dini agar menumbuhkan rasa empati.

Ini yang membuat mendidik anak laki-laki agar tumbuh dengan rasa hormat, empati, dan memahami batasan bukan hal instan. Dibutuhkan proses panjang yang dimulai sejak usia dini, bahkan dari hal-hal sederhana di rumah.

Menurut Psikolog Klinis, Hertha Christabelle, pencegahan kekerasan seksual bisa dimulai dari pola asuh sehari-hari yang konsisten dan penuh kesadaran.

Berikut Popmama.com rangkum cara mendidik anak laki-laki agar tak menjadi pelaku kekerasan seksual menurut psikolog.

1. Ajarkan empati sejak dini lewat cara sederhana

Pexels/Atlantic Ambience

Penanaman nilai anti-kekerasan kepada anak bisa dimulai dari hal paling dasar: mengenalkan empati dan rasa tidak nyaman pada anak. Di usia dini, pendekatan ini bisa dilakukan lewat cerita, boneka, atau permainan peran yang dekat dengan dunia anak.

Lewat cara ini, anak tidak hanya memahami aturan, tetapi juga belajar merasakan emosi orang lain.

“Penanaman nilai anti kekerasan pada anak laki-laki bisa dimulai dari memahami empati dan rasa tidak nyaman. Lewat cerita sederhana, anak diajak membayangkan bagaimana rasanya jika dirinya berada di posisi yang disakiti. Dari situ anak belajar bukan hanya mana yang benar dan salah, tapi juga merasakan proses emosinya,” jelas Hertha kepada Popmama.com, dihubungi secara khusus, Kamis (16/4/2026).

2. Biasakan anak berani menyuarakan perasaan

Pexels/Elina Fairytale

A man don't cry sudah menjadi istilah kuno, pasalnya anak baik perempuan dan laki-laki harus ditanamkan nilai untuk bisa mengenal emosi mereka. Selain memahami emosi, anak juga perlu belajar bahwa perasaan tidak nyaman boleh diungkapkan. 

Hal ini penting agar anak tidak memendam emosi sekaligus belajar menghargai perasaan orang lain. Orangtua bisa melatihnya lewat diskusi ringan atau bermain peran agar anak terbiasa mengenali dan menyampaikan emosi.

“Ketika anak merasakan sedih, marah, atau tidak nyaman, penting untuk mengajarkan bahwa perasaan itu valid dan boleh disampaikan. Anak perlu tahu bahwa ia punya suara dan berhak atas rasa aman, baik di rumah maupun di lingkungan sosialnya,” ungkap Hertha.

3. Tanamkan keberanian untuk tidak diam saat melihat kekerasan

Pexels/Анна Чулкова

Anak juga perlu diajarkan bahwa dalam situasi sosial, sikap diam bukan berarti netral. Mereka perlu memahami bahwa ada peran yang bisa diambil saat melihat orang lain disakiti.

Hal ini membantu anak tumbuh menjadi individu yang berani dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Anak bisa diajak berpikir, kalau ada yang disakiti dan yang lain hanya diam, apa dampaknya? Dari sini anak belajar bahwa diam juga pilihan yang punya konsekuensi. Ia bisa memilih untuk tidak ikut menertawakan, berani berkata tidak, atau mencari bantuan orang dewasa,” jelas Hertha.

4. Kenalkan konsep batasan tubuh dan consent sejak dini

Pexels/RDNE Stock project

Seiring bertambahnya usia, anak mulai bisa dikenalkan pada konsep tubuh, perbedaan gender, dan batasan pribadi. Ini menjadi fondasi penting dalam mencegah perilaku kekerasan di kemudian hari.

Konsep “consent” bisa diajarkan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti meminta izin sebelum menyentuh orang lain. Orangtua juga bisa mengajarkan ke anak dengan mencontohkan consent ini saat akan membantunya mengganti pakaian.

“Anak perlu dikenalkan bahwa setiap orang punya batasan. Misalnya dengan membiasakan meminta izin sebelum menyentuh, serta memahami bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh. Ini menjadi dasar penting untuk memahami consent sejak dini,” ujar Hertha.

5. Orangtua adalah contoh utama bagi anak

Pexels/Teja J

Pada akhirnya, anak belajar paling banyak dari apa yang ia lihat setiap hari. Pola interaksi di rumah akan sangat memengaruhi cara anak memandang hubungan dan menghargai orang lain.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk menjadi role model yang baik dalam bersikap dan berkomunikasi.

“Anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tapi dari apa yang ia lihat. Cara papa memperlakukan mama, bagaimana orangtua bercanda, hingga cara menyelesaikan konflik di rumah, semua itu menjadi contoh nyata bagi anak. Dari situlah nilai-nilai ini terbentuk secara alami,” tutup Hertha.

Dengan percontohan yang konsisten, anak laki-laki tidak hanya belajar tentang benar dan salah tetapi juga memahami, merasakan, dan mampu bersikap dengan empati. Dari sinilah pencegahan kekerasan bisa dimulai sejak dini.

Ini membentuk mental anak untuk bisa merasakan menjadi orang lain, sehingga tidak hanya mencegahnya menjadi pelaku tapi juga enabler.

Editorial Team