Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Begini Cara Mengajarkan Anak tentang Takdir lewat Doa
Pexels/Quang Nguyen Vinh
  • Orangtua dapat mengenalkan takdir melalui doa agar setiap ketetapan Allah bagi anak menjadi kebaikan, sambil menjelaskan bahwa hasil akhir berada dalam kuasa Allah.
  • Konsep takdir baik perlu dijelaskan lewat contoh sehari-hari, seperti jatuh saat belajar sepeda atau kalah lomba, agar anak memahami adanya pelajaran dari pengalaman tidak menyenangkan.
  • Anak diajak menyatukan ikhtiar dan doa, membiasakannya saat menghadapi momen penting, serta menerima hasil yang mengecewakan dengan berprasangka baik kepada Allah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap orangtua tentu ingin anaknya mendapatkan hal-hal terbaik dalam hidupnya. Mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga kesempatan untuk meraih cita-citanya ya. Tidak jarang, Mama juga mengajarkan anak untuk berdoa agar keinginannya dapat terwujud ya.

Mama, doa ternyata bisa menjadi lebih dari sekadar cara untuk meminta sesuatu kepada Allah SWT.

Melalui doa, Mama juga dapat perlahan mengenalkan kepada anak bahwa manusia boleh berusaha dan berharap, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah SWT.

Salah satu doa yang dapat dikenalkan adalah doa memohon agar setiap takdir yang ditetapkan Allah SWT untuk anak menjadi kebaikan. Dengan memahami arti doa tersebut, anak dapat belajar menerima hasil dengan lapang dada sekaligus tetap berprasangka baik kepada Allah SWT.

Berikut sudah Popmama.com telah merangkum cara mengajarkan anak tentang takdir lewat doa yang bisa Mama terapkan dalam keseharian.

Kenalkan Doa Memohon Takdir yang Baik kepada Anak

Pexels/Timur Weber

Mama bisa mulai mengenalkan konsep takdir kepada anak melalui doa yang sederhana dan mudah dipahami. Salah satunya dengan mengajarkan doa yang diriwayatkan dalam HR. Ibnu Majah No. 3846.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِلأَوْلاَدِنَا خَيْرًا

Allahumma innaa nas-aluka an taj'ala kulla qodhoo-in qodhoitahu li awlaadinaa khoiron.

Artinya: Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah setiap takdir yang telah Engkau tetapkan untuk anak-anak kami sebagai takdir yang penuh kebaikan.

Saat mengajarkannya, Mama tidak perlu hanya meminta anak menghafalkan bacaan tersebut.

Jelaskan maknanya dengan bahasa sederhana, misalnya, “Kita meminta kepada Allah agar apapun yang terjadi dalam hidup membawa kebaikan ya, Nak.”

Dengan begitu, anak mulai memahami bahwa berdoa bukan hanya tentang meminta sesuatu terjadi sesuai keinginannya. Anak juga belajar bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendalinya dan tetap perlu diserahkan kepada Allah SWT.

Jelaskan Makna “Takdir yang Baik” dengan Contoh Sederhana

Pexels/Werner Pfennig

Anak usia 6–9 tahun membutuhkan pemahaman yang nyata dan dekat dengan dunia kesehariannya. Di rentang usia ini, anak belum sepenuhnya paham konsep abstrak tentang takdir, ya.

Mama perlu menjelaskan bahwa takdir yang baik tidak selalu berarti semua keinginannya langsung terwujud, mendapat nilai sempurna, atau selalu menjadi pemenang.

Cobalah memberikan analogi sederhana yang mudah dicerna oleh si Anak. Misalnya, saat ia sedang belajar naik sepeda lalu sempat terjatuh.

Rasa sakit atau luka akibat terjatuh memang terasa kurang menyenangkan, tetapi momen tersebut adalah bagian dari takdir baik agar ia belajar lebih berhati-hati, menjaga keseimbangan, dan akhirnya mahir mengendarai sepeda.

Begitu pula ketika ia kalah dalam sebuah permainan atau perlombaan di sekolah. Mama bisa menyampaikan bahwa kekalahan tersebut hadir untuk memberinya kesempatan belajar berlatih lebih giat lagi.

Lewat analogi dan penjelasan nyata ini, anak akan mulai paham bahwa takdir baik adalah setiap ketetapan Allah yang membawa pelajaran berharga bagi proses tumbuh kembangnya.

Ajarkan Anak Berusaha Sambil Memanjatkan Doa

Pexels/PPM Al-Hassan Putra

Mama, anak perlu memahami bahwa doa dan usaha (ikhtiar) adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ajarkan ia bahwa doa bukanlah mantra ajaib yang bisa mewujudkan sesuatu tanpa adanya tindakan nyata.

Berikan pemahaman logis dengan contoh sederhana, seperti saat ia ingin meraih nilai ujian yang bagus di sekolah. Anak tidak bisa hanya berserah dan berdoa tanpa membuka buku pelajaran sama sekali.

Ajak anak untuk selalu melakukan bagian terbaiknya terlebih dahulu, mulai dari belajar dengan tekun, mendengarkan penjelasan guru, hingga berlatih soal. Setelah seluruh usahanya maksimal, barulah ia memanjatkan doa memohon takdir terbaik kepada Allah SWT.

Lewat cara ini, anak akan belajar bahwa manusia berkewajiban untuk berusaha semampunya, sedangkan hasil akhir adalah wewenang Allah.

Pendekatan ini sangat efektif melatih kemandirian, tanggung jawab, serta karakter pantang menyerah dalam diri anak sejak dini, Ma.

Biasakan Membaca Doa saat Anak Menghadapi Sesuatu yang Dinantikan

Pexels/Nadim Shaikh

Momen-momen krusial saat anak sedang merasa cemas atau berdebar-debar adalah waktu terbaik untuk mempraktikkan doa ini secara langsung, Ma.

Misalnya, di pagi hari sebelum anak berangkat sekolah untuk menghadapi ujian atau ketika menunggu hasil perlombaan. Mama bisa memegang tangannya, menepuk lembut pundaknya, atau mengelus kepalanya sambil mengajak ia melafalkan doa memohon takdir baik bersama-sama.

Pembiasaan di momen yang tepat ini akan melatih anak untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap urusan dan perasaan yang sedang ia alami.

Selain memberikan rasa tenang dan rasa aman, kebiasaan positif ini mengajarkan anak untuk tidak menanggung beban kecemasannya sendirian.

Anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa ia selalu memiliki tempat bersandar yaitu Allah SWT dalam situasi apapun.

Ajarkan Anak Menerima Hasil dengan Berprasangka Baik kepada Allah

Pexels/Timur Weber

Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah membimbing si anak untuk mengelola emosinya saat hasil yang diterima tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Di usia 6–9 tahun, anak sangat rentan merasa kecewa, hingga marah ketika mengalami kegagalan. Apalagi jika mendapat nilai di bawah target atau kalah dalam kompetisi ya.

Momen inilah saat yang paling tepat bagi Mama untuk menanamkan sikap husnudzon atau berprasangka baik kepada ketetapan Allah.

Jelaskan kepada anak bahwa setiap doa memohon takdir baik yang dipanjatkannya selalu didengar oleh Allah. Jika hasil akhirnya belum sesuai dengan harapannya, itu bukan berarti doanya tidak dikabulkan, melainkan Allah tahu ada kebaikan lain yang jauh lebih besar untuknya di masa depan.

Ajak anak untuk melihat hikmah di balik peristiwa tersebut, misalnya menjadi lebih rajin belajar atau lebih kuat. Dengan pendampingan yang hangat ini, anak belajar menerima rasa kecewa dengan lapang dada tanpa menyalahkan diri sendiri maupun orang lain.

Dengan pemahaman yang tepat anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang pantang menyerah saat menghadapi tantangan, tetapi juga memiliki fondasi spiritual yang kokoh dalam menerima setiap ketetapan Allah. Semoga anak mama senantiasa berada dalam perlindungan dan ketetapan terbaik-Nya ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article