Inovatif! Mahasiswa UB Ciptakan Rompi Pintar untuk Anak Autis

Mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan ADAPT-V, rompi pintar berbasis Deep Pressure Therapy untuk mendeteksi tanda stres fisiologis dan memberi tekanan lembut sebelum anak dengan ASD mengalami tantrum.
Rompi memakai sensor denyut nadi dan gerakan, algoritma Support Vector Machine, serta ESP32 yang mengaktifkan kantung udara secara real-time ketika sistem mengenali indikasi fase tantrum.
Keamanan tekanan dijaga melalui algoritma PID dan sensor tekanan; ADAPT-V juga terhubung IoT untuk pemantauan smartphone, serta telah diuji secara teknis dan dievaluasi bersama terapis.
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam merespons berbagai rangsangan di sekitarnya. Bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), rangsangan tertentu terkadang dapat terasa begitu kuat hingga memicu luapan emosi atau tantrum.
Kondisi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan inovasi berupa rompi pintar bernama ADAPT-V.
Rompi ini dirancang untuk mendeteksi tanda-tanda stres fisiologis sekaligus memberikan tekanan lembut yang diharapkan dapat membantu anak merasa lebih tenang.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026.
ADAPT-V memanfaatkan konsep Deep Pressure Therapy (DPT), yaitu pemberian tekanan terkontrol pada tubuh yang memberikan sensasi seperti pelukan.
Berikut Popmama.com telah merangkum informasi selengkapnya. Yuk, simak!
1. ADAPT-V dirancang untuk membantu anak sebelum tantrum

prasetya.ub.ac.id Tim mahasiswa UB melihat adanya tantangan yang dapat dialami anak dengan ASD ketika menghadapi rangsangan sensorik tertentu. Respons tersebut dapat muncul dalam bentuk menangis, berteriak, menendang, hingga perilaku agresif.
Melalui ADAPT-V, tim mencoba menghadirkan sistem yang dapat memberikan respons lebih awal ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda mengalami tekanan emosional.
Rompi ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi dilengkapi sistem yang dapat membaca kondisi tubuh dan gerakan anak secara otomatis.
Muhammad Nafis Khilmi, salah satu anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, menjelaskan bahwa DPT digunakan untuk memberikan tekanan terkontrol pada tubuh sehingga menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan hangat.
Konsep tersebut diharapkan dapat membantu memberikan efek relaksasi sehingga anak memiliki dukungan ketika mulai mengalami peningkatan emosi.
2. Rompi menggunakan sensor dan kecerdasan buatan

Instagram.com/adaptv.ub ADAPT-V dibuat dengan menggabungkan sejumlah komponen teknologi agar dapat bekerja secara otomatis. Sensor MAX30102 digunakan untuk membaca denyut nadi, sementara sensor MPU6050 membantu memetakan pola gerakan anak.
Data dari kedua sensor tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM). Sistem ini dirancang untuk membantu mengenali kondisi ketika anak mulai memasuki fase tantrum.
Ketika kondisi tersebut terdeteksi, mikrokontroler ESP32 akan mengaktifkan pompa udara untuk mengisi kantung udara yang berada di dalam rompi.
Tekanan kemudian diberikan secara terkontrol sesuai sistem yang telah dirancang oleh tim.
Dengan mekanisme tersebut, ADAPT-V diharapkan dapat memberikan respons secara real-time tanpa sepenuhnya mengandalkan pengaturan manual dari orangtua atau terapis.
3. Tekanan rompi diatur agar tetap stabil

Instagram.com/adaptv.ub Keamanan menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam pengembangan ADAPT-V. Tekanan udara yang diberikan kepada tubuh anak tidak boleh berlangsung secara sembarangan sehingga tim menambahkan sistem pengendali khusus.
Algoritma Proportional Integral Derivative (PID) digunakan bersama sensor tekanan MPX5100DP untuk membantu menjaga tekanan udara tetap berada pada batas yang telah ditentukan.
Ketika sistem mendeteksi kondisi anak sudah kembali tenang, katup solenoid akan terbuka secara perlahan sehingga udara di dalam rompi dapat keluar.
Dengan begitu, tekanan pada tubuh anak tidak terus diberikan ketika sudah tidak dibutuhkan.
ADAPT-V juga terhubung dengan sistem Internet of Things (IoT). Data aktivitas anak dan respons rompi dapat dikirimkan melalui Wi-Fi ke aplikasi smartphone sehingga orangtua atau terapis dapat melakukan pemantauan dari jarak jauh.
4. Sudah melalui pengujian dan evaluasi terapis

Instagram.com/adaptv.ub Sebelum dikembangkan lebih jauh, ADAPT-V telah melewati sejumlah pengujian teknis. Tim menguji akurasi sensor, respons algoritma dalam mengklasifikasikan kondisi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udara.
Pengujian juga tidak hanya dilakukan dari sisi teknologi. Tim melibatkan para terapis di lembaga pendidikan inklusif untuk mengevaluasi alat secara langsung.
Hal ini dilakukan untuk mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, serta kemudahan penggunaan ketika nantinya diaplikasikan kepada anak.
Tim pengembang terdiri dari Zakky Yahya, Yahya, Sugih Rizkiawan, Emilia Soleha, Faadhila Athaiyya, dan Nafis Khilmi.
Mereka mendapatkan bimbingan dari Ir. Nurussa’adah, M.T. serta DR. dr. Agung Riyanto Budi S., SpOT dalam program PKM-KC 2026.
Kehadiran ADAPT-V menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa mencoba menghadirkan inovasi yang berangkat dari kebutuhan di sekitar mereka.
Tim berharap rompi pintar ini dapat terus disempurnakan sehingga nantinya mampu menjadi solusi yang lebih aman, nyaman, dan bermanfaat bagi anak dengan ASD serta orang-orang yang mendampinginya.
Itulah salah satu inovasi yang lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap kebutuhan anak dengan autisme.
Semoga ADAPT-V dapat terus dikembangkan dan semakin sempurna, sehingga ke depannya bisa memberikan dukungan yang aman dan nyaman bagi anak serta orang-orang yang mendampinginya.





















