Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Cara Mengatasi Anak yang Mudah Terpengaruh Pergaulan Negatif
Freepik/freepik
  • Artikel menyoroti pentingnya peran orangtua dalam membentuk karakter anak agar tidak mudah terpengaruh pergaulan negatif melalui komunikasi terbuka dan pendampingan yang empatik.
  • Ditekankan perlunya menanamkan nilai, prinsip, serta kemampuan berpikir kritis sejak dini agar anak mampu membuat keputusan mandiri dan bertanggung jawab atas pilihannya.
  • Orangtua dianjurkan menjadi teladan positif, mengarahkan anak pada kegiatan bermanfaat, serta mengawasi penggunaan media sosial untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang sehat dan berimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masa anak-anak merupakan fase penting dalam membentuk karakter dan jati diri. Di masa ini, anak mulai mengenal lingkungan sosial yang lebih luas, bertemu teman-teman baru, dan belajar beradaptasi dengan berbagai pengaruh di sekitarnya.

Sayangnya, tidak semua pergaulan memberikan dampak positif. Ada kalanya anak mudah mengikuti ajakan teman tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, sehingga berisiko terjerumus ke dalam pergaulan negatif.

Sebagai orangtua, melihat anak mudah terpengaruh oleh lingkungan tentu bisa menimbulkan kekhawatiran.

Namun, kondisi ini bukan berarti anak memiliki kepribadian yang buruk. Kemampuan untuk berpikir kritis, menetapkan batasan, dan berani mengatakan 'tidak' merupakan keterampilan yang perlu dilatih sejak dini melalui pendampingan orangtua.

Berikut Popmama.com telah merangkum 10 cara mengatasi anak yang mudah terpengaruh pergaulan negatif.

1. Bangun komunikasi yang terbuka dengan anak

Pexels/Nasirun Khan

Komunikasi yang baik menjadi fondasi utama agar anak merasa nyaman bercerita kepada orangtua. Biasakan mengajak anak mengobrol setiap hari, baik tentang kegiatan di sekolah, teman-temannya, maupun hal-hal yang sedang ia rasakan.

Dengan begitu, orangtua dapat lebih cepat mengetahui jika ada perubahan perilaku atau pengaruh yang kurang baik dari lingkungannya. Saat anak bercerita, hindari langsung menghakimi atau memarahinya.

Dengarkan terlebih dahulu sudut pandangnya dan berikan respons yang penuh empati. Sikap ini akan membuat anak merasa dihargai, sehingga ia tidak ragu meminta saran ketika menghadapi tekanan dari teman sebaya.

2. Ajarkan anak memiliki pendirian yang kuat

Pexels/mikhail nilov

Anak yang memiliki kepercayaan diri dan pendirian kuat cenderung tidak mudah mengikuti ajakan orang lain hanya karena ingin diterima dalam kelompok. \

Orangtua dapat melatih kemampuan ini dengan membiasakan anak mengemukakan pendapat dan membuat keputusan sederhana sesuai usianya.

Selain itu, ajarkan bahwa tidak semua orang harus setuju dengan pilihannya. Anak perlu memahami bahwa mengatakan "tidak" terhadap ajakan yang salah, bukan berarti ia menjadi teman yang buruk, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

3. Kenali lingkungan pertemanan anak

Pexels/Pew Nguyen

Orangtua tidak harus mengawasi anak secara berlebihan, tetapi penting untuk mengetahui dengan siapa ia sering menghabiskan waktu. Mengenal teman-teman anak beserta keluarganya dapat membantu orangtua memahami lingkungan sosial yang memengaruhi tumbuh kembangnya.

Sesekali ajak teman anak berkunjung ke rumah atau ikut menghadiri kegiatan sekolah. Dari situ, orangtua bisa melihat pola interaksi mereka sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat tanpa membuat anak merasa dikekang.

4. Tanamkan nilai dan prinsip sejak dini

Pexels/Kampus Production

Anak akan lebih mudah membedakan mana yang benar dan salah apabila sejak kecil telah dibekali nilai-nilai kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat, dan empati.

Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman saat ia harus mengambil keputusan di luar pengawasan orangtua. Penanaman karakter tidak cukup hanya melalui nasihat, tetapi juga lewat contoh nyata.

Anak cenderung meniru perilaku orangtuanya, sehingga penting bagi Mama dan Papa untuk menunjukkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai positif.

5. Latih anak untuk berpikir kritis

Pexels/Ketut Subiyanto

Kemampuan berpikir kritis membantu anak tidak mudah percaya atau mengikuti sesuatu hanya karena dilakukan oleh banyak orang. Dorong anak untuk bertanya, mempertimbangkan risiko, dan memikirkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.

Misalnya, ketika anak bercerita tentang tren yang sedang populer di kalangan teman-temannya, ajak ia berdiskusi mengenai manfaat, dampak, dan kemungkinan risiko dari tren tersebut.

Kebiasaan ini akan melatih anak membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.

6. Berikan kesempatan memilih dan bertanggung jawab

Pexels/Alex Green

Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan sehari-hari dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab. Orangtua bisa mulai dari hal sederhana, seperti memilih kegiatan ekstrakurikuler, mengatur jadwal belajar, atau menentukan hobi yang ingin ditekuni.

Ketika anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya, ia juga akan lebih percaya diri menghadapi tekanan dari lingkungan. Anak menjadi tidak mudah mengikuti orang lain hanya karena takut dianggap berbeda.

7. Arahkan anak pada kegiatan yang positif

Unsplash/Getty Images

Mengikuti kegiatan yang bermanfaat dapat mengurangi risiko anak menghabiskan waktu di lingkungan kurang sehat. Ajak anak mengikuti aktivitas sesuai minatnya, seperti olahraga, seni, musik, organisasi, atau kegiatan sosial.

Selain mengembangkan bakat, anak juga berkesempatan bertemu teman-teman yang memiliki tujuan dan minat serupa. Lingkungan positif seperti ini dapat menjadi faktor pelindung dari pengaruh pergaulan yang negatif.

8. Ajarkan cara menghadapi tekanan dari teman sebaya

Pexels/Pavel Danilyuk

Tekanan dari teman sebaya atau peer pressure sering kali menjadi alasan anak melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk melatih anak menghadapi situasi tersebut melalui diskusi atau simulasi sederhana.

Misalnya, latih anak mengucapkan kalimat penolakan dengan sopan tetapi tegas, seperti, "Maaf, aku nggak mau ikut," atau "Aku lebih memilih pulang." Dengan latihan yang berulang, anak akan lebih siap ketika menghadapi situasi serupa di dunia nyata.

9. Awasi penggunaan media sosial dan internet

Pexels/Harrison Haines

Pengaruh negatif tidak hanya berasal dari lingkungan secara langsung, tetapi juga dari media sosial. Anak dapat dengan mudah terpapar tren, tantangan, atau konten yang mendorong perilaku berisiko jika tidak didampingi dengan baik.

Alih-alih melarang sepenuhnya, dampingi anak saat menggunakan internet dan ajarkan etika digital. Diskusikan juga bahwa tidak semua hal yang viral atau dilakukan banyak orang layak untuk diikuti.

10. Orangtua perlu jadi teladan yang baik bagi anak

Pexels/Kampus Production

Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat. Oleh karena itu, orangtua perlu menjadi contoh dalam memilih lingkungan pergaulan, menjaga sikap, serta mengambil keputusan yang bijaksana.

Ketika anak melihat orangtuanya mampu mempertahankan prinsip, menghargai orang lain, dan berani menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai keluarga, ia akan lebih mudah meniru perilaku tersebut.

Keteladanan konsisten menjadi bekal penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan negatif.

Itu dia beberapa cara mengatasi anak yang mudah terpengaruh pergaulan negatif. Semoga bisa diajarkan ke anak, ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article