Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan saat Anak Sedang Bercerita

7 Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan saat Anak Sedang Bercerita
Pexels/Ketut Subiyanto
Intinya Sih
  • Psikolog Pritta Tyas menekankan pentingnya mendengarkan anak dengan penuh perhatian tanpa menyela, mengoreksi, atau langsung memberi solusi agar anak merasa dihargai dan aman bercerita.
  • Banyak orangtua tanpa sadar mendengarkan sambil berasumsi atau terburu-buru menanggapi, padahal sikap ini bisa membuat anak enggan terbuka dan memilih memendam perasaannya.
  • Mendengarkan dengan empati, menunjukkan ketertarikan, serta menghargai keberanian anak untuk bercerita menjadi kunci membangun hubungan emosional yang hangat antara orangtua dan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendengar anak bercerita mungkin terdengar sederhana, tetapi pada praktiknya tidak selalu mudah dilakukan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, orangtua sering kali mendengarkan sambil mengerjakan pekerjaan lain, memikirkan hal berikutnya, atau bahkan sudah menyiapkan jawaban sebelum anak selesai berbicara.

Padahal, momen ketika anak memilih untuk bercerita merupakan kesempatan berharga untuk membangun kedekatan emosional.

Saat anak merasa didengarkan tanpa dihakimi, ia akan belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Namun, jika anak terlalu sering dipotong, disanggah, atau langsung diberi nasihat, ia bisa merasa bahwa ceritanya tidak benar-benar dihargai.

Psikolog Pritta Tyas melalui unggahannya di Instagram @pritta_tyas menjelaskan bahwa banyak orangtua tanpa sadar melakukan beberapa kebiasaan yang membuat proses mendengarkan menjadi kurang mindful.

Kebiasaan ini umumnya bukan karena tidak menyayangi anak, melainkan karena otak terbiasa membuat prediksi berdasarkan pengalaman sebelumnya sehingga kita merasa sudah mengetahui akhir dari cerita yang akan disampaikan.

Lalu, apa saja kesalahan yang sering dilakukan orangtua saat anak bercerita? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.

1. Langsung menyela sebelum anak selesai bercerita

Jangan menyela ketika anak belum selesai bercerita
Pexels/Nicola Barts

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan orangtua adalah menyela ketika anak belum selesai mengungkapkan isi pikirannya.

Hal ini biasanya terjadi karena orangtua merasa sudah memahami arah pembicaraan atau ingin segera memberikan tanggapan.

Padahal, bagi anak, kesempatan untuk menyelesaikan ceritanya merupakan bentuk penghargaan terhadap apa yang sedang ia rasakan.

Menurut psikolog Pritta Tyas, anak membutuhkan waktu dan ruang untuk mengeluarkan seluruh pikiran, ide, serta emosinya, meskipun penyampaiannya masih berantakan dan belum runtut.

Ketika orangtua memotong pembicaraan di tengah jalan, anak bisa merasa bahwa pendapatnya kurang penting atau tidak layak didengar.

Jika hal ini terus berulang, bukan tidak mungkin anak akan memilih menyimpan masalahnya sendiri daripada mencoba bercerita lagi.

Sebagai gantinya, cobalah memberikan perhatian penuh saat anak berbicara.

Tatap matanya, hentikan aktivitas sejenak jika memungkinkan, dan biarkan ia menyelesaikan cerita hingga tuntas.

Mama dan Papa tidak harus langsung memberikan solusi.

Terkadang, menjadi pendengar yang sabar justru merupakan bentuk dukungan terbesar yang dibutuhkan anak agar ia merasa aman untuk terus terbuka kepada Mama dan Papa.

2. Merasa Sudah Tahu Isi atau Akhir Cerita Anak

Respons cerita anak seperti memiliki rasa ingin tahu
Pexels/Yan Krukau

Karena sudah mengenal anak sejak kecil, banyak orangtua merasa bisa menebak apa yang akan disampaikan bahkan sebelum anak selesai berbicara.

Misalnya, saat anak mulai mengeluh tentang temannya di sekolah, orangtua langsung berasumsi bahwa penyebabnya sama seperti kejadian sebelumnya.

Akibatnya, respons pun diberikan sebelum anak benar-benar selesai menceritakan apa yang terjadi.

Ada kemungkinan anak ingin menyampaikan sudut pandang baru, perasaan yang lebih dalam, atau masalah yang tidak pernah diceritakan sebelumnya.

Ketika orangtua langsung menyimpulkan, anak dapat merasa tidak benar-benar didengarkan.

Lama-kelamaan, anak mungkin berpikir bahwa bercerita tidak ada gunanya karena orangtuanya sudah memiliki jawaban sendiri.

Agar komunikasi tetap terjalin dengan baik, cobalah mendengarkan cerita anak dengan rasa ingin tahu, bukan dengan asumsi.

Berikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan cerita hingga selesai, lalu ajukan pertanyaan sederhana seperti:

"Terus bagaimana?" atau "Lalu apa yang kamu rasakan?"

Respons seperti ini menunjukkan bahwa Mama dan Papa benar-benar tertarik mendengarkan, sekaligus membantu anak merasa dihargai dan dipahami.

3. Terburu-buru Memberikan Solusi atau Nasihat

Jangan terburu-buru memberikan nasihat atau solusi ke anak
Pexels/MART PRODUCTION

Ketika mendengar anak menghadapi masalah, naluri banyak orangtua adalah segera mencari jalan keluar.

Mereka ingin anak tidak lagi sedih, kecewa, atau bingung sehingga nasihat dan solusi pun langsung diberikan.

Niat ini tentu baik, tetapi jika dilakukan terlalu cepat, anak justru bisa merasa bahwa perasaannya belum sempat dipahami.

Psikolog Pritta Tyas menjelaskan bahwa salah satu alasan orangtua sulit mendengarkan dengan mindful adalah karena tidak sabar untuk segera memberikan way out dari cerita atau permasalahan yang disampaikan anak.

Padahal, saat anak mulai bercerita, belum tentu ia sedang meminta solusi.

Sering kali mereka hanya ingin meluapkan isi hati dan memastikan ada seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

Ketika orangtua langsung memberi saran seperti:

"Makanya lain kali jangan begitu," atau "Harusnya kamu tadi bilang begini."

Fokus pembicaraan dapat bergeser dari perasaan anak ke cara menyelesaikan masalah.

Akibatnya, anak merasa harus segera berhenti merasa sedih dan mengikuti solusi yang diberikan, padahal emosinya belum benar-benar tervalidasi.

Sesekali, cobalah menahan diri sebelum memberikan nasihat.

Dengarkan cerita anak hingga selesai, lalu tunjukkan bahwa Mama dan Papa memahami apa yang sedang anak rasakan.

4. Langsung Menyanggah atau Mengoreksi Cerita Anak

Hindari untuk mengoreksi anak ketika sedang bercerita
Pexels/Annushka Ahuja

Tidak sedikit orangtua yang refleks menyanggah cerita anak ketika mendengar sesuatu yang dirasa kurang tepat.

Misalnya dengan mengatakan:

"Ah, masa begitu?" atau "Kamu pasti yang salah."

Respons spontan seperti ini sering muncul karena orangtua sudah memiliki penilaian sendiri terhadap situasi yang sedang diceritakan anak.

Padahal, menyanggah terlalu cepat dapat membuat anak merasa pengalaman dan perasaannya tidak dipercaya.

Menurut psikolog Pritta Tyas, salah satu penyebab orangtua sulit mendengarkan dengan penuh perhatian adalah karena sudah memiliki persepsi bahwa apa yang disampaikan anak pada akhirnya hanya akan merepotkan atau merupakan sebuah kesalahan.

Persepsi tersebut membuat orangtua ingin segera mengoreksi atau membantah, bahkan sebelum memahami keseluruhan cerita.

Perlu diingat bahwa menerima cerita anak bukan berarti selalu menyetujui semua tindakan atau pendapatnya.

Menerima lebih berarti memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan apa yang ia alami tanpa takut langsung dihakimi.

Ketika anak merasa diterima, ia akan lebih terbuka untuk berdiskusi, bahkan lebih mudah menerima arahan setelah emosinya mulai tenang.

Sebelum memberikan penilaian, cobalah mendengarkan hingga anak selesai berbicara.

5. Beranggapan Cerita Anak Hanya Akan Merepotkan

Jangan beranggapan bahwa cerita anak itu merepotkan
Pexels/RDNE Stock project

Di tengah kesibukan, biasanya orangtua langsung berpikir bahwa cerita anak akan berujung pada masalah baru yang harus diselesaikan.

Misalnya, ketika anak memanggil untuk bercerita, orangtua sudah lebih dulu membayangkan ada konflik di sekolah, permintaan tertentu, atau kesalahan yang harus dibereskan.

Pikiran seperti ini membuat orangtua cenderung mendengarkan dengan setengah hati atau bahkan berharap cerita anak segera selesai.

Menurut psikolog Pritta Tyas, persepsi bahwa cerita anak akan berakhir dengan sesuatu yang merepotkan menjadi salah satu alasan mengapa orangtua sulit mendengarkan secara mindful.

Padahal, tidak semua cerita anak berisi masalah besar.

Ada kalanya mereka hanya ingin berbagi pengalaman menyenangkan, menceritakan hal lucu yang terjadi di sekolah, atau menunjukkan sesuatu yang membuat mereka bangga.

Jika orangtua terus menunjukkan sikap seolah-olah cerita anak adalah beban, anak bisa menangkap sinyal bahwa kehadirannya mengganggu.

Lama-kelamaan, ia mungkin memilih memendam perasaan atau mencari orang lain yang dianggap lebih bersedia mendengarkan.

Karena itu, cobalah menyambut setiap cerita anak dengan rasa penasaran, bukan dengan prasangka.

Luangkan beberapa menit untuk benar-benar mendengarkan dan tunjukkan antusiasme melalui kontak mata, senyuman, atau pertanyaan sederhana.

6. Tidak Menunjukkan Ketertarikan saat Anak Bercerita

Berikan respons yang menunjukkan ketertarikan pada cerita anak
Pexels/Kampus Production

Banyak orangtua yang tanpa sadar memberikan respons yang terkesan datar karena sedang lelah, sibuk, atau membagi fokus dengan pekerjaan lain.

Bagi orang dewasa hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi bagi anak, respons tersebut bisa membuatnya merasa bahwa ceritanya tidak begitu penting.

Ketertarikan ini tidak harus ditunjukkan dengan respons yang berlebihan, melainkan melalui perhatian sederhana seperti melakukan kontak mata, menganggukkan kepala, mengulang sebagian cerita anak, atau mengajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa Mama dan Papa mengikuti alur ceritanya.

Respons seperti ini memberikan pesan kepada anak bahwa apa yang ia pikirkan dan rasakan layak untuk didengarkan.

Sebaliknya, jika orangtua tampak tidak antusias atau terus terdistraksi, anak bisa menganggap bahwa bercerita kepada orangtuanya tidak memberikan rasa nyaman maupun perhatian yang ia harapkan.

Akibatnya, frekuensi anak untuk berbagi cerita pun bisa semakin berkurang.

Sesekali, cobalah menghentikan aktivitas selama beberapa menit ketika anak mulai berbicara.

Menyimpan ponsel, menatap wajah anak, dan memberikan respons yang hangat mungkin hanya membutuhkan waktu singkat, tetapi dampaknya sangat besar.

7. Lupa Menghargai Keberanian Anak untuk Bercerita

Hargai anak ketika sudah berani untuk bercerita kepada orangtua
Pexels/Julia M Cameron

Tidak semua anak mudah mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Bagi sebagian anak, menceritakan pengalaman, kesalahan, atau perasaan yang sedang dialami membutuhkan keberanian yang besar.

Karena itu, saat anak akhirnya memilih untuk terbuka kepada orangtuanya, momen tersebut sebaiknya disambut dengan rasa syukur, bukan langsung diisi dengan kritik atau penilaian.

Psikolog Pritta Tyas mengingatkan bahwa setiap kali anak berani menyampaikan pikiran dan perasaannya, orangtua perlu menghargai keberanian tersebut.

Bahkan jika cerita yang disampaikan masih berantakan, sulit dipahami, atau berkaitan dengan kesalahan yang telah mereka lakukan, anak tetap membutuhkan penerimaan.

Perlu dipahami bahwa menerima bukan berarti menyetujui semua tindakan anak, melainkan memberikan ruang agar mereka merasa aman untuk jujur tanpa takut langsung dihakimi.

Rasa aman inilah yang menjadi fondasi hubungan antara orangtua dan anak.

Pritta Tyas juga membagikan tiga self-talk sederhana yang bisa diingat orangtua sebelum merespons cerita anak, yaitu:

  • anak butuh aku sebagai pendengar yang baik, bukan advisor yang pintar,
  • setiap kali dia merasa aman bercerita, kita sedang membangun hubungan yang akan ia cari saat masalahnya jauh lebih besar nanti,
  • perlu keberanian untuk dia bisa menyampaikan semua pikiran dan perasaannya, hargai ya.

Dengan mengingat tiga kalimat ini, orangtua dapat lebih mudah menahan diri untuk tidak terburu-buru menghakimi, sekaligus menciptakan ruang komunikasi yang hangat dan penuh kepercayaan di dalam keluarga.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More