Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
15 Kalimat yang Bisa Anak Katakan saat Menghadapi Ejekan di Sekolah
Unsplash/La Fabbrica Dei Sogni
  • Anak dapat menggunakan kalimat tegas untuk menyampaikan ketidaknyamanan saat menghadapi ejekan dari teman sebaya.

  • Orangtua perlu mengajarkan anak menetapkan batasan, tetap tenang, dan menghargai perbedaan dalam pertemanan.

  • Jika ejekan berulang atau disertai ancaman, intimidasi, dan tindakan fisik, anak dapat meminta bantuan guru atau orang dewasa tepercaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sekolah menjadi tempat bagi anak untuk belajar, bermain, dan membangun pertemanan. Namun, dalam prosesnya, anak mungkin menghadapi pengalaman yang kurang menyenangkan, salah satunya menjadi sasaran ejekan dari teman sebaya.

Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan, mulai dari perbedaan penampilan, kebiasaan, hingga hal-hal pribadi yang dijadikan bahan bercandaan. Sebagai orangtua, Mama dan Papa perlu membekali anak dengan kemampuan untuk menghadapi situasi tersebut secara tepat.

Anak perlu memahami bahwa mereka berhak mendapatkan perlakuan yang baik dan tidak harus menerima perkataan yang menyakiti perasaan.

Berikut Popmama.com telah rangkum 15 kalimat yang bisa anak katakan saat menghadapi ejekan di sekolah.

1. Mengajarkan anak untuk tidak takut menghadapi penolakan

Freepik/gpointstudio

Anak mungkin pernah mengalami penolakan saat ingin bermain bersama teman-temannya. Situasi ini bisa terasa menyedihkan, terutama ketika anak merasa tidak diterima dalam kelompok pertemanannya.

“Kalau nggak mau main sama aku nggak apa-apa, aku bisa main sama teman yang lain.”

Kalimat ini membantu anak memahami bahwa tidak semua orang harus menjadi temannya. Penolakan dari satu orang bukan berarti dirinya tidak berharga karena masih ada kesempatan untuk membangun pertemanan dengan orang lain.

2. Membantu anak menetapkan batasan terhadap urusan pribadi

Pexels/Ron Lach

Terkadang, anak mendapatkan ejekan karena hal-hal pribadi, seperti kesukaan, kebiasaan, atau pilihan yang berbeda dari teman-temannya. Jika hal tersebut tidak merugikan orang lain, anak berhak merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

“Terus kenapa kalau iya? Bukan urusan kamu, kan?”

Ajarkan kalimat ini untuk menunjukkan bahwa anak tidak harus selalu menjelaskan urusan pribadinya kepada orang lain. Namun, ajarkan anak untuk menyampaikannya dengan tenang agar tidak memicu pertengkaran.

3. Mengajarkan anak agar tidak mudah terpengaruh oleh ejekan

Pexels/Mikhail Nilov

Anak yang mengejek terkadang ingin melihat reaksi emosional dari orang yang menjadi sasaran. Mereka mungkin merasa puas ketika berhasil membuat temannya marah, malu, atau menangis. Untuk menghadapi situasi tersebut, anak bisa mengatakan,

“Kamu lagi berusaha bikin aku sedih, ya? Maaf, nggak mempan.”

Kalimat tersebut dapat membantu anak menunjukkan bahwa perkataan orang lain tidak selalu harus menentukan perasaannya.

4. Mengajarkan anak untuk menegur ejekan tentang keluarga

Pexels/Mikhail Nilov

Nama orangtua terkadang dijadikan bahan ejekan oleh anak-anak di sekolah. Candaan semacam ini bisa membuat anak merasa malu, tersinggung, atau tidak nyaman, terutama jika dilakukan berulang kali. Jika mengalaminya, anak bisa mengatakan,

“Kamu sebut nama orangtua aku terus, mau ketemu orangtua aku?”

Kalimat tersebut dapat menjadi cara untuk menunjukkan bahwa anak tidak menyukai kebiasaan temannya. Mama perlu mengingatkan anak agar tetap menyampaikannya tanpa mengancam atau mengajak berkelahi. Jika ejekan terus berlanjut, anak sebaiknya meminta bantuan guru.

5. Membantu anak memahami bahwa merendahkan orang lain bukan tindakan yang baik

Pexels/Mikhail Nilov

Ejekan yang terus-menerus bisa membuat anak mempertanyakan dirinya sendiri. Padahal, perkataan negatif dari orang lain tidak menentukan nilai atau kualitas diri seseorang.

“Kenapa suka jelek-jelekin aku? Memangnya kamu lebih baik?”

Kalimat seperti ini dapat menunjukkan bahwa anak menyadari perilaku temannya tidak pantas. Namun, anak juga perlu memahami bahwa ia tidak harus membalas dengan menyerang kekurangan orang lain. Sampaikan keberatan secara tegas tanpa memperkeruh suasana.

6. Mengajarkan anak untuk mengenali perilaku yang tidak pantas

Pexels/RDNE Stock project

Pada usia sekolah, anak mungkin ingin terlihat keren atau mendapatkan perhatian dari teman-temannya. Sayangnya, ada yang berusaha melakukannya dengan merendahkan orang lain atau menjadikan temannya sebagai bahan tertawaan. Dalam situasi tersebut, anak bisa mengatakan,

“Mengejek aku nggak bikin kamu lebih keren.”

Mama juga dapat menjelaskan bahwa sikap baik, rasa percaya diri, dan kemampuan menghargai perbedaan merupakan hal yang lebih penting dalam membangun pertemanan.

7. Membantu anak membedakan candaan dan ejekan

Pexels/Mikhail Nilov

Tidak semua candaan bisa diterima dengan baik oleh orang yang mendengarnya. Sesuatu yang dianggap lucu oleh satu anak bisa saja menyakiti perasaan anak lainnya, terutama jika menyangkut penampilan, keluarga, atau hal pribadi. Mama bisa mengajarkan anak untuk mengatakan,

“Bercandaan kamu nggak lucu sama sekali.”

Kalimatnya dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa perkataan temannya sudah melewati batas. Anak berhak menyampaikan ketidaknyamanannya dan meminta temannya berhenti.

8. Mengajarkan anak untuk menyampaikan perasaan secara langsung

Pexels/Mikhail Nilov

Mengungkapkan perasaan secara langsung merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dipelajari anak. Dengan menyampaikan ketidaknyamanannya, anak dapat membantu temannya memahami bahwa perkataan tersebut menyakiti perasaannya.

“Aku nggak suka kamu ngomong begitu tentang aku. Tolong berhenti, ya.”

Mama dapat melatih anak menyampaikan kalimat ini dengan suara yang jelas dan sikap tenang. Anak tidak perlu berteriak atau menggunakan kata-kata kasar untuk menunjukkan ketegasan.

9. Menanamkan pentingnya saling menghargai dalam pertemanan

Pexels/ Mikhail Nilov

Mengajarkan rasa hormat kepada orang lain perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa anak juga pantas mendapatkan perlakuan yang sama. Anak tidak harus terus diam ketika seseorang berbicara atau bertindak dengan cara yang membuatnya merasa direndahkan.

“Aku menghargai kamu, jadi tolong hargai aku juga dengan tidak mengejek.”

Kalimat tersebut dapat membantu anak menyampaikan harapannya dalam sebuah pertemanan. Anak juga perlu memahami bahwa menghargai orang lain berarti menerima perbedaan dan menjaga perkataan agar tidak menyakiti.

10. Anak berhak untuk menolak julukan yang menyakitkan

Pexels/RDNE Stock Project

Sebagian anak mungkin mendapatkan julukan dari teman-temannya yang sebenarnya tidak disukai. Julukan tersebut bisa berkaitan dengan bentuk tubuh, warna kulit, kebiasaan, atau karakteristik tertentu yang dijadikan bahan ejekan. Jika mengalami hal serupa, anak bisa mengatakan,

“Panggilan itu bukan namaku. Tolong panggil aku dengan nama asliku.”

Apabila temannya sengaja terus menggunakan julukan yang menyakitkan meski sudah diminta berhenti, anak perlu didampingi untuk melaporkan kejadian tersebut kepada guru.

11. Anak perlu belajar merespons ejekan tanpa terpancing emosi

Pexels/cottobrostudio

Terkadang, seseorang mengejek orang lain untuk mencari perhatian atau menghibur dirinya sendiri tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang yang menjadi sasaran. Anak perlu belajar mengenali perilaku seperti ini agar tidak mudah terpancing emosi.

“Mungkin kamu lagi bosan, ya, sampai harus ngomong kayak gitu?”

Kalimat ini bisa diajarkan ke anak agar teman sebaya yang mengejeknya dapat berhenti. Namun, Mama perlu mengajarkan anak untuk mempertimbangkan situasi sebelum mengucapkannya.

Jika disampaikan dengan nada mengejek balik, kalimat tersebut justru berpotensi memicu pertengkaran. Akan lebih baik jika anak tetap tenang dan tidak memperpanjang percakapan.

12. Membangun kepercayaan diri agar anak tidak mudah minder

Freepik

Anak perlu memahami bahwa pendapat orang lain tidak selalu benar dan tidak harus menentukan cara ia memandang dirinya sendiri. Misalnya, ketika seorang teman mengejek hasil karya, penampilan, atau hal yang disukai anak, ia tidak harus langsung merasa minder.

“Itu kan cuma pendapat kamu, dan aku nggak peduli.”

Dengan berkata demikian, maka dapat membantu anak belajar memilah komentar yang membangun dan perkataan yang bertujuan menyakiti. Meski begitu, anak tetap perlu terbuka terhadap kritik yang disampaikan dengan baik agar dapat belajar dan berkembang.

13. Anak perlu memahami dampak dari perilaku merendahkan

Freepik

Perilaku mengejek terkadang dilakukan untuk membuat seseorang terlihat lebih unggul dibandingkan orang lain. Padahal, merendahkan teman tidak membuat seseorang menjadi lebih baik atau lebih hebat.

“Apakah kamu merasa lebih hebat setelah menjatuhkan orang lain?”

Ajarkan kalimat ini dan beri tahu anak bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Anak tidak perlu membuktikan dirinya dengan menjatuhkan orang lain, tetapi cukup belajar menghargai diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

14. Membantu anak memahami kapan harus menjauh

Pexels/Yan Krukau

Tidak semua ejekan harus ditanggapi dengan jawaban. Dalam situasi tertentu, meninggalkan percakapan justru menjadi pilihan yang lebih baik, terutama jika teman yang mengejek tidak menunjukkan keinginan untuk berhenti. Mama bisa mengajarkan anak untuk mengatakan,

“Lebih baik aku pergi daripada dengerin omongan yang nggak penting.”

Dengan begitu, anak bisa memahami bahwa menjauh bukan berarti kalah atau takut. Tindakan tersebut bisa menjadi cara untuk melindungi diri dari situasi yang membuatnya tidak nyaman.

15. Mengajarkan anak untuk berani meminta bantuan guru

Pexels/Ahmet Kurt

Ketika ejekan terus berulang meskipun anak sudah meminta temannya berhenti, mencari bantuan orang dewasa merupakan langkah yang tepat. Anak tidak perlu menghadapi situasi yang menyakitkan seorang diri, apalagi jika ejekan disertai ancaman, intimidasi, atau tindakan fisik.

“Aku mau melaporkan ini ke guru kalau kamu nggak berhenti sekarang.”

Mama dan Papa perlu menegaskan bahwa melaporkan perilaku yang menyakiti bukan berarti mengadu untuk hal sepele. Justru, anak sedang berusaha menjaga keselamatan dan mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan masalah. Dorong anak untuk menceritakan kejadian yang dialaminya secara jujur kepada guru, wali kelas, atau orang dewasa yang dipercaya.

Itu dia 15 kalimat yang bisa anak katakan saat menghadapi ejekan di sekolah. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat belajar bahwa dirinya berharga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article