Kasus kekerasan pada perempuan dan anak masih terus terjadi. Salah satu kasus kekerasan seksual yang ramai dan mendapat banyak perhatian publik yakni kasus pencabulan anak di Luwu Timur, Sulawesi Timur. Kasus pencabulan tersebut dilakukan oleh seorang Papa kepada ketiga putrinya.
Namun, sebenarnya masih ada banyak kasus kekerasan seksual yang menimpa anak lho.
Berdasarkan data yang tercatat dalam Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) periode 2019-September 2020 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), kekerasan terhadap perempuan sebanyak 24.325 kasus dengan jumlah korban sebanyak 24.584 orang, dan kekerasan terhadap anak sebanyak 31.768 kasus.
Dari total semua kasus anak, 10.694 menimpa anak laki-laki dan 24.409 terjadi anak perempuan (Sekitar 2,3 kali lipat anak laki-laki).
Kasus kekerasan yang dialami anak sungguh beragam, tetapi yang paling banyak menimpa mereka yakni kekerasan seksual. Jumlahnya mencapai 45,4 persen.
Sedangkan kasus kekerasan lainnya yakni kekerasan fisik sebanyak 20,4 persen, kekerasan psikis 18,1 persen, penelantaran 5,6 persen dan kekerasan lainnya 8,2 persen. Sedangkan eksploitasi dan TPPO masing-masing di bawah 2 persen.
"Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat tinggi. Mereka sangat rentan mengalami kekerasan. Karena itu semua pihak harus melakukan gerakan bersama untuk mencegah semua tindak kekerasan itu," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, dalam siaran persnya, Selasa (26/10/2021).
"Lebih memprihatinkan. Ini harus menjadi perhatian bersama, mengingat dampak kekerasan seksual yang dialami anak-anak, akan sangat berdampak pada tumbuh kembang dan kehidupan mereka ketika dewasa nanti," lanjut Bintang.
Berikut ini Popmama.com telah merangkum infomasi mengenai keadaan anak setelah menjadi korban kekerasan seksual. Mulai ketakutan akan ancaman, ketakutan untuk melapor, merasa tersakiti fisik dan mental, hingga lain sebagainya. Coba simak yuk, Ma!