Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Perbedaan Bullying dan Bertengkar, Kenali Kapan Konflik Anak Alami Perubahan

6 min read
Perbedaan Bullying dan Bertengkar, Kenali Kapan Konflik Anak Alami Perubahan
Pexels/RDNE Stock project
  • Bullying ditandai ketimpangan kekuatan, niat menyakiti atau mendominasi, serta tindakan berulang; pertengkaran biasa melibatkan posisi setara, emosi sesaat, dan konflik situasional.

  • Bullying dapat mengganggu rasa aman, memicu kecemasan, depresi, kesulitan sosial, dan masalah akademik; orangtua perlu memperhatikan perubahan seperti sakit perut atau penolakan sekolah.

  • Dalam konflik biasa, orangtua berperan sebagai fasilitator emosi. Jika ada indikasi perundungan, dengarkan anak dengan tenang, validasi perasaannya, dan ciptakan komunikasi yang aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat si Anak pulang sekolah dengan wajah habis menangis karena berselisih dengan temannya tentu membuat hati cemas.

Namun, sebenarnya nih Ma di momen ini, wajar jika terbersit pertanyaan, apakah sisa air mata itu sekadar pertengkaran anak-anak biasa, ataukah anak mama sedang menjadi korban bullying di sekolah?

Oleh karena itu, penting untuk Mama ​memahami perbedaan bullying dan bertengkar pada anak.

Sebab, jika anak hanya terlibat pertengkaran biasa, Mama perlu memberinya ruang untuk belajar mengelola emosi dan menyelesaikan masalahnya mandiri.

Tetapi, jika situasi yang dihadapi sudah masuk ranah bullying. Mama wajib segera turun tangan karena dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental anak.

Simak penjelasan mengenai perbedaan bullying dan bertengkar pada anak hanya di Popmama.com

  1. 1. Perbedaan kekuatan ketika setara dan timpang

    perbedaan bullying dan bertengkar pada anak adalah setara atau timpang
    Pexels/Vika Glitter

    Hal paling awal yang perlu Mama amati saat anak bertengkar adalah keseimbangan posisi atau kekuatan di antara pihak yang terlibat. Dalam hal ini tentunya anak mama dan temannya.

    Bila kedua anak berada dalam posisi kekuatan yang setara. Artinya, si Anak dan temannya memiliki kemampuan, status, atau pengaruh yang relatif seimbang untuk saling mengutarakan pendapat atau bahkan membalas argumen.

    Menjadikan tidak ada pihak yang merasa benar-benar terintimidasi atau benar-benar tidak berdaya.

    Berbeda dengan bertengkar biasa, dalam bullying pelaku memiliki posisi yang lebih dominan. Hal dominan ini baik dari segi ukuran fisik, usia, kepopuleran, hingga jumlah, misalnya anak dipojokkan oleh sekelompok teman.

    Ketimpangan ini membuat korban berada di posisi yang lemah dan tidak berkutik untuk membela dirinya sendiri.

    Mama bisa mulai menggali dengan santai mengenai ini kepada anak. Misalnya ketika anak mama bercerita tentang perselisihan di sekolah, tanyakan situasi temannya: "Waktu itu kamu sendirian atau ada teman lain yang membantumu?"

    Pertanyaan ini sangat membantu Mama memetakan apakah posisi anak seimbang atau berada di bawah intimidasi.

  2. 2. Perbedaan niat antara emosional sesaat dan keinginan mendominasi

    Dua anak laki-laki saling memunggungi sambil memeluk boneka
    Pexels/Vika Glitter

    Selain melihat keseimbangan kekuatan, perbedaan bullying dan bertengkar pada anak yang perlu Mama perhatikan adalah niat di balik tindakan anak-anak saat berselisih.

    Sebab begini Ma, melansir dari studi Menesini & Salmivalli (2017) dalam jurnal Psychology, Health & Medicine, perselisihan umumnya dipicu oleh benturan keinginan emosional sesaat, seperti perebutan mainan atau perbedaan pendapat saat beraktivitas bersama.

    Intinya ketika bertengkar fokus anak tertuju ada masalahnya, bukan untuk menghancurkan perasaan temannya.

    Tetapi dalam bullying, terlihat jelas tindakan yang dilakukan sengaja bertujuan untuk menyakiti dan mendominasi korban.

    Pelaku secara sadar memilih kata-kata atau aksi pengucilan dengan tujuan membuat anak merasa takut, malu hingga merasa tidak berharga di lingkungan sosialnya.

    Nah untuk menemukan jawaban tersebut, Mama bisa tanyakan pada anak mama seperti:

    "Menurutmu, temanmu lakuin itu karena lagi kesel sama permainan, atau sengaja bikin kamu malu di depan teman-teman?"

    Melalui jawaban anak akan membantu Mama mengidentifikasi niat di balik kejadian tersebut.

  3. 3. Perbedaan frekuensi kejadian antara berulang dan situasional

    perbedaan bullying dan bertengkar pada anak frekuensi mengejek yang sering
    Pexels/Mikhail Nilov

    Aspek ketiga yang penting untuk Mama amati adalah frekuensi pertengkaran anak dengan temannya.

    Kalau anak mama bercerita mengalami perkelahian dengan temannya di saat tertentu. Misal saat olahraga karena kalah dalam pertandingan futsal. Maka itu sifatnya sesekali atau situasional.

    Konflik terjadi karena ada pemicu spontan saat itu juga. Biasanya setelah masalah diselesaikan atau saling memaafkan, anak-anak akan kembali berinteraksi dan bermain bersama.

    Sementara pola pertengkarannya terus dilakukan secara konsisten berulang. Baik berupa julukan verbal yang intens, hingga pengerusakan barang berkali-kali. Hal ini mengindikasikan anak dibully

    Belum lagi, anak mama yang menjadi korban selalu berada di posisi tertekan dalam jangka waktu panjang. Sehingga rasa aman di sekolah terganggu. Bisa jadi anak dibully ya, Ma.

    Lantas apa yang bisa Mama lakukan? Mama harus mendeteksi terlebih dahulu frekuensi kekerasan yang dialami anak.

  4. 4. Dampak bully bagi tumbuh kembang anak

    Dampak bullying bagi anak menimbulkan kecemasan atau anxiety
    Pexels/Mikhail Nilov

    Mungkin Mama bertanya-tanya, mengapa membedakan ketiganya sangat penting dan Mama wajib tahu?

    Sebab hal ini tecermin langsung dari dampak psikologis yang ditinggalkan pada tumbuh kembang si Anak, Ma.

    ​Menurut riset kohort longitudinal dari tiga negara oleh Arseneault (2017) yang diterbitkan dalam World Psychiatry, serta temuan Menesini & Salmivalli (2017), mengungkapkan perbedaan dampak yang signifikan, diantaranya:

    1. Umumnya bertengkar biasa antar remaja tidak meninggalkan trauma dan mudah dilupakan.

    Setelah emosi mereda, anak tidak mengalami penurunan rasa percaya diri dan dapat kembali beraktivitas dengan normal.

    2. Riset Arseneault (2017) membuktikan bahwa luka psikologis akibat bullying di masa kecil tidak berhenti saat aksi perundungan usai.

    Korban berisiko tinggi alami agorafobia, gangguan kecemasan, depresi, hingga dorongan bunuh diri yang terbawa dari usia 20-an hingga paruh baya. Korban juga lebih rentan mengalami kesulitan hubungan sosial dan kegagalan akademik.

    Mama dapat amati perubahan perilaku harian si Anak.

    Jika ia mendadak sering sakit perut hingga menolak pergi ke sekolah secara konsisten. Mama perlu lebih peka karena itu bisa jadi sinyal kecemasan akibat bullying.

  5. 5. Cara melatih anak ketika terlibat konflik biasa

    Mama dan anak laki-laki berdiskusi di ruang tamu
    Popmama.com/Syiva Amalia/AI

    Jika setelah diawasi pertengkaran anak tergolong pertengkaran biasa. Mama tidak perlu bersikap terlalu terburu-buru menghukum temannya.

    Namun, manfaatkan momen ini untuk mengasah kecerdasan emosional anak.

    ​Riset dari Cao dkk. (2023) dalam Frontiers in Psychology menunjukkan pentingnya pemahaman emosi dalam penyelesaian konflik untuk anak.

    Karena konflik biasa umumnya mudah selesai. Tugas orangtua bukan menyelesaikan masalahnya secara langsung, melainkan menjadi fasilitator emosi.

    Hal ini supaya anak belajar mengekspresikan perasaannya tanpa kekerasan. Tidak hanya itu, mengajari anak mengenali emosi juga membantu ia untuk membangun regulasi dirinya.

  6. 6. Panduan UNICEF ketika anak mengalami kecemasan

    Logo terbaru UNICEF
    unicef-org

    Ketika anak pulang ke rumah dalam keadaan menceritakan perselisihan yang dialaminya. Cara Mama merespon menjadi penentu utama rasa amannya, lho!

    UNICEF menekankan pentingnya ruang komunikasi yang tenang dan kehadiran orangtua ketika anak terindikasi mengalami perundungan.

    UNICEF menyarankan Mama, memilih waktu dan tempat yang tepat agar percakapan terasa natural, misalnya saat makan bersama keluarga.

    Hindari membahas topik yang memicu rasa cemas sebelum waktu tidur agar tidak mengganggu kualitas istirahat anak.

    Dengarkan cerita anak mama dengan perhatian penuh tanpa mengecilkan atau mengesampingkan kekhawatirannya.

    Tidak hanya itu, jika anak menunjukkan tanda stres. Bantu ia menenangkan diri dengan teknik pernapasan perut.

    Ajak anak untuk tarik napas selama 5 detik melalui hidung, kemudian hembuskan 5 detik melalui mulut.

    Selain itu, Mama perlu tetap tenang dan mengontrol emosi sendiri karena anak sangat peka membaca ekspresi dan bahasa tubuh orang di sekitarnya.

    Tutup percakapan dengan memberikan kepastian rasa aman: "Terima kasih ya sudah cerita sama Mama. Kamu aman di sini, dan Mama bakal bantu kamu selesaikan masalah ini sama-sama."

    Ucapkan kalimat validasi ini agar ia merasa selalu didukung dan dilindungi oleh Mama dan Papa.

    Demikianlah perbedaan bullying dan bertengkar pada anak. Hal tersebut menjadi modal utama bagi setiap orangtua untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi anak. Semoga bermanfaat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More