"Nama orangtua bukan bahan candaan. Yuk, biasakan memanggil teman dengan namanya, bukan mengejek nama ayah atau ibunya. Karena setiap nama adalah doa, dan setiap orang tua berhak dihormati."
Viral! Ajakan Siswa SD Stop Normalisasi Ejekan Nama Orangtua di Sekolah

- Siswa SDN Pondok Labu 02 viral lewat ajakan menghentikan ejekan nama orangtua di sekolah, karena candaan tersebut membuat mereka sakit hati dan berpotensi menjadi perundungan.
- Pihak sekolah menegaskan nama orangtua bukan bahan candaan, serta mengajak anak memanggil teman dengan namanya sebagai wujud penghormatan terhadap setiap keluarga.
- Orangtua dan guru diminta bersinergi mengajarkan batasan bercanda, empati, dan saling menghargai sejak dini demi mencegah dampak psikologis pada anak korban ejekan.
Belakangan ini masih marak terjadi ejekan dengan membawa nama orangtua di lingkungan sekolah, yang sering kali dianggap sebagai candaan biasa.
Padahal, tanpa disadari hal ini membuat anak-anak merasa tertekan bahkan menjadi pemicu bullying di antara mereka, Ma.
Sebuah unggahan dari akun Instagram resmi SDN Pondok Labu 02 pun viral dan menggugah kesadaran banyak pihak untuk berhenti menormalisasi ejekan nama orangtua di sekolah.
Ajakan yang disampaikan langsung oleh para siswa ini menjadi pengingat penting bagi para orangtua untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang makna penghargaan.
Yuk, Ma, simak pesan lengkapnya dalam ulasan Popmama.com berikut ini.
1. Ajakan siswa SDN Pondok Labu 02 stop ejekan nama orangtua
Isu perundungan di sekolah sering kali tidak muncul sebagai agresi verbal yang terang-terangan, Ma, melainkan tersembunyi dalam candaan yang telah menjadi norma di kalangan anak-anak.
Salah satu bentuk yang sangat umum dan masih banyak dinormalisasi adalah ejekan yang melibatkan nama orangtua siswa.
Menanggapi fenomena ini, sejumlah siswa SDN Pondok Labu 02 menyampaikan perasaan mereka melalui sebuah unggahan di Instagram resmi sekolah.
Mereka dengan lugu namun penuh makna membawa selembar kertas berisikan pesan beragam yang meminta untuk berhenti mengejek nama orangtua,
"Stopmenormalisasikan mengejek nama orangtua di sekolah, saat kalian pakai nama itu untuk tertawa, hatiku sakit," isi beberapa pesan yang disampaikan.
Ajakan ini menjadi pengingat bahwa di balik sebuah nama terdapat doa dan kehormatan yang dijaga oleh setiap anak.
"Nama orangtua ku adalah kehormatan yang aku jaga. Ini bukan hal sepele, ini tentang caramu menghargaiku," lanjut pesan yang disampaikan para siswa tersebut.
2. Diharapkan jadi perhatian bagi seluruh pihak

Pexels/el jusuf Pihak SDN Pondok Labu 02 turut menyertakan caption yang memperkuat pesan dari unggahan viral tersebut.
Sekolah mengajak seluruh anak-anak dan orangtua untuk memberi ajaran tentang bagaimana menghargai satu sama lain, terutama dengan tidak mengejek nama orangtua.
Dalam unggahan itu, pihak sekolah menuliskan pengingat yang sangat menyentuh:
Pesan ini menjadi tamparan keras bagi kita semua, baik tenaga pendidik maupun orangtua, bahwa kebiasaan bercanda dengan membawa-bawa nama orangtua adalah bentuk tindakan tidak hormat yang harus dihentikan.
Penting bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan yang dipenuhi rasa hormat, empati, dan saling menghargai. Penting juga bagi orangtua menanamkan hal serupa dimulai dari dalam rumah.
3. Ajaran menghargai harus dimulai dari rumah

Pexels/ROMAN ODINTSOV Fenomena ejekan nama orangtua ini memang sudah lama dilakukan sejak dahulu kala, Ma. Namun, yang awalnya hanya ejekan belaka justru berubah menjadi perundungan sesama.
Ini menjadi manifestasi kekerasan simbolik yang dinormalisasi dalam budaya pergaulan remaja. Anak-anak yang menjadi korban seringkali mengalami dampak psikologis yang serius, seperti rasa malu, sedih, dan ketidaknyamanan di lingkungan sekolah.
Oleh karena itu, peran kita sebagai orangtua sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada anak bahwa candaan sekalipun memiliki batasan.
Ejekan nama orangtua bukan sekadar candaan semata, melainkan sebuah tindakan yang dapat melukai hati teman sendiri.
Viralnya unggahan ajakan para siswa SD ini untuk menghentikan normalisasi ejekan nama orangtua diharapkan menjadi gerakan bersama untuk "mari ciptakan sekolah yang penuh rasa hormat, empati, dan saling menghargai".
Sebagai orangtua, kita dan para guru di sekolah harus saling bersinergi membentuk karakter anak agar selalu menjunjung tinggi rasa hormat dan menjaga etika.
Seperti yang disebutkan pihak sekolah, nama orangtua adalah doa, bukan bahan tertawaan.
Jadi, yuk kita sama-sama ajari anak untuk menghargai sejak dini. Karena rasa hormat adalah fondasi pertemanan yang baik dan sehat.


















