Bolehkah Campur Telur ke Susu Balita Saat GTM? Ini Kata Ahli Gizi

Ahli gizi menjelaskan bahwa mencampurkan telur ke susu hanya disarankan bagi balita yang kekurangan asupan protein akibat GTM berkepanjangan, bukan untuk semua anak.
Campuran telur dan susu tidak boleh menggantikan MPASI; tekstur dan jenis makanan tetap harus disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan anak agar perkembangan oral motoriknya optimal.
ASI tetap menjadi sumber nutrisi utama hingga dua tahun, dan setiap tambahan seperti campuran telur-susu sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sesuai kondisi masing-masing anak.
Saat balita mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM), banyak orangtua merasa khawatir karena asupan makan si Kecil menjadi jauh berkurang.
Tak sedikit pula yang mencoba berbagai cara agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi, salah satunya dengan mencampurkan telur ke dalam susu.
Topik ini dibahas oleh Mikayla Yazmine Thwayya, S.Gz, seorang ahli gizi yang aktif membagikan edukasi seputar nutrisi ibu dan anak melalui akun Instagramn miliknya, @mikiglamup.
Mikayla merupakan lulusan Program Studi Ilmu Gizi Universitas Indonesia dan kerap menjadi nutrition educator serta pembicara dalam berbagai seminar mengenai gizi.
Melalui salah satu unggahannya di Instagram, Mikayla menjelaskan bahwa mencampurkan telur ke dalam susu bukan berarti boleh dilakukan untuk semua anak.
Cara ini memiliki tujuan dan kondisi tertentu sehingga perlu dipahami dengan benar agar manfaatnya optimal dan tidak disalahartikan.
Lantas, apakah mencampurkan telur ke dalam susu memang aman dilakukan saat balita GTM?
Berikut penjelasannya telah Popmama.com rangkum. Yuk, simak!
1. Campuran telur dan susu hanya ditujukan untuk anak yang benar-benar membutuhkan tambahan protein

Menurut Mikayla, mencampurkan telur ke dalam susu bukanlah resep yang wajib diberikan kepada semua anak yang sedang GTM.
Cara ini lebih ditujukan sebagai salah satu alternatif untuk anak yang kebutuhan protein hariannya belum tercukupi karena sedang mengalami penurunan nafsu makan dalam waktu cukup lama.
Misalnya, balita yang sudah beberapa hari hanya makan sedikit sehingga asupan protein dari lauk pauk, telur, ikan, atau sumber protein lainnya menjadi jauh di bawah kebutuhan hariannya.
Dalam kondisi seperti ini, orangtua tentu khawatir karena berat badan anak bisa ikut menurun atau bahkan tidak mengalami kenaikan sesuai target pertumbuhan.
Dengan menyampurkan telur ke dalam susu, diharapkan anak tetap memperoleh tambahan protein meski sedang sulit makan.
Namun, Mikayla mengingatkan bahwa metode ini tidak bertujuan menggantikan kebiasaan makan utama. Cara tersebut hanya menjadi pilihan sementara ketika kebutuhan gizi anak memang belum tercapai.
Mama juga perlu memahami bahwa GTM merupakan fase yang cukup umum dialami balita.
2. Campuran ini bukan pengganti MPASI dan tetap harus disesuaikan dengan usia anak

Hal lain yang ditekankan adalah jangan sampai orangtua salah memahami tujuan dari video edukasi tersebut.
Penambahan telur ke dalam susu bukan dimaksudkan untuk menggantikan bentuk atau tekstur MPASI yang seharusnya diterima bayi sesuai usianya.
Bayi baru mulai mendapatkan makanan pendamping ASI sejak usia enam bulan.
Tekstur MPASI pun berubah secara bertahap mengikuti perkembangan kemampuan mengunyah dan menelan anak.
Jika ada bayi yang membutuhkan makanan sebelum usia enam bulan, keputusan tersebut hanya boleh dilakukan berdasarkan evaluasi dokter spesialis anak, bukan karena mengikuti informasi di media sosial.
Karena itu, campuran telur dan susu bukanlah solusi untuk mengganti menu MPASI.
Anak tetap membutuhkan makanan utama dengan tekstur yang sesuai usianya agar perkembangan kemampuan makan, mengunyah, serta keterampilan oral motoriknya tetap berjalan optimal.
Metode ini lebih tepat dipandang sebagai tambahan asupan pada kondisi tertentu, misalnya ketika anak sedang GTM berkepanjangan dan kebutuhan gizinya sulit dipenuhi melalui makanan biasa.
3. Tidak menggantikan ASI, konsultasikan bila anak memiliki kebutuhan khusus

Bagi anak yang masih menyusu, ASI tetap menjadi sumber nutrisi penting hingga usia dua tahun sesuai rekomendasi kesehatan.
Sementara itu, apabila anak berusia di atas satu tahun dan tidak memiliki intoleransi atau diare, orangtua dapat mempertimbangkan penggunaan susu sapi segar plain (fresh milk) sebagai salah satu pilihan.
Jika anak tidak cocok dengan campuran telur dan susu, tidak perlu dipaksakan.
Mama dapat menyimpan cara ini sebagai alternatif ketika berbagai metode memasak lainnya belum berhasil meningkatkan asupan makan anak.
Penting untuk diingat, setiap anak memiliki kondisi dan kebutuhan gizi yang berbeda sehingga tidak ada satu cara yang pasti cocok untuk semua balita.
Mikayla juga mencontohkan bahwa pada kondisi medis tertentu, seperti anak yang mengalami stunting, ada intervensi gizi khusus yang dapat melibatkan penambahan energi melalui susu, minyak, atau gula.
Namun, langkah tersebut harus dilakukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan karena kebutuhan setiap anak berbeda-beda.
Apabila Mama masih ragu apakah si Kecil memerlukan tambahan protein seperti ini atau tidak, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak maupun ahli gizi agar kebutuhan nutrisinya dapat disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan dan kesehatannya.
Itulah penjelasan mengenai campuran telur dan susu saat balita GTM. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma!


















