“Tidak direkomendasikan membawa balita naik gunung dengan kondisi yang punya potensi kehujanan, basah kuyup, atau kepanasan,” jelasnya, dikutip dari Antara.
Kapan Anak Boleh Diajak Naik Gunung? Ini Faktanya!

- Kasus viral balita 1,5 tahun meninggal di Gunung Ungaran akibat hipotermia memicu perhatian soal keamanan anak dalam aktivitas pendakian.
- IDAI menegaskan anak di bawah 3 tahun belum siap menghadapi suhu ekstrem dan tidak direkomendasikan ikut naik gunung sebelum fisik serta daya tahan tubuhnya matang.
- Ahli menyarankan pengenalan hiking dimulai usia sekitar 3 tahun dengan jalur ringan, durasi singkat, dan fokus pada keselamatan serta pengalaman positif bersama orangtua.
Viral anak 1,5 tahun yang meninggal dunia di gunung karena hipotermia di Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang. Balita tersebut dilaporkan mengalami penurunan suhu tubuh drastis saat berada di area puncak setelah ikut dalam pendakian bersama orangtuanya.
Kondisinya semakin memburuk karena cuaca dingin dan diduga kurangnya perlindungan yang memadai, hingga akhirnya nyawanya tidak tertolong.
Awalnya kasus ini viral karena unggahan video salah satunya oleh akun Instagram @kabarungaran. Dalam narasinya, akun itu menyatakan bahwa sang balita mengalami hipotermia saat berada di puncak Bondolan, Gunung Ungaran.
Perihal kasus itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso, Senin (13/4/2026), menyarankan pengenalan alam dilakukan secara bertahap di lokasi dengan cuaca yang lebih aman. Di mana anak tidak langsung diajak berkativitas alam tanpa pengenalan sebelumnya.
Lantas, kapan anak bisa diajak naik gunung bersama orangtua yang aman?
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!
1. Kapan anak bisa diajak naik gunung? Ini kata IDAI

Perihal usia aman, IDAI sendiri tidak merekomendasikan anak usia terlalu dini untuk aktivitas ekstrem seperti mendaki gunung. Dalam pernyataannya pada Senin (13/4/2026), Ketua Umum PP IDAI, Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa pengenalan alam sebaiknya dilakukan bertahap di lingkungan yang lebih aman.
Anak, terutama di bawah usia 3 tahun, belum memiliki kemampuan adaptasi suhu dan kondisi lingkungan ekstrem. Oleh karena itu, kegiatan seperti naik gunung sebaiknya ditunda hingga anak lebih besar, dengan kondisi fisik, daya tahan tubuh, serta kemampuan komunikasi yang sudah lebih matang.
2. Paparan dingin ekstrem berbahaya bagi anak kecil

Dalam kajian yang dipublikasikan di jurnal Wilderness & Environmental Medicine, disebutkan bahwa anak-anak kehilangan panas tubuh lebih cepat karena rasio permukaan tubuh terhadap massa yang lebih besar dibanding orang dewasa.
Senada dengan itu, American Academy of Pediatrics juga menyebut bahwa anak kecil lebih rentan terhadap kondisi seperti hipotermia dan frostbite saat berada di lingkungan dingin. Risiko ini meningkat jika anak kelelahan, basah karena hujan, atau tidak menggunakan pakaian berlapis yang tepat.
“Paparan suhu dingin dalam waktu singkat saja dapat menurunkan suhu inti tubuh anak secara signifikan. Ini bisa berujung pada kondisi darurat medis jika tidak segera ditangani,” tulis laporan tersebut.
3. Anak bisa dikenalkan untuk naik gunung ringan di usia 3 tahun

Dikutip dari KSL, mereka menanyai dua ahli untuk membawa anak hiking atau naik gunung. Tod Schimelpfenig adalah Direktur Kurikulum di NOLS Wilderness Medicine, yang telah membesarkan empat anak di wilayah Wyoming yang cukup ekstrem, dan mulai mengajak mereka backpacking sejak usia 3 tahun.
Menurut Tod, anak sebenarnya sudah bisa dikenalkan pada aktivitas hiking sejak usia sekitar 3 tahun. Namun, bentuknya masih sangat ringan, seperti berjalan santai di jalur pendek dengan pengawasan penuh dari orangtua.
Di usia ini, anak belum memiliki stamina dan daya tahan seperti orang dewasa. Oleh karena itu, durasi hiking sebaiknya singkat dan fleksibel mengikuti kondisi anak.
“Anak usia dini bisa ikut hiking, tapi orangtua harus siap menyesuaikan ritme dengan anak, termasuk sering berhenti dan bahkan menggendong jika diperlukan,” jelasnya dikutip dari KSL.
4. Orangtua juga perlu mempertimbangkan jarak tempuh anak

Masih dikutip dari KSL, dr. Stephanie Canale juga memberikan pendapat. Ia adalah dokter yang setiap hari memberikan konsultasi kepada anak dan orangtua dalam praktik kedokteran keluarganya di Santa Monica, California. Ia juga rutin melakukan hiking bersama putranya yang berusia 8 tahun.
dr. Stephanie menjelaskan bahwa kemampuan anak untuk hiking sangat bergantung pada usia, kebiasaan aktivitas fisik, dan kondisi tubuhnya. Tidak ada patokan pasti, tetapi ada gambaran umum yang bisa dijadikan acuan.
Untuk anak usia 4-7 tahun, mereka biasanya mampu berjalan sekitar 1-3 mil (±1,5-5 km) di jalur yang relatif mudah. Namun, penting untuk tidak memaksakan target jarak karena tujuan utama adalah pengalaman, bukan pencapaian.
“Perhatikan tanda kelelahan pada anak. Jika mereka mulai rewel atau lelah, itu tanda untuk berhenti, bukan dipaksa melanjutkan,” ujarnya.
5. Kunci utama mengajak anak naik gunung: Keselamatan dan pengalaman menyenangkan

Baik Tod Schimelpfenig maupun dr. Stephanie Canale menekankan bahwa naik gunung bersama anak bukan soal mencapai puncak, tetapi tentang membangun pengalaman positif dengan alam.
Orangtua disarankan memilih jalur aman, memperhatikan cuaca, membawa perlengkapan lengkap, dan selalu memprioritaskan keselamatan anak. Jika kondisi tidak memungkinkan, sebaiknya rencana diubah atau dibatalkan.
“Pengalaman pertama anak di alam akan membentuk persepsi mereka. Pastikan itu menyenangkan agar mereka ingin melakukannya lagi,” tutup Schimelpfenig dikutip dari KSL.
Itulah tadi informasi mengenai kapan anak boleh diajak naik gunung beserta faktanya dan pendapat dari IDAI. Semoga membantu mama dan papa yang suka mengajak anak bermain di alam.


















