Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Alasan Tidak Memaksa Anak untuk Berbagi Menurut Terapis

Alasan Tidak Memaksa Anak untuk Berbagi Menurut Terapis
Magnific/freepik
Intinya Sih
  • Terapis anak Grace Bernales menekankan bahwa berbagi membutuhkan kemampuan kompleks seperti mengelola emosi, memahami orang lain, dan merasa aman secara sosial, bukan sekadar tindakan spontan.
  • Menolak berbagi tidak selalu berarti anak egois; bisa jadi ia sedang belajar mengatur emosi atau belum tahu cara meminta giliran dengan benar.
  • Orangtua disarankan mengajarkan komunikasi sopan seperti meminta giliran dan menunggu, agar anak memahami konsep berbagi secara alami tanpa tekanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ma, pernah nggak sih merasa risih atau cemas saat si Kecil belum mau berbagi mainan dengan temannya? Lalu spontan kita berkata, "Ayo dong, giliran," atau "Harus berbagi ya."

Tapi, bagaimana kalau ternyata memaksakan anak berbagi sebelum waktunya justru tidak mengajarkan kemurahan hati?

Melansir dari unggahan seorang terapis anak Grace Bernales, dalam akun miliknya @gracefulexpression.slp pendekatan lembut justru bisa jadi lebih efektif daripada paksaan.

Menurut terapis asal California ini, anak akan belajar sosialisasi terbaik lewat permainan dan rasa aman, bukan tekanan.

Nah, agar bisa jadi pemahaman baru bagi Mama, berikut Popmama.com rangkumkan penjelasan selengkapnya.

1. Berbagi itu melibatkan kemampuan besar, Ma

anak menggunakan masker
Magnific/wirestock

Dalam penjelasannya, Grace menyebutkan bahwa berbagi bukan sekadar soal "tolong kasih ya" atau perilaku yang bisa langsung ditiru.

Ia menjelaskan di balik aksi sederhana itu ada keterampilan besar seperti kemampuan berbahasa, mengelola emosi, memahami sudut pandang orang lain, mengendalikan impuls, hingga merasa aman secara sosial.

Bayangkan, si Kecil harus bisa menunggu giliran, merasakan apa yang temannya rasakan, dan menahan keinginannya untuk langsung mengambil mainan, semua dalam waktu bersamaan.

Pasti berat banget nggak sih, Ma? Makanya, nggak semua anak di usia dini siap melakukannya dengan sempurna.

Memaksa si Kecil berbagi sebelum ia benar-benar siap tidak akan membuatnya langsung paham konsep berbagi. Yang muncul malah bisa jadi rasa cemas, frustrasi, atau semakin keras kepala mempertahankan mainannya.

2. Tidak mau berbagi bukan berarti anak egois

ventilasi udara cegah ISPA
Magnific/freepic.diller

Kalau si Kecil memegang erat mainannya dan berkata "nggak mau", Mama mungkin langsung berpikir ia sedang pelit atau keras kepala.

Padahal, menurut unggahan Grace, di balik penolakannya itu justru bisa tersimpan banyak makna. Bisa jadi si Kecil sedang kewalahan, masih belajar mengatur emosinya, atau cemas kalau mainannya akan diambil begitu saja.

Atau bisa juga karena ia belum memiliki cukup kata-kata untuk bilang, "Aku masih main, nanti ya, Ma." Kadang, dia nggak mau berbagi itu sebenarnya bisa berarti "aku belum tahu cara memintanya".

Jadi Ma, sebelum menyimpulkan si Kecil egois, coba cek dulu kemungkinan lainnya. Siapa tahu ia sebenarnya butuh diajari cara meminta giliran atau cara menunggu, bukan dipaksa langsung melepas mainannya.

3. Ajari komunikasi di balik berbagi, bukan hanya paksaan

orangtua mendidik anaknya
Magnific/freepik

Daripada menyuruh "pokoknya kamu harus berbagi!" dengan nada tegas, Mama bisa mulai mengajarkan kalimat-kalimat sederhana yang lebih membantu.

Grace dalam unggahannya mengajak Mama untuk mengajarkan frasa seperti "Ini giliranku", "Boleh nggak gantian abis ini giliran aku?", atau "Aku masih pakai ini" kepada ssaudara atau teman seusianya.

Juga kalimat seperti "Mau tukaran?" atau "Sudah selesai" juga akan sangat berguna untuk membangun keterampilan komunikasi fungsional.

Mengakarkan komunikasi sederhana seperti ini akan jauh lebih nyata daripada sekadar disuruh berbagi tanpa pemahaman, Ma.

Dengan ajaran ini, si Kecil belajar menyuarakan kebutuhan dan menghormati hak orang lain secara bertahap. Karena sejatinya, berbagi itu tumbuh dari kemampuan berkomunikasi, bukan dari kepatuhan buta.

Kalau si Kecil sudah bisa bilang "aku masih pakai ini" dengan tenang, itu sudah kemajuan besar, lho!

4. Anak juga berhak punya batasan

masak daging bersama anak.jpg
Magnific/freepik

Coba Mama bayangkan, saat sedang asyik minum kopi atau memegang HP, lalu ada orang dewasa lain meminta kopi atau HP itu begitu saja. Apakah Mama langsung memberikannya? Tentu tidak, kan?

Di sini, Mama punya hak untuk bilang "sebentar" atau "ini masih aku pakai." Nah, si Kecil pun sama.

Anak juga berhak belajar tentang kepemilikan dan mengatakan "tidak" tanpa langsung dicap kasar atau tidak mau berbagi. Anak juga pantas mendapatkan batasan, sama seperti orang dewasa.

Mengajarkan bahwa "ini milikku, aku boleh menggunakannya dulu" bukan berarti mengajarkan egois, Ma. Justru ini pondasi dari rasa hormat terhadap kepemilikan diri sendiri dan orang lain di masa depan.

Anak yang bisa mempertahankan batasnya dengan sopan akan tumbuh menjadi pribadi yang tahu diri dan tidak mudah dimanfaatkan.

5. Daripada memaksa, coba ajarkan kebiasaan ini Ma

ilustrasi piket membersihkan kelas.jpg
Magnific/freepik

Lalu, gimana caranya kita mengajarkan anak berbagi? Alih-alih memaksanya berbagi secara instan, ada banyak keterampilan yang bisa diajarkan secara bertahap dan menyenangkan.

Terapis Grace menyarankan para orangtua agar fokus mengajarkan bergantian, meminta dengan sopan, menunggu giliran, bernegosiasi, menyelesaikan masalah bersama, hingga bermain bersama.

Misalnya, saat si Kecil sedang asyik dengan mainannya, Mama bisa bilang, "Nanti kalau udah 5 menit, giliran teman kamu ya. Sekarang Mama hitung dulu."

Atau ajarkan ia menawarkan "Mau tukaran mainan?" daripada sekadar merebut. Di sinilah pertumbuhan sosial dan komunikasi si Kecil benar-benar terjadi.

Ingat Ma, keterampilan ini butuh waktu, pengulangan, dan contoh nyata dari orangtua setiap hari. Tapi percayalah, hasilnya akan jauh lebih kuat dan bermakna bagi si Kecil dalam jangka panjang.

Karena yang ia pelajari bukan sekadar "bagi", tapi cara membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Semangat selalu dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan pada si Kecil, Ma.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More