Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Sering Bertanya? Ini 7 Cara Merespons dengan Tepat

Anak Sering Bertanya? Ini 7 Cara Merespons dengan Tepat
Popmama.com/Violin Heldina/AI
Intinya Sih
  • Rasa ingin tahu anak adalah bagian alami dari tumbuh kembangnya, membantu mereka memahami lingkungan dan membangun hubungan antara pengalaman baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
  • Respons positif seperti memberi perhatian penuh, menjawab dengan bahasa sederhana, atau mencari tahu bersama dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar anak.
  • Menghadapi pertanyaan berulang perlu kesabaran; gunakan momen tersebut untuk memperkuat pemahaman anak tanpa membuatnya takut bertanya di kemudian hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Belum selesai Mama menjawab satu pertanyaan, anak sudah melontarkan pertanyaan lain. Bahkan, dalam hitungan menit, anak bisa bertanya berkali-kali tentang hal yang berbeda.

Kondisi ini tentu membuat Mama tersenyum karena tingkahnya yang menggemaskan, tetapi tidak sedikit juga yang merasa kewalahan, apalagi saat sedang bekerja, memasak, atau menyelesaikan pekerjaan rumah.

Sebenarnya, ada proses belajar yang sedang berlangsung. Anak menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk memahami lingkungan, mengenali hubungan sebab-akibat, serta memperluas kosakata dan pengetahuannya.

Semakin banyak pengalaman baru yang ia temui, semakin besar juga rasa penasarannya.

Meski demikian, bukan berarti Mama harus selalu memiliki jawaban untuk semua pertanyaan anak. Hal yang paling penting adalah bagaimana Mama merespons rasa penasarannya dengan cara yang positif.

Respons yang hangat dapat membuat anak merasa dihargai, didengarkan, dan semakin percaya diri untuk terus belajar.

Lalu, bagaimana cara menghadapi anak yang sering bertanya tanpa kehilangan kesabaran? Berikut Popmama.com telah merangkumnya dan bisa Mama coba ketika sedang menghadapi situasi tersebut. Yuk, simak!

1. Pahami bahwa rasa ingin tahu adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang anak

Rasa ingin tahu tersebut merupakan proses dari pertumbuhan anak
Pexels/Vitaly Gariev

Saat anak terus bertanya, mungkin Mama sesekali berpikir,

"Kenapa pertanyaannya tidak ada habisnya, ya?"

Padahal, hal tersebut merupakan bagian yang sangat wajar dalam proses tumbuh kembangnya. Semakin bertambah usia, semakin banyak pula hal baru yang ia temui.

Mulai dari benda di rumah, hewan yang dilihatnya di jalan, perubahan cuaca, hingga percakapan orang dewasa, semuanya bisa memicu rasa penasaran.

Anak tidak hanya menyerap informasi secara pasif, tetapi juga aktif mencari jawaban atas berbagai hal yang belum ia pahami. Dengan bertanya, otaknya sedang membangun hubungan antara pengalaman baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.

Karena itulah, pertanyaan yang terdengar sederhana sebenarnya memiliki makna yang besar.

Misalnya ketika anak bertanya mengapa daun bergoyang saat tertiup angin. Ia bukan hanya ingin mengetahui jawabannya, tetapi juga sedang belajar memahami bagaimana alam bekerja.

Mama tidak perlu khawatir jika si Kecil tampak sangat banyak bertanya dibandingkan teman seusianya.

Selama pertanyaannya sesuai dengan tahap perkembangan dan dilakukan dalam situasi yang wajar, hal tersebut justru menjadi tanda bahwa ia memiliki rasa ingin tahu yang sehat.

2. Berikan perhatian penuh saat anak mulai bercerita atau bertanya

Ketika anak mulai bertanya banyak hal, berikan perhatian penuh
Pexels/Jep Gambardella

Saat mama sedang melakukan aktivitas sehari-hari, memang tidak mudah untuk langsung menghentikan pekerjaan setiap kali anak memanggil.

Ada kalanya Mama sedang memasak, bekerja dari rumah, atau mengurus adik bayi. Namun, apabila situasi memungkinkan, usahakan memberikan perhatian penuh saat si Kecil mulai bertanya.

Perhatian sederhana seperti menatap matanya, menghentikan aktivitas selama beberapa saat, atau menganggukkan kepala dapat membuat anak merasa bahwa perkataannya penting.

Bagi orang dewasa mungkin hanya berlangsung satu atau dua menit, tetapi bagi anak, momen tersebut bisa menjadi pengalaman berharga yang membangun rasa percaya diri.

Mama juga bisa memberikan respons awal seperti,

"Wah, pertanyaannya menarik sekali," atau "Mama senang kamu penasaran tentang itu."

Kalimat sederhana tersebut dapat membuat anak merasa dihargai sehingga ia semakin nyaman untuk berdiskusi.

Jika Mama memang sedang tidak bisa menjawab saat itu juga, tidak masalah untuk berkata dengan jujur,

"Mama selesaikan masakan dulu, ya. Lima menit lagi kita cari jawabannya bersama."

Yang terpenting, usahakan menepati janji tersebut agar anak belajar bahwa pertanyaannya tetap dianggap penting.

3. Jawab dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami sesuai usianya

Ketika anak banyak bertanya jawab dengan bahasa yang mudah dimengerti
Pexels/Mikhail Nilov

Ketika anak bertanya tentang sesuatu, Mama mungkin tergoda untuk memberikan penjelasan yang lengkap agar ia langsung memahami semuanya.

Padahal, anak tidak membutuhkan jawaban yang terlalu rumit. Penjelasan yang sederhana justru lebih mudah dipahami dan diingat.

Misalnya, saat anak bertanya mengapa hujan turun. Mama tidak harus langsung menjelaskan proses penguapan, kondensasi, hingga siklus air secara rinci. Cukup katakan bahwa hujan berasal dari awan yang sudah penuh dengan air, lalu air tersebut turun ke bumi sebagai hujan.

Setelah itu, jika anak masih penasaran, Mama bisa menambahkan penjelasan sedikit demi sedikit. Cara menjawab seperti ini membuat anak memperoleh informasi sesuai dengan kemampuan berpikirnya.

Selain itu, anak juga tidak akan merasa bingung karena menerima terlalu banyak informasi dalam satu waktu.

Mama juga bisa menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika menjelaskan mengapa es bisa mencair, ajak anak melihat es batu yang diletakkan di meja.

Saat menjelaskan mengapa tanaman membutuhkan air, Mama dapat mengajaknya menyiram bunga di halaman rumah.

Semakin konkret contoh yang diberikan, semakin mudah pula anak memahami konsep yang sedang dipelajarinya.

4. Tidak apa-apa jika Mama belum mengetahui jawabannya, ajak anak mencari tahu bersama

Ajak anak untuk mencari tahu bersama jika Mama tidak tahu jawabannya
Pexels/AI25.Studio

Ketika anak bertanya sesuatu yang belum pernah Mama pelajari sebelumnya, tidak perlu merasa malu atau terburu-buru memberikan jawaban yang belum tentu benar.

Justru, mengatakan:

"Mama belum tahu, yuk kita cari tahu bersama."

Bisa menjadi contoh yang baik bagi anak. Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa belajar adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup. Orang dewasa pun masih perlu mencari informasi dan terus menambah pengetahuan.

Mama bisa mengajak anak membuka buku ensiklopedia anak, membaca artikel dari sumber tepercaya, atau menonton video edukasi yang sesuai dengan usianya.

Misalnya, ketika anak bertanya mengapa pelangi memiliki banyak warna, Mama dapat mencari jawabannya bersama, lalu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi quality time yang menyenangkan. Anak akan merasa bahwa rasa penasarannya dihargai, sementara Mama memiliki kesempatan untuk ikut belajar hal-hal baru.

Siapa tahu, pertanyaan sederhana dari anak justru membuka wawasan baru juga bagi Mama dan Papa.

Kebiasaan ini juga dapat menumbuhkan sikap mandiri, rasa ingin tahu, serta kebiasaan belajar yang akan bermanfaat hingga anak dewasa nanti.

5. Sesekali balikkan pertanyaan agar anak belajar berpikir

Sesekali bertanya balik kepada anak agar belajar untuk berpikir
Popmama.com/Violin Heldina/AI

Saat anak bertanya, Mama tidak harus selalu langsung memberikan jawaban. Sesekali, cobalah mengembalikan pertanyaannya dengan kalimat yang mengajak anak berpikir.

Misalnya ketika anak bertanya,

"Kenapa bulan bisa kelihatan di malam hari?"

Mama bisa menjawab,

"Kalau menurut kamu, kenapa ya?" atau "Coba kita pikir sama-sama, bulan biasanya muncul kapan?"

Pertanyaan balik seperti ini bukan untuk menguji anak, melainkan untuk mengajak mereka menggunakan kemampuan berpikirnya.

Anak akan mencoba mengingat pengalaman yang pernah dialami, menghubungkan informasi yang sudah diketahui, lalu menyampaikan pendapatnya.

Meskipun jawabannya belum tepat, proses berpikir itulah yang menjadi bagian penting dalam pembelajaran.

Setelah anak menyampaikan pendapatnya, Mama bisa memberikan apresiasi terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Mama meluruskan informasi yang kurang tepat dengan cara yang lembut.

Kebiasaan berdiskusi juga membuat anak terbiasa melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Ia tidak hanya menunggu jawaban dari orang lain, tetapi juga belajar menemukan solusi melalui proses berpikirnya sendiri.

6. Jadikan pertanyaan anak sebagai kesempatan untuk belajar lewat pengalaman

Cara merespons anak yang banyak bertanya yaitu dengan belajar secara langsung
Pexels/Caroline Mombelli

Anak-anak umumnya lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka melihat atau mengalaminya secara langsung. Oleh karena itu, setiap pertanyaan yang muncul bisa menjadi awal dari kegiatan belajar yang menyenangkan.

Misalnya saat anak bertanya,

“Mengapa tanaman membutuhkan air?”

Mama tidak perlu hanya menjelaskan secara lisan. Ajaklah si Kecil menyiram tanaman setiap hari, lalu amati bersama bagaimana daun dan bunganya tumbuh.

Dari pengalaman tersebut, anak akan lebih mudah memahami bahwa air membantu tanaman tetap hidup. Begitu pula ketika anak penasaran mengapa benda tertentu bisa mengapung sementara yang lain tenggelam.

Mama dapat mengisi baskom dengan air, lalu mengajak anak mencoba memasukkan berbagai benda seperti sendok plastik, batu kecil, daun, atau bola.

Aktivitas ini bukan hanya menjawab rasa penasarannya, tetapi juga melatih kemampuan mengamati dan menarik kesimpulan.

Mama tidak perlu menyiapkan kegiatan yang rumit atau mahal. Justru, momen sederhana di rumah sering kali menjadi pengalaman belajar terbaik bagi anak karena ia dapat melihat langsung bagaimana sesuatu terjadi di sekitarnya.

7. Tetap sabar meski pertanyaannya terasa tidak ada habisnya

Tetap sabar walapun pertanyaan anak tiada habisnya
Pexels/Alexander Taranenko

Ada kalanya anak mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali. Bahkan, setelah Mama menjawab dengan panjang lebar, beberapa menit kemudian ia kembali bertanya hal yang sama.

Situasi ini tentu bisa menguji kesabaran, terutama ketika Mama sedang lelah setelah beraktivitas seharian. Namun, penting untuk diingat bahwa anak belum tentu mengulang pertanyaan karena tidak mendengarkan.

Bisa jadi anak sedang memastikan bahwa dirinya memahami jawaban tersebut. Bisa juga karena masih memproses informasi yang baru diterimanya sehingga membutuhkan pengulangan.

Dalam situasi seperti ini, cobalah merespons dengan tenang.

Jika Mama mulai merasa lelah, tidak ada salahnya mengambil jeda sejenak sebelum menjawab kembali. Tarik napas dalam-dalam, lalu jawab menggunakan nada yang tetap lembut.

Hindari kalimat seperti:

"Sudah dibilang berkali-kali," atau "Kok nanya terus sih?"

Meskipun terdengar sepele, respons tersebut dapat membuat anak merasa pertanyaannya mengganggu. Akibatnya, ia mungkin menjadi enggan bertanya lagi di kemudian hari.

Sebaliknya, Mama bisa mengatakan,

"Iya, tadi Mama sudah jelaskan sedikit. Yuk, kita ingat lagi bersama."

Cara ini membantu anak mengulang informasi tanpa merasa dimarahi.

Anak yang berani bertanya umumnya lebih aktif mencari informasi dan tidak takut mencoba hal-hal baru.

Banyak bertanya merupakan bagian alami dari masa tumbuh kembang anak. Karena itu, setiap jawaban yang Mama berikan memiliki peran penting dalam membentuk cara anak belajar dan memandang lingkungan di sekitarnya.

Jadi, saat anak kembali bertanya "kenapa?" untuk kesekian kalinya, cobalah melihatnya sebagai tanda bahwa anak sedang tumbuh menjadi anak yang aktif, penasaran, dan senang belajar.

Itulah beberapa cara untuk menghadapi anak yang sering bertanya tanpa harus kehilangan kesabaran. Yuk, dampingi setiap proses belajarnya dengan penuh perhatian agar anak semakin percaya diri untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More