Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

21 Cara Merespons saat Anak Mengatakan "Tidak” Tanpa Perlu Marah

21 Cara Merespons saat Anak Mengatakan "Tidak” Tanpa Perlu Marah
Pexels/Tima Miroshnichenko
Intinya Sih
  • Mendengar si Kecil dengan tegas meneriakkan kata "Tidak!" saat diminta mandi, belajar, atau membereskan mainannya pasti sering kali menguji kesabaran di rumah.

  • Ada tujuh strategi utama seperti memahami alasan penolakan, memberi pilihan terbatas, serta menjaga batasan aturan dengan nada tenang dan penuh kasih.

  • Tujuannya membantu orangtua menciptakan suasana rumah yang harmonis sambil mengajarkan si Kecil tanggung jawab dan kemampuan mengelola emosi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mendengar si Kecil dengan tegas meneriakkan kata "Tidak!" saat diminta mandi, belajar, atau membereskan mainannya pasti sering kali menguji kesabaran Mama di rumah ya, Ma. 

Berhadapan dengan sikap keras kepala si Kecil memang rentan memicu emosi, bahkan tidak jarang membuat Mama terdorong untuk membalasnya dengan omelan atau ancaman. 

Alih-alih langsung memarahi yang justru membuat suasana rumah menjadi semakin tegang, Mama bisa menggunakan pendekatan yang lebih tenang namun tetap tegas. 

Berikut Popmama.com rangkum 7 strategi merespons penolakan si Kecil menggunakan kalimat biasa, lengkap dengan contoh kalimat praktisnya!

Table of Content

1. Cari tahu alasan penolakannya dan kurangi tekanan pada anak

1. Cari tahu alasan penolakannya dan kurangi tekanan pada anak

Cari tahu alasannya dan jangan menekan anak
Pexels/Ketut Subiyanto

Saat si Kecil menolak perintah, berusahalah untuk mencari tahu alasan di balik penolakannya sebelum Mama buru-buru memarahi atau mengoreksi perilakunya. 

Ajukan pertanyaan dengan nada lembut untuk mencari tahu apa yang mengganjal di hatinya, lalu berikan ruang agar ia bersiap tanpa menghilangkan kewajiban utamanya.

  • “Kamu lagi nggak mau sekarang ya? Coba cerita ke Mama apa yang bikin ini terasa berat? Nanti kalau kamu sudah siap, kita mulai sama-sama ya.”

  • “Oh, Papa lihat kamu masih seru banget mainnya. Apa yang bikin kamu males buat berhenti dulu? Yuk, nanti kalau jarum jamnya di angka 5 kita mulai bersiap ya.”

  • “Kakak sepertinya lagi capek banget ya sampai bilang nggak mau? Cerita dong sama Mama. Nanti kalau tenaganya sudah balik, kita kerjakan pelan-pelan.”

2. Validasi perasaan anak sambil tetap menjaga batasan aturan

Validasi perasaan anak
Pexels/Yan Krukau

Melalui respons ini, Mama sedang mengajarkan pelajaran emosional yang berharga, yaitu bahwa perasaan tidak suka dan tanggung jawab bisa berjalan berdampingan. 

Akui terlebih dahulu rasa enggan yang sedang dirasakan oleh si Kecil agar ia merasa dihargai, baru kemudian tegaskan kembali aturan yang berlaku di rumah dengan suara yang tenang namun mantap.

  • “Mama dengar kok. Memang nggak apa-apa punya perasaan begitu, tapi sekarang tetap waktunya untuk mandi, karena hal ini memang harus tetap kita lakukan.”

  • “Iya, ganti baju pas lagi asyik main itu emang menyebalkan ya. Mama paham kamu kesel, tapi sekarang kita tetap harus ganti baju karena kita mau pergi.”

  • “Mama tahu kamu masih mau nonton TV dan rasanya nggak enak banget pas disuruh matiin. Tapi aturan rumah kita tetap harus ditaati ya, yuk dimatikan TV-nya.”

3. Berikan pilihan terbatas yang mendukung terciptanya kerja sama

Berikan batasan yang terbatas
Pexels/Pavel Danilyuk

Anak-anak sering kali mengatakan tidak hanya karena mereka ingin memegang kendali atas diri mereka sendiri dan tidak suka jika terus-menerus diperintah secara kaku. 

Untuk menyiasatinya, berikan si Kecil sebuah pilihan terbatas yang tetap mengarah pada tujuan utama yang Mama inginkan agar ia merasa memiliki kuasa untuk memilih.

  • “Kamu mau coba lakukan ini sendiri, atau mau Mama bantu buat menyelesaikannya?”

  • “Kita mau beresin mainan yang balok dulu atau yang mobil-mobilan dulu nih? Kamu yang pilih ya.”

  • “Kakak mau jalan sendiri ke kamar mandi atau mau digendong terbang sama Papa kayak pesawat?”

4. Berikan kontrol waktu yang terbatas di dalam ekspektasi aturan

Berikan kontrol waktu yang terbatas
Pexels/Allan Mas

Trik memberikan pilihan waktu seperti ini sangat ampuh untuk menghadapi si Kecil yang senang menunda-nunda pekerjaan atau sedang asyik dengan dunianya sendiri. 

Anak akan merasa diuntungkan karena mendapatkan waktu tambahan untuk bersiap-siap, sementara Mama tetap berhasil membuat si Kecil melakukan kewajibannya tanpa perlu berteriak.

  • “Kamu mau lakukan tugas ini sekarang, atau dua menit lagi?”

  • “Mama kasih waktu ya, kamu mau pasang sepatunya pas lagu ini selesai atau pas hitungan kelima?”

  • “Kita sepakat ya, kamu mau sikat gigi sekarang juga atau nunggu Papa selesai cuci piring?”

5. Tetap tenang dan ajak anak memecahkan masalah bersama

Tetap tenang dan perlahan ajak anak diskusi
Pexels/www.kaboompics.com

Ketika si Kecil menunjukkan penolakan yang disertai dengan emosi marah atau menangis, berusahalah untuk tidak ikut terpancing oleh ledakan emosinya. 

Berikan kehadiran yang menenangkan bagi si Kecil dan tawarkan kerja sama untuk mencari jalan keluar yang menyenangkan agar tugas yang awalnya terasa membosankan bisa diselesaikan dengan lebih ringan.

  • “Nggak apa-apa kalau kamu merasa kesal. Mama akan bantu kamu melewati rasa kesal ini, dan yuk kita cari cara bareng-bareng biar tugas ini terasa lebih mudah.”

  • “Mama lihat kamu lagi sedih dan bete banget ya sampai mogok belajar? Sini Mama peluk dulu, terus kita pikirin cara biar belajarnya seru sambil main.”

  • “Kalau kamu marah-marah begini, Papa jadi bingung. Yuk kita tenangin diri dulu, habis itu kita cari solusi sama-sama biar masalahnya beres.”

6. Pecah tugas yang membosankan menjadi langkah-langkah kecil

Pecah tugas menjadi bagian kecil
Pexels/Jep Gambardella

Terkadang, kata tidak yang diucapkan oleh si Kecil merupakan sinyal bahwa ia merasa kewalahan melihat perintah yang terlalu besar, seperti membereskan seluruh kamar tidur yang berantakan. 

Membantu memecah instruksi menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan akan meruntuhkan rasa malas si Kecil dan memicu motivasinya.

  • “Kalau terasa banyak banget, yuk kita kerjakan bagian pertamanya dulu sama-sama.”

  • “Kamar ini berantakan sekali ya? Gimana kalau Mama yang masukin buku ke rak, dan kamu yang masukin mainan ke keranjang?”

  • “Tugas sekolahnya panjang ya? Yuk kita selesaikan nomor satu dan dua dulu, habis itu kita istirahat minum susu.”

7. Tegaskan batasan dengan percaya diri tanpa memicu perdebatan

Tegaskan percaya diri tanpa debat
Pexels/www.kaboompics.com

Jika situasi penolakan si Kecil sudah mulai mengarah pada adu argumen yang tidak sehat, segeralah tarik diri Mama dari perdebatan tersebut. 

Sampaikan batasan dengan nada suara yang datar, tenang, namun penuh percaya diri untuk menunjukkan bahwa Mama adalah otoritas yang kuat namun tetap penuh kasih di rumah.

  • “Mama nggak mau berdebat sama kamu, tapi Mama akan tetap bantu kamu untuk menyelesaikannya sampai selesai.”

  • “Mama sayang sama kamu, jadi Mama nggak akan lanjutin adu argumen ini. Yuk, sekarang kita jalan dan Mama temani ke kamar.”

  • “Papa nggak akan teriak-teriak buat maksa kamu, tapi aturan ini tetap harus dijalankan dan Papa siap bantu kamu sekarang.”

Variasi contoh kalimat respons yang bernada sejuk namun tegas mana yang paling ingin Mama coba praktikkan saat si Kecil mulai berkata "tidak"?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More