Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Sulit Berpisah di Sekolah? Ini Kata Dokter soal Kelekatan Aman
Magnific/prostooleh

Sudah hampir seminggu anak-anak masuk sekolah, tapi Mama masih saja mendapati drama harian di depan gerbang kelas. Siapa Mama di sini sangat relate?

Pasti ada saja yang menangis kencang sambil memeluk erat kaki Mama, ada yang bergelayutan di seragam tak mau dilepas, bahkan tak sedikit yang histeris sampai harus digendong paksa oleh guru.

Momen yang seharusnya menyenangkan ini justru berubah menjadi perjuangan setiap pagi, membuat Mama pusing sekaligus sedih melihat anak seolah begitu terpaksa berpisah.

Lalu, mengapa sih ada anak yang begitu sulit berpisah dari orangtuanya? Apakah ini tanda anak terlalu dimanja? Atau ada hal lain yang lebih mendasar yang perlu Mama pahami?

Menurut Dr. Dono Baswardono, Ph.D., seorang ahli psikoterapi, terapis pernikahan dan keluarga, serta pakar grafologi yang juga aktif sebagai pembicara seminar parenting dan trauma healing, kesulitan berpisah ini berakar pada masalah "kelekatan" atau attachment antara orangtua dan anak.

Dalam unggahan di Instagram pribadinya, Dr. Dono menjelaskan secara mendalam mengapa sebagian anak mengalami kecemasan berpisah yang berat, apa saja tanda-tandanya, serta bagaimana seharusnya orangtua menyikapi hal ini dengan tepat.

Untuk membantu Mama memahami kondisi anak dan mengatasi drama pagi hari, berikut Popmama.com rangkum penjelasan lengkap dari Dr. Dono tentang anak sulit berpisah di sekolah dan cara membangun kelekatan aman.

1. Mengetahui anak dengan kelekatan aman itu seperti apa

Magnific/tirachardz

Menurut Dr. Dono, anak yang merasa aman menganggap orangtuanya sebagai ruang aman untuk bertransisi ke lingkungan baru. Ibarat pijakan yang kokoh, anak jadi bisa melompat untuk menjelajahi dunianya sendiri, Ma.

Nah, ciri-ciri dari kelekatan aman pada anak itu di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Berani bermain menjauh dari orangtua

  • Bersedia digendong atau dibimbing oleh guru baru

  • Sesekali menengok ke arah orangtua untuk memastikan keberadaan lalu kembali bermain

  • Hanya menangis sebentar saat berpisah lalu cepat tenang

Anak dengan kelekatan aman juga menunjukkan bahasa tubuh terbuka dan bebas mengungkapkan emosinya, baik saat dirinya merasa bahagia maupun saat gugup di depan kelas.

2. Tanda anak merasa tidak aman dan panik

Magnefic/pvproductions

Di sisi lain, Dr. Dono dalam unggahan tersebut juga mengingatkan tanda-tanda anak yang merasa tidak aman saat berpisah, Ma.

Jika anak merasa terancam oleh perpisahan, naluri bertahan hidupnya memicu respons stres yang kuat. Tandanya bisa dengan menempel sangat erat pada orangtua dan menangis semakin keras.

Selain itu, anak yang panik hingga menjerit atau menahan napas biasanya juga berusaha melarikan diri dari ruang kelas, atau bahkan shutdown total (diam membeku).

Ada pula yang menunjukkan perlawanan agresif seperti menggigit atau menendang, serta mengeluh gejala fisik seperti sakit perut atau mual. Tanda regresi juga sering muncul, seperti kembali mengisap jempol.

Kalau tanda-tanda ini dialami anak mama saat harus ditinggal sekolah, bisa jadi anak memang tidak memiliki kelekatan aman, Ma.

3. Jangan pernah pergi diam-diam, ini alasannya

Magnific/prostooleh

Salah satu pesan penting Dr. Dono terkait kelekatan aman dan kaitannya dengan anak yang sulit berpisah adalah jangan pernah pergi diam-diam saat mengantar anak ke sekolah.

Orangtua adalah sumber rasa aman bagi anak, jadi tindakan nylimur atau menyelinap pergi justru merusak kepercayaan anak, Ma.

Selain itu, hindari menunjukkan kecemasan dengan bolak-balik mengintip. Yang perlu dilakukan orangtua adalah melakukan koregulasi, yaitu menenangkan diri sendiri agar anak mencontoh cara menenangkan diri pada anak.

Jangan pula terburu-buru pergi tanpa memberi waktu anak untuk transisi. Mama bisa mengajak anak datang lebih pagi dan temani eksplorasi lingungkan sekitar.

Bisa dengan pergi ke toilet, bermain di taman sekolah, atau membaca buku di perpustakaan. Dengan begitu, anak akan punya waktu untuk transisi sebelum benar-benar ditinggal di sekolah.

4. Hal yang perlu dilakukan sebelum dan saat berangkat sekolah

Magnific/senivpetro

Menurut dokter yang akrab disapa Opa Dono ini oleh para pasiennya, persiapan hari pertama sekolah sebenarnya sudah dimulai jauh-jauh hari sebelumnya, Ma.

Orangtua perlu hadir dengan sikap tenang dan percaya diri, karena kondisi emosi anak sangat bergantung pada orangtuanya.

Anak juga harus dibiasakan bangun lebih pagi agar tidak terburu-buru dan ciptakan rutinitas pagi yang teratur. Saat di sekolah, lakukan ritual perpisahan penuh kasih sayang, seperti salaman khusus, pelukan, atau kalimat singkat seperti "Mama sayang kamu, sampai jumpa nanti."

Beri anak memento seperti foto keluarga, boneka kecil, atau gelang milik Mama yang bisa ia sentuh saat merasa tidak nyaman atau sedang rindu.

Dengan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan sebelum dan saat berangkat sekolah ini, anak pun perlahan akan terbiasa untuk pergi sekolah tanpa adanya drama menangis di pagi hari, Ma.

5. Tips membangun kelekatan aman sejak kecil

Magnific/Lifestylememory

Lebih lanjut, Opa Dono dalam unggahannya juga mengingatkan pentingnya menyambut anak sepulang sekolah dengan hangat dan tanpa tekanan.

Mama bisa menyambutnya dengan pelukan antusias dan hindari langsung menghujani pertanyaan tentang pelajaran atau kegiatan di sekolah. Buat anak merasa nyaman dan aman terlebih dahulu, Ma.

Validasi setiap perasaan anak, akui jika ia merasa lelah karena seharian menahan diri di tempat baru. Kalau anak mulai merasa nyaman, baru Mama bisa menanyakan kegiatan anak selama sekolah sembari membangun komunikasi harian.

Terakhir, Opa Dono menekankan bahwa kelekatan aman harus dibangun sejak anak lahir. Jadi, nggak semata terjadi begitu saja, Ma, harus dibiasakan bahkan sejak baru lahir.

Buatlah suasana yang membuat anak merasa cukup percaya dan aman untuk menjauh dari orangtuanya, karena pada akhirnya anak tahu bahwa kita orangtuanya adalah tempat yang selalu aman untuk kembali.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan tidak mengaitkan cinta dengan prestasi atau kepatuhan anak. Pisahkan kesalahan dari identitas anak, jadi alih-alih berkata "Kok kamu jorok sih?", coba katakan "Kamarmu sekarang berantakan, yuk kita bersihkan."

Jadi, kesulitan berpisah di hari pertama sekolah bukanlah tanda anak manja atau orangtua gagal mengasuh. Ini adalah momen transisi yang wajar, tapi membutuhkan pendekatan yang penuh pengertian dan kesiapan dari orangtua.

Dengan membangun kelekatan aman sejak dini, Mama bisa menjadi ruang aman yang kokoh bagi anak untuk melangkah ke dunia barunya dengan percaya diri.

Semoga tips dan penjelasan Dr. Dono di atas bisa membantu Mama dan si Kecil melewati hari-hari pertama sekolah dengan lebih tenang dan penuh kebahagiaan, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article