Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Magnific
  • Kasus dugaan pencabulan oleh dokter di Bandung terhadap anak kandung menegaskan kejahatan seksual dapat terjadi bahkan di rumah, sehingga edukasi perlindungan diri perlu diberikan sejak dini.

  • Orangtua perlu mengajarkan anak mengenali bagian pribadi tubuh, menolak sentuhan atau permainan tidak pantas, berkata tidak, serta tidak memperlihatkan tubuh kepada siapa pun.

  • Anak perlu didorong tidak menyimpan rahasia perilaku tidak pantas, waspada di internet dan tempat sepi, meminta pertolongan, serta memahami bahwa korban pelecehan tidak bersalah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kasus seorang dokter di Bandung yang tega mencabuli anak kandungnya yang masih balita baru-baru ini viral dan menjadi tamparan keras bagi semua pihak, terutama para orangtua.

Kasus ini pun menjadi pengingat bahwa kejahatan seksual terhadap anak bisa terjadi di mana saja, bahkan di dalam rumah sendiri yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak.

Melihat fenomena tersebut, dr. Devie Kristiani, Sp.A, membagikan sejumlah hal penting yang perlu diajarkan kepada anak sejak dini.

Melalui unggahannya di Instagram, dokter spesialis anak yang kerap berbagi edukasi di media sosial ini menekankan pentingnya edukasi sebagai benteng pertama perlindungan anak.

Lantas, apa saja yang perlu orangtua ajarkan? Berikut Popmama.com rangkumkan cara ajarkan anak melindungi diri dari pelecehan seksual.

1. Mengenal bagian pribadi tubuh

Magnific/freepik

Langkah pertama yang perlu diajarkan adalah mengenali bagian pribadi tubuhnya. Orangtua dapat mulai dengan mengajarkan nama-nama bagian tubuh secara benar, terutama area yang tertutup pakaian dalam. Tekankan bahwa tubuhnya berharga dan tidak boleh disentuh sembarangan oleh siapa pun.

2. Hindari permainan yang melibatkan perilaku seksual

Freepik

Ajarkan anak untuk tidak ikut permainan yang melibatkan perilaku seksual, seperti tidur-tiduran, bobo-boboan, atau nikah-nikahan yang melibatkan sentuhan atau tindakan tidak pantas.

dr. Devie menekankan ini penting untuk menghindari pelecehan dari orang terdekat. Anak perlu memahami bahwa permainan semacam itu tidak pantas dilakukan, meskipun tampak seperti sekadar bercanda.

3. Berani berkata TIDAK

Freepik/Lifestylememory

Anak perlu dilatih keberaniannya untuk berkata TIDAK terhadap sentuhan atau perilaku yang membuatnya tidak nyaman. Tekankan bahwa ia berhak menolak, termasuk kepada orang yang dikenal atau bahkan disayanginya. Semakin dini anak dilatih, semakin kuat instingnya untuk melindungi diri.

4. Tidak wajib menerima sentuhan fisik

Freepik

dr. Devie juga menambahkan bahwa anak tidak wajib menerima pelukan, ciuman, atau sentuhan jika tidak menginginkannya, meskipun itu datang dari keluarga sendiri. Hal ini penting untuk menghindari pelecehan dari orang terdekat. Dengan begitu, anak belajar bahwa persetujuan (consent) berlaku untuk semua orang, tanpa terkecuali.

5. Tolak permintaan untuk perlihatkan bagian tubuh

Freepik

Anak harus diajarkan untuk tidak mau diminta membuka atau meperlihatkan bagian pribadi tubuhnya untuk kepentingan yang tidak pantas, apa pun itu alasannya. Ajarkan pula bahwa tidak ada alasan sah bagi orang lain untuk meminta hal tersebut. Sikap tegas ini menjadi benteng penting dalam melindungi diri.

6. Jangan menyimpan soal perilaku yang tidak pantas

Magnific/freepik

Anak perlu memahami bahwa tidak boleh menyimpan rahasia tentang sentuhan atau perilaku yang tidak pantas, yang diterimanya.

Tekankan bahwa ia harus bercerita kepada orangtua atau orang dewasa yang dipercaya, meskipun diminta merahasiakannya oleh orang yang disayangi. Pelaku sering kali memanfaatkan rasa sayang anak untuk menutupi perbuatannya.

7. Waspada dunia maya

Magnific/freepik

Di era digital, penggunaan media sosial tidak lagi bisa kita hindari, begitu pun pada anak-anak.

Untuk itu, kita perlu mengajarkan anak agar tidak mengirim foto pribadi atau mengikuti permintaan seksual di internet. Ancaman ini bisa datang dari orang yang dikenalnya sekalipun.

Pastikan juga orangtua selalu mendampingi dan mengawasi aktivitas anak di dunia maya.

8. Tidak mengikuti orang ke tempat sepi

Freepik

Anak harus berani menolak jika diajak mengikuti orang ke tempat sepi ketika merasa tidak aman. Ajarkan ia untuk menjauh dan mencari tempat yang aman atau keramaian. Kepekaan terhadap situasi berbahaya inilah yang perlu ditumbuhkan sejak kecil.

9. Berani meminta pertolongan

Pexels/Barbara Olsen

Anak perlu dilatih untuk berani meminta pertolongan dan bercerita jika ada seseorang yang memaksa, mengancam, membujuk, atau membuatnya merasa tidak nyaman. Pastikan anak tahu ke mana ia harus mengadu, termasuk kepada orangtua atau guru. Jangan pernah meremehkan cerita anak, sekecil apa pun itu.

10. Anak tidak bersalah

Pexels/Artem Podrez

Hal terakhir yang tak kalah penting adalah memahami bahwa anak tidak bersalah jika mengalami pelecehan seksual. Tekankan bahwa itu bukan salahnya, meskipun ia tidak mampu melawan, diam, atau baru berani bercerita setelah sekian lama.

Menurut penjelasan dr. Devie, rasa aman dan dukungan orangtua menjadi kunci pemulihan anak dari rasa trauma yang dihadapinya.

Kasus dokter di Bandung yang tega mencabuli anak kandungnya sendiri tentu menjadi alarm keras dan pelajaran bagi kita semua, Ma.

Namun, dari sini kita bisa mengambil langkah nyata dengan mengajarkan cara melindungi diri kepada anak sejak dini.

Semoga peristiwa serupa tak pernah terulang dan semua anak tumbuh aman, terlindungi, serta bebas dari segala bentuk pelecehan seksual.

Curated For You

Editorial Team

Related Article