Kisah Anak 6 Tahun Berani Bilang Tidak saat Menyelamatkan Diri dari Pelecehan

Pernahkah Mama dan Papa membayangkan, anak kita yang masih kecil tiba-tiba harus menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman? Seperti diminta menunjukkan bagian pribadinya oleh teman bermain?
Ternyata, ini adalah kisah nyata seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang mengalami hal tidak mengenakan ketika bermain bersama teman-teman di sekitar rumahnya.
Dalam cerita yang dibagikan seorang kreator parenting @nurturedfirst, diceritakan bahwa tetangga laki-lakinya yang berusia 5 tahun terus memaksa untuk melihat bagian pribadinya.
Bahkan menawarkan untuk menunjukkan bagian tubuhnya sebagai imbalan. Namun si anak dengan tenang menjawab tidak, berkali-kali sampai memilih pergi meninggalkan rumah tetangganya.
Bukan karena takut, tapi karena ia tahu itu salah. Dan yang lebih penting, ia langsung menceritakan semuanya kepada orangtuanya.
Kisah ini tentu menjadi pengingat bagaimana komunikasi terbuka yang serta pendidikan seksual dini yang diajarkan pada anak adalah hal penting demi menjaga anak di kemudian hari, Ma.
Untuk itu, berikut Popmama.com rangkumkan kisahnya yang bisa jadi pengingat bagi para orangtua dalam mendidik anak untuk mencegah pelecehan seksual dini.
1. Kebiasaan kecil yang menyelamatkan anak dari situasi berbahaya

Dalam cerita yang dibagikan, dikisahkan bahwa dalam keluarga si anak, ada kebiasaan sederhana namun luar biasa, Ma.
Setiap malam saat makan bersama, mereka saling berbagi tiga hal yaitu bagian terbaik, terburuk, dan paling mengejutkan dari keseharian mereka.
Kebiasaan ini terlihat sepele, tapi ternyata menjadi jembatan emas antara anak dan orangtua. Anak jadi terbiasa bercerita tentang apapun yang terjadi, termasuk hal-hal yang membuatnya kesal atau bingung. Tanpa rasa takut dihakimi atau dimarahi.
Begitu pula saat ia diminta tetangganya untuk melihat bagian pribadinya tersebut, sang anak menyampaikannya dengan santai.
Baginya itu hanya kejadian mengganggu, bukan rahasia besar yang harus disembunyikan. Itulah kekuatan dari komunikasi terbuka yang dibangun sejak dini.
2. Ajaran body safety yang membuat anak berani bilang tidak

Orangtua si anak sudah sejak kecil mengajarkan tentang body safety. Mereka bilang, bagian pribadi adalah miliknya dan tidak boleh dilihat atau disentuh siapa pun. Bahkan jika orang lain memintanya, ia berhak menolak.
Mereka juga menanamkan bahwa tidak adalah kalimat yang lengkap. Tidak perlu alasan panjang. Tidak perlu merasa bersalah. Orang lain harus menghormati penolakannya, apapun alasannya. Ini yang disebut consent atau persetujuan.
Nah, ternyata ajaran kebiasaan inilah yang membuat anak tersebut tidak ragu saat tetangganya memaksa. Ia menjawab tidak dengan tegas, bukan karena takut, tapi karena ia tahu itu benar.
Keputusannya untuk pergi dan tidak lanjut bermain dengan tetangganya juga menjadikan dirinya berani mengambil keputusan untuk keluar dari tempat yang membuatnya tidak nyaman.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa orangtuanya telah memberinya bekal yang membuatnya percaya diri melindungi dirinya sendiri.
3. Melapor bukan berarti mengadu

Saat si anak pergi, tetangganya berkomentar, "Jangan mengadu ke Mama mu lagi. Kamu suka mengadu, menyebalkan!"
Tapi si anak tidak peduli. Ia tetap melangkah pulang dan menceritakan semuanya sebagaimana ritual sederhana keluarga mereka saat makan malam tiba.
Orangtuanya telah mengajarkan bahwa melapor bukanlah mengadu. Justru, melapor adalah cara untuk menjaga keselamatan diri.
Jika seseorang memintanya menyimpan rahasia yang membuatnya tidak nyaman, ia justru wajib memberitahu orangtua. Inilah pesan penting yang ingin disampaikan orangtua dari sang anak, Ma.
Banyak anak diam karena takut dicap pengadu. Padahal, justru dengan berbicara, anak bisa dilindungi dari bahaya yang lebih besar.
Orangtua perlu menegaskan bahwa anak tidak akan dimarahi karena jujur, dan mereka akan selalu mendengarkan. Itulah mengapa pentingnya komunikasi terbuka antara anak dan orangtua.
4. Jadi pembelajaran bagi orangtua dari kedua sisi

Setelah kejadian itu, orangtua si anak dan orangtua si tetangga sama-sama mendapat pelajaran berharga.
Orangtua si anak menyadari bahwa pengawasan selama bermain perlu lebih ketat. Waktu lama tanpa pengawasan di ruang bawah tanah bisa memicu situasi yang tidak aman.
Sementara orangtua si tetangga yang disebut bernama Mac, ternyata belum pernah membahas body safety dengan anaknya.
Mac bertanya karena rasa ingin tahu secara almi, karena dirinya belum pernah melihat bagian pribadi perempuan dan orangtuanya tidak pernah menjawab pertanyaannya.
Mereka pun akhirnya sadar bahwa anak butuh tempat bertanya yang aman, bukan mencari jawaban dengan cara yang membuat orang lain tidak nyaman.
Dari sini kita belajar, orangtua tidak bisa menunda pembicaraan soal tubuh dan consent. Rasa ingin tahu anak akan tetap ada, Ma.
Lebih baik kita yang menjadi sumber jawabannya, daripada anak mencarinya sendiri dengan cara yang salah. Mulailah dari hal kecil, ajarkan nama bagian tubuh, batasan, dan keberanian berkata tidak. Karena perlindungan terbaik anak dimulai dari rumah.





















