Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Cap Hiperaktif, ini 5 Fakta Anak Tidak Bisa Duduk Diam
Pexels/Pavel Danilyuk
  • Gerakan seperti menggoyangkan kaki dapat menstimulasi saraf otak, menjaga kewaspadaan, konsentrasi, dan membantu anak menyerap pelajaran saat belajar.
  • Fidgeting atau gerakan motorik halus merupakan mekanisme regulasi diri yang membantu anak menyeimbangkan stres dan kebosanan, sekaligus mendukung fokus serta daya ingat.
  • Kemampuan duduk diam masih berkembang bertahap pada anak usia dini; aktivitas kinestetik juga berkaitan erat dengan perkembangan motorik, daya tangkap, dan pembentukan memori.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat si Kecil menggoyangkan kaki, seperti tidak bisa diam duduk dengan tenang memang memancing rasa gemas dan kesal orangtua, ya.

Tak jarang, perilaku ini membuat Mama refleks menegur, bahkan terburu-buru melabeli anak sebagai sosok yang tidak patuh dan hiperaktif.

​Padahal, melansir dari konten edukasi dokter anak senior dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, Dr. Cathryn Tobin melalui akun Instagramnya @healthiest_baby, kebiasaan tidak bisa duduk diam ini sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh si Kecil untuk menstimulasi kerja otak anak agar tetap fokus, Ma.

​Daripada terburu-buru melarangnya sampai menyuruhnya duduk diam. Berikut sudah Popmama.com rangkum 5 fakta penting dibalik anak yang aktif bergerak agar Mama bisa mendampingi proses belajarnya dengan bijak!

1. Gerakan tubuh membantu otak anak tetap aktif

Pexels/George Pak

Saat melihat si Kecil terus bergerak saat belajar, muncul anggapan kalau ia sedang tidak fokus,ya nggak Ma?

Padahal, dari sudut pandang medis, gerakan fisik seperti menggoyangkan kaki merupakan cara alami tubuh untuk menstimulasi jaringan saraf otaknya agar tetap terjaga.

Sejalan dengan temuan ilmiah yang dipublikasikan dalam Research on Child and Adolescent Psychopathology. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa saat anak-anak aktif bergerak, tubuh mereka sedang merangsang daerah otak yang bertanggung jawab atas konsentrasi dan memorinya.

​Secara biologis, gerakan fisik membantu memicu pelepasan neurotransmitter seperti dopamin dan norepinefrin di otak. Nah, jika anak dipaksa duduk membatu dalam durasi lama, tingkat kewaspadaan otaknya justru menurun, lho Ma.

Hal ini malah membuat anak cepat lelah dan makin sulit menyerap pelajaran. Mama bisa izinkan anak sedikit bergerak, agar otak anak tetap aktif dan fokus, ya

2.Fidgeting bagus untuk tingkatkan fokus anak

Pexels/Yan Krukau

Kebiasaan mengetuk-ngetuk pensil hingga menggoyangkan kaki saat duduk sering kali dianggap perilaku yang mengganggu. Namun, ternyata ada istilah medisnya, yaitu fidgeting.

Fidgeting sebenarnya merupakan usaha alami anak untuk mempertahankan tingkat perhatiannya. Studi dari Rotman Research Institute turut memaparkan bahwa gerakan motorik halus seperti fidgeting berfungsi sebagai mekanisme regulasi diri, lho, Ma.

Gerakan kecil ini berfungsi untuk membantu menyeimbangkan kadar hormon stres dan rasa bosan di otak tanpa mengganggu jalannya proses berpikir utama.

3.Daya ingat anak jadi lebih maksimal

Pexels/Yan Krukau

Mama, saat anak bergerak ternyata bisa meningkatkan daya ingatnya lho.

Melansir dari jurnal Child Neuropsychology, mengungkapkan bahwa anak-anak yang diizinkan melakukan gerakan fisik, memiliki performa ingatan dan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat dipaksa duduk diam.

Ketika anak dipaksa untuk duduk diam tanpa bergerak sedikitpun, energi mentalnya habis terkuras hanya untuk menahan diri dan mengontrol impuls tubuhnya. Akibatnya, kapasitas otak untuk menyimpan memori pelajaran justru berkurang secara signifikan Ma.

4.Keterampilan duduk diam anak masih dalam tahap perkembangan

Pexels/Tatiana Syrikova

Menuntut anak usia 4-5 tahun untuk bisa duduk tenang seperti orang dewasa sebenarnya adalah ekspektasi yang kurang realistis, Ma.

Keterampilan untuk duduk diam dan mengontrol segala geraknya, belum berkembang di usia saat ini Ma. Keterampilan neuromotorik ini akan berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia anak.

Ketika Mama belum memahami hal ini sepenuhnya, biasanya muncul rasa kesal pada perilaku bergerak yang dilakukan oleh anak ya.

Memaksa anak untuk duduk diam melebihi kapasitas usianya justru memicu stres biologis, Ma. Nah, alangkah baiknya, Mama bisa memberikan ruang bagi anak untuk bergerak secara wajar untuk membantu proses kematangan otak dan sarafnya berjalan tanpa merusak rasa percaya diri si Kecil.

5.Hubungan keterlibatan kinestetik pada tubuh anak

Polesie Toys

Dilansir dari berbagai artikel, keterlibatan kinestetik ini mengaktifkan area motor cortex dan cerebellum di otak secara bersamaan, Ma.

Ketika anak belajar sambil melakukan gerakan fisik seperti menghitung menggunakan jemari, otak akan membentuk jalur memori yang jauh lebih kuat.

Melansir studi neurosains oleh Dr. Adele Diamond yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development, hubungan antara gerak tubuh dan kemampuan berpikir anak bukanlah hal yang terpisah.

Dalam risetnya, Dr. Diamond menegaskan, bahwa perkembangan motorik dan perkembangan kognitif pada dasarnya saling berkaitan erat. Bahkan, keduanya terikat secara fundamental dalam otak.

​Artinya, saat si Kecil belajar lewat gaya kinestetik otaknya sedang mengaktifkan jaringan saraf yang mendukung daya tangkap dan memorinya secara bersamaan.

Itulah 5 fakta mengenai anak tidak bisa duduk diam. Ternyata si Kecil aktif bergerak saat belajar bukanlah tanda ia tak mau diatur ya, melainkan cara alami otaknya untuk menjaga konsentrasi.

​Bagaimana dengan si Kecil di rumah, Apakah ia juga tipe yang hobi bergerak saat belajar?

Curated For You

Editorial Team

Related Article