Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Kebiasaan ala Mama Jepang yang Bikin Otak Anak Kuat dan Cerdas
Magnific/prostooleh

Bukan hal yang baru, kalau anak-anak di Jepang terkenal disiplin, fokus, dan punya kemampuan berpikir yang tajam sejak usia dini.

Tapi, pernahkah Mama berpikir bagaimana sih kira-kira pola asuh yang diterapkan orangtua di Jepang agar bisa membentuk karakter anak yang demikian?

Ternyata, rahasianya bukan cuma dari sistem pendidikannya yang terkenal maju, lho.

Kebiasaan sehari-hari yang diterapkan oleh para Mama di sana sejak anak masih balita memegang peranan yang sangat besar dalam membentuk kecerdasan otak si Kecil.

Yang menarik, kebiasaan tersebut bukan sekadar mitos atau tradisi turun-temurun belaka. Berbagai penelitian ilmiah modern justru membuktikan bahwa pola asuh khas Jepang ini secara nyata memengaruhi perkembangan saraf otak anak, meningkatkan fokus, serta membangun fondasi kecerdasan yang kokoh.

Semua ini dilakukan sebelum anak-anak masuk ke usia bangku sekolah, Ma.

Nah, buat Mama yang penasaran dengan kebiasaan orangtua di Jepang dalam mendidik anak, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya.

1. Tidur adalah harga mati

Magnifoc/gpointstudio

Buat Mama yang suka membiarkan anak begadang atau tidur larut malam, mulai sekarang yuk kita ubah kebiasaan itu.

Di Jepang, anak usia 1-5 tahun rata-rata tidur 11 hingga 12 jam setiap malam tanpa kompromi. Jam 8 malam saja, suasana rumah di sana biasanya sudah sunyi karena anak-anak sudah terlelap.

Hal ini juga terbukti dalam sejumlah penelitian bahwa saat anak tidur pulas, otak mereka bekerja paling keras. Otak sedang sibuk membuang sampah emosi dan menyemen memori agar menjadi kecerdasan permanen.

Bayangkan kalau kita memotong waktu tidur anak, itu sama saja dengan memotong kesempatan jutaan sel saraf untuk terhubung dengan sempurna, Ma.

2. Alam adalah guru terbaik

Magnific/jcomp

Anak-anak di Jepang terbiasa berada di luar ruangan minimal 1 jam setiap hari. Entah itu saat hujan dengan sepatu bot, atau panas terik dengan topi. Mereka diajak menginjak tanah, menyentuh batang pohon, atau sekadar melihat awan berlalu.

Nah, ternyata kebiasaan seperti inilah yang bisa menurunkan tingkat stres anak secara drastis, Ma. Di saat itulah prefrontal cortex atau pusat kendali fokus dan emosi di otak berkembang maksimal.

Jadi kalau Mama ingin si Kecil tidak gampang tantrum dan punya fokus tajam, biarkan anak bermain di alam untuk menghirup udara segar, bukan dinding kamar atau layar gadget saja.

3. Beri batasan screen time yang tegas

Magnific/pch.vector

Mama pasti setuju kalau memberikan gadget adalah cara termudah untuk membuat anak lebih anteng. Memang benar sih, Ma, tapi kebanyakan screen time juga nggak baik untuk tumbuh kembang mereka, lho.

Alih-alih memilih gadget, para Mama di Jepang justru punya aturan layar tanpa kecuali untuk anak usia 3 tahun. Di atas usia itu, mereka sangat pelit memberikan screen time, maksimal cuma 30 menit sehari.

Para Mama di Jepang memahami bahwa paparan layar berlebih pada balita secara fisik bisa menyusutkan massa putih di otak. Padahal bagian otak inilah yang mengurus bahasa, literasi, dan kemampuan berpikir mendalam.

Untuk itu, lebih baik Mama menemani si Kecil dengan aktivitas nyata ketimbang membiarkannya terpaku pada layar.

4. Aktif bergerak sebagai mesin kecerdasan

Magnific/pikisuperstar

Banyak orangtua panik dan langsung melarang saat melihat anak lari-larian, memanjat, atau melompat. Tapi di Jepang, gerakan motorik kasar justru dianggap sebagai fondasi konsentrasi anak.

Anak yang aktif bergerak bukan hanya menjaga kesehatan fisik, tapi juga keseimbangan akan memperkuat serebelum, yaitu bagian otak yang terhubung langsung dengan fokus.

Nah, meski usianya masih balita, tapi para Mama di Jepang membiarkan anaknya agar aktif bergerak agar mereka bisa duduk tenang saat masuk sekolah nanti.

Jadi Ma, saat si Kecil tidak bisa diam, ingatlah bahwa mereka tidak sedang nakal. Mereka sedang membangun kabel saraf agar bisa fokus di masa depan.

5. Pengalaman sensorik langsung

Magnific/rawpixel.com

Pernah dengar istilah "tangan adalah bagian luar dari otak"? Itu nyata adanya lho, Ma.

Ketika anak dibiarkan bermain dengan air, pasir, tanah liat, atau membantu meremas adonan di dapur, jutaan sel saraf di ujung jari mereka meledak mengirimkan sinyal ke otak.

Pengalaman sensorik yang kaya inilah yang membangun fleksibilitas otak multidimensi, Ma.

Nah, para Mama di Jepang tidak takut baju anak mereka penuh noda lumpur atau kotor, karena bagi mereka, noda bisa dicuci, tapi koneksi saraf yang tidak terbentuk karena anak terlalu steril tidak akan bisa diulang lagi.

Jadi, kalau si Kecil aktif di luar ruangan, biarkan mereka bereksplorasi dengan tangannya, ya!

6. Bangun interaksi dan percakapan tatap muka setiap hari

Magnific/prostooleh

Mungkin Mama secara fisik ada di samping anak, tapi pasti tanpa sadar Mama lebih sering terpaku pada layar HP, bukan?

Di Jepang, konsep skinship atau kedekatan fisik dan komunikasi dua arah sangat dijunjung tinggi lho, Ma. Saat berbicara dengan anak, berikan tatapan mata, ekspresi wajah, dan perhatian penuh.

Jumlah kata yang didengar anak langsung dari orangtuanya sebelum usia 5 tahun adalah penentu utama kesuksesan akademik mereka nanti.

Percakapan langsung membantu otak anak belajar kosakata, empati, nada bicara, dan struktur berpikir. Jadi, jauhkan gadget sejenak dan ajak si Kecil bicara dari hati ke hati, ya.

Kecerdasan anak itu bukan hasil instan satu malam, Ma. Bukan juga sekadar hasil pendidikan di bangku sekolah, melainkan buah dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Dengan meniru kebiasaan sederhana ala Mama di Jepang ini, Mama sudah membantu membangun fondasi otak kuat dan cerdas untuk masa depan si Kecil sejak dini.

Selamat mencoba di rumah ya, Ma.

Curated For You

Editorial Team

Related Article