Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Luka Masa Kecil Jangan Diwariskan, Ini Cara Memutus Polanya

3 min read
Luka Masa Kecil Jangan Diwariskan, Ini Cara Memutus Polanya
Magnific
  • Luka masa kecil orangtua dapat terpicu saat mengasuh, sehingga tangisan, penolakan, atau kegagalan anak memunculkan reaksi berlebihan seperti membentak.

  • Pola pengasuhan antargenerasi terbentuk dari pengalaman masa kecil dan dapat muncul otomatis, tetapi merupakan kecenderungan yang bisa disadari, bukan kepastian.

  • Orangtua dianjurkan mengenali pemicu, berhenti sejenak sebelum merespons, membangun respons baru, meminta bantuan psikolog bila perlu, serta memperbaiki hubungan setelah konflik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi orangtua ternyata tak selalu mudah ya, Ma, Pa. Kadang kala tanpa sadar ada momen ketika kita meledak pada anak hanya karena hal kecil.

Padahal, yang tersentuh bisa jadi bukan sekadar perilaku anak hari ini, tapi ada luka lama dari masa kecil kita sendiri yang ikut terbangun.

Psikolog Irma Gustiana A pun mengingatkan agar luka masa kecil kita tidak menjadi luka masa kecil anak. Lewat akun Instagram pribadinya @ayankrima, ia menjelaskan lebih rinci mengenai cara menghentikan pola asuh tersebut.

Agar bisa dipahami bersama, yuk, simak bagaimana pola ini bisa terjadi dan cara memutusnya dalam rangkuman Popmama.com berikut ini.

  1. 1. Alasan luka masa kecil bisa mudah terbangun saat mengasuh anak

    anak menangis
    Magnific/jcomp

    Menjadi orangtua kadang mempertemukan kita kembali dengan pengalaman masa kecil yang belum selesai.

    Tangis anak yang tidak reda atau satu kata "nggak mau!" bisa membangunkan rasa lama seperti takut, tidak berdaya, dan merasa tidak dihargai.

    Kalau sudah seperti ini, reaksi kita sering kali muncul lebih cepat dari pikiran ya, Ma. Inilah yang menjadi alasan mengapa sering kali luka masa kecil tanpa sadar mudah terbangun ketika mengasuh anak.

    Seperti dijelaskan Irma, mungkin sebagian kita terasa akrab ketika dulu sering dibentak, kini suara kita mudah meninggi. Dulu perasaan kita diabaikan, kini berujung bingung harus berbuat apa saat anak menangis.

    Dulu dituntut selalu berhasil, kini sulit menerima saat anak gagal. Memang nggak semua orang mengalaminya, tapi kalau ini terasa familiar, Mama dan Papa nggak sendiri, kok.

  2. 2. Pewarisan pola pengasuhan antargenerasi

    anak merenung
    Magnific

    Sejak kecil, kita belajar dari cara orangtua merespons kita. Bolehkah bersedih, bagaimana konflik diselesaikan, apakah kita tetap disayang saat salah.

    Nah, semua pelajaran itu tersimpan sebagai pola yang muncul otomatis saat kita mengasuh.

    Sebagai psikologi, Irma menyebutnya ini sebagai pewarisan pola pengasuhan antargenerasi, yaitu sebuah kecenderungan, bukan kepastian.

    Karena itu, saat anak menumpahkan susu lalu kita membentak seolah ia berbuat kesalahan besar, bisa jadi yang tersentuh bukan hanya susu yang tumpah. Ada luka lama yang belum selesai dan ikut memengaruhi reaksi kita.

    Kalau sudah seperti ini, sering kali perasaan bersalah muncul di dalam diri. Mama pun mulai bertanya, "kenapa ya tadi aku bisa semarah itu sama si adik?"

  3. 3. Coba bertanya pada diri sebelum menyalahkan diri

    papa temani anak tidur
    Magnific

    Alih-alih langsung menyalahkan diri, Irma justru menyarankan para orangtua untuk bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu.

    "Apakah aku sedang merespons perilaku anakku hari ini, atau ada pengalaman masa laluku yang ikut memengaruhi reaksiku?"

    Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk lebih mengenal diri kita, Ma, Pa.

    Dengan begitu, kita bisa membedakan mana reaksi yang proporsional dan mana yang dipicu luka lama.

    Kalau yang muncul terasa berat dan menetap, nggak ada salahnya kok untuk meminta bantuan psikolog. Sehat secara emosional bukan berarti nggak pernah marah, ya.

  4. 4. Langkah kecil untuk memutus polanya

    pola asuh orangtua
    Magnific

    Lebih lanjut, Irma juga menambahkan bagaimana cara menghentikan pola pengasuhan yang diakibatkan dari luka batin orangtua.

    Beberapa langkah sederhana yang perlu dilakukan, di antaranya:

    1. Kenali pemicunya. Perhatikan kapan emosi paling mudah meledak: apakah saat lelah, terburu-buru, atau dibantah.
    2. Jeda sebelum merespons. Tarik napas, lalu katakan dalam hati, "Tenang dulu."
    3. Bangun respons baru. Akui perasaannya, tegas pada batasan, lalu perbaiki hubungan setelah konflik.

    Orangtua itu juga manusia kok, Ma, Pa, pasti punya rasa lelah dan boleh keliru. Yang penting adalah menyadari, bertanggung jawab, berani bilang "Maaf ya, Nak," lalu memperbaiki hubungan dan terus belajar.

    Dari sini, anak pun akan melihat dan belajar bahwa hubungan bisa pulih setelah konflik.

    Luka masa kecil kita tak harus menjadi luka masa kecil anak kita. Dengan kesadaran dan kemauan belajar, pola pengasuhan yang lebih sehat bisa dimulai dari diri kita sendiri.

    Semangat selalu untuk menjalani pengasuhan terbaik untuk si Kecil, Ma, Pa.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More