Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Cara Disiplinkan Anak 2 Tahun Tanpa Drama, Pakai Strategi Ini!

4 min read
Cara Disiplinkan Anak 2 Tahun Tanpa Drama, Pakai Strategi Ini!
Magnific/freepik
  • Penolakan anak usia 2 tahun bukan tanda nakal, melainkan bagian perkembangan otak saat belajar mengelola emosi dan keinginan; orangtua dianjurkan merespons dengan empati.

  • Gunakan perhatian strategis, instruksi positif, serta pilihan sederhana agar anak memahami perilaku yang diharapkan dan merasa memiliki kendali saat menjalani rutinitas.

  • Ajak anak belajar lewat bermain, kesempatan mengulang, ruang aman, persiapan transisi, dan kalimat singkat; disiplin difokuskan untuk mengajar batasan tanpa mempermalukan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menghadapi anak usia 2 tahun memang tantangan tersendiri bagi setiap orangtua. Bukan begitu, Ma?

Kalau Mama mencoba menjelaskan pakai nalar atau alasan masuk akal ke anak 2 tahun, seringkali hal ini tak berhasil membuat anak mau menurut. Justru, malah membuat mereka bisa trantrum kapan saja.

Salah satu contohnya saat Mama meminta si Kecil bersiap tidur, tapi ia justru asyik membuat "cappuccino" untuk boneka-bonekanya dan menolak berhenti.

Dr. Cathryn, seorang dokter spesialis anak dalam akun Instagram @healthiest_baby menjelaskan bahwa situasi ini bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan cara kerja otak anak 2 tahun yang memang sedang berkembang.

Nah, biar anak usia 2 tahun lebih dispilin tanpa harus drama, berikut Popmama.com rangkumkan strategi yang bisa Mama lakukan pada si Kecil.

  1. 1. Kenali bahwa menolak bukan berarti anak nakal

    anak menonton
    Freepik

    Ketika anak menolak permintaan Mama, seringkali kita langsung melabelinya sebagai anak nakal atau pembangkang.

    Padahal, Dr. Cathryn menjelaskan bahwa perilaku tersebut adalah ekspresi dari otak anak usia 2 tahun yang sedang belajar mengelola emosi dan keinginannya.

    Alih-alih bertanya "bagaimana cara menghentikan perilaku ini", Mama bisa mulai bertanya "bagaimana cara menanganinya sambil melindungi harga diri anak".

    Dengan melihat "perilaku buruk" sebagai bentuk anak baik yang sedang kesulitan, Mama akan lebih mudah menjaga ketenangan dan merespons dengan empati.

  2. 2. Gunakan 'strategic attention' dan kalimat positif

    anak mencuci tangan
    Magnific/freepik

    Salah satu strategi efektif yang bisa Mama lakukana dalah strategic attention, yaitu memberikan perhatian pada hal yang ingin Mama tingkatkan.

    Hindari kalimat larangan seperti "jangan lari-lari", dan ganti dengan instruksi positif seperti "ayo jalan pelan-pelan di rumah".

    Anak usia 2 tahun akan lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan daripada apa yang tidak boleh dilakukan, Ma.

    Selain itu, Mama juga bisa memberikan pilihan yang baik alih-alih langsung memberikan pilihan tanpa bertanya pendapatnya.

    Misalnya "Malam ini tidurnya mau pakai piyama biru atau piyama kuning?". Pilihan sederhana ini membuat anak merasa memiliki kendali dan lebih kooperatif.

  3. 3. Bikin anak kooperatif lewat bermain dan do-over

    anak bermain bersama
    Magnific/freepik

    Kunci utama menghadapi anak 2 tahun adalah playfulness atau bermain-main.

    Mama bisa lho ajak anak "bergosip" dengan boneka atau mainan tentang apa yang seharusnya dilakukan anak, misalnya "Teddy bilang, ayo kita bereskan cappuccino tadi, habis itu siap-siap tidur".

    Cara ini jauh lebih menarik daripada perintah langsung, yang biasanya lebih banyak ditolak mentah-mentah oleh anak.

    Selain itu, tawarkan do-over atau kesempatan mengulang ketika anak melakukan kesalahan. Misalnya, jika anak melempar mainan, Mama bisa berkata "Ayo coba lagi, kali ini taruh mainannya pelan-pelan ya".

    Do-over inilah yang nantinya akan membantu anak belajar tanpa rasa malu, Ma.

  4. 4. Ciptakan ruang aman dan beri anak waktu bersiap

    anak mendengarkan musik
    Magnific/freepik

    Lebih lanjut, Dr. Cathryn menjelaskan bahwa orangtua perlu menyiapkan lingkungan yang mendukung, atau yang dikenal dengan YES space.

    Ini adalah area aman di mana anak bebas bereksplorasi tanpa banyak larangan, sehingga lebih efektif dalam mengurangi konflik.

    Selain itu, persiapkan anak sebelum aktivitas tertentu, misalnya memberi tahu "Lima menit lagi kita mandi ya" agar anak punya waktu mental untuk berpindah kegiatan.

    Gunakan juga pendekatan yes-no-yes, yaitu setujui dulu keinginannya, beri batasan, lalu tawarkan alternatif. Contohnya "Iya, cappuccino-nya enak ya. Tapi sekarang waktunya tidur. Besok kita buat lagi, ok?"

  5. 5. Ajarkan lewat kalimat singkat dan sederhana

    anak bermain
    Magnific/freepik

    Disiplin sejatinya adalah tentang mengajar, bukan menghukum. Perlu orangtua pahami juga bahwa di usia ini, anak masih belum mampu memahami penjelasan panjang, jadi gunakan kalimat singkat dan sederhana.

    Misalnya "Waktunya tidur, yuk kita kasur" daripada ceramah panjang tentang pentingnya tidur.

    Ketika anak tantrum, usahakan agar Mama tetap tenang dan tidak perlu ikut emosi. Ingatlah bahwa tujuan disiplin adalah melindungi harga diri anak sambil membimbingnya memahami batasan.

    Dr. Cathryn menyebutkan bahwa dengan pendekatan ini, anak pun akan belajar mengelola emosi secara sehat.

    Jadi, Ma, mengahdapi anak 2 tahun bukan tentang memenangkan pertarungan, melainkan membangun koneksi dan pemahaman.

    Dengan strategi yang tepat, tantrum bisa diminimalisir dan hubungan Mama dengan si Kecil pun semakin hangat. Yuk, coba terapkan dari sekarang, Ma.

Share Article

Curated For You

Editorial Team

Related Articles

See More