Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Mitos dan Fakta Makanan Fermentasi, Apakah Semua Itu Termasuk Probiotik?
Pexels/Alicia Harper
  • Setiap strain probiotik punya manfaat berbeda; efektivitasnya ditentukan kecocokan strain dan dosis yang teruji klinis, bukan sekadar label probiotik atau angka CFU tinggi.
  • Makanan fermentasi tidak otomatis tergolong probiotik karena strain, jumlah mikroba hidup, dan manfaat kesehatannya belum tentu teridentifikasi serta tervalidasi secara ilmiah.
  • Probiotik mendukung keseimbangan mikrobioma, imunitas, dan penyerapan nutrisi anak; penggunaan suplemen perlu disesuaikan kondisi, dengan strain serta dosis tepat agar tidak memicu ketidaknyamanan perut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Istilah probiotik kini semakin akrab di telinga para orangtua sebagai salah satu penunjang imunitas, pencernaan, dan kognitif anak. Selain itu, probiotik juga sebagai “makanan” bagi gut health dalam mendukung kesiapan anak untuk belajar dan menerima stimulasi.

Sayangnya, masih banyak mitos yang beredar seputar keefektifan hingga sumber probiotik itu sendiri. Termasuk klaim bahwa semua makanan hasil fermentasi otomatis tergolong probiotik.

Supaya tidak keliru dalam memenuhi nutrisi si Kecil, mari luruskan dengan fakta dari medis. Berikut sudah Popmama.com rangkum 7 mitos seputar probiotik.

Dicatat ya, Ma!

1. Mitos: Semua probiotik itu sama saja

Pinterest.com/Dr. Michael Ruscio, DC

Banyak orangtua menganggap semua produk dengan label "probiotik" memiliki khasiat yang persis sama bagi tubuh anak. Padahal, dunia mikrobiota sangat luas dan terbagi berdasarkan genus, spesies, hingga strain spesifik.

Menurut dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) melalui konten edukasi di Instagram (@dr.sri_rezeki.spak), setiap strain probiotik memiliki fungsi serta manfaat kesehatan yang berbeda bagi tubuh anak. Sebagai contoh, strain tertentu efektif untuk membantu mengatasi gangguan pencernaan seperti diare, sedangkan strain lainnya fokus mendukung sistem kekebalan tubuh.

Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk memperhatikan strain yang terkandung di dalam produk, bukan sekadar melihat klaim "mengandung probiotik".

Faktanya: Setiap strain probiotik memiliki fungsi serta manfaat kesehatan yang berbeda bagi tubuh anak.

2. Mitos: Semakin tinggi jumlah CFU, semakin bagus probiotik tersebut

Pexels/Edward Jenner

Sebagian Mama percaya bahwa semakin miliaran jumlah CFU-nya, maka efeknya akan semakin kuat. Memang, Colony Forming Units (CFU) menunjukkan jumlah sel bakteri hidup dalam satu dosis probiotik.

Namun, fakta medis menyatakan bahwa jumlah CFU yang lebih tinggi belum tentu lebih baik. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) menjelaskan dalam konten edukasinya bahwa yang terpenting adalah kecukupan dosis yang teruji secara klinis dan efektif sesuai kebutuhan spesifik anak.

Hal ini juga diperkuat oleh International Probiotics Association (IPA) yang menegaskan bahwa dosis yang sangat tinggi tidak otomatis menghasilkan kualitas atau efek yang lebih tinggi; yang utama adalah ketepatan dosis dan strain-nya.

Faktanya: Kecukupan dosis yang efektif sesuai kebutuhan spesifik anak.

3. Mitos: Semua makanan fermentasi adalah probiotik

Pexels/Geraud pfeiffer

Istilah "makanan fermentasi" dan "probiotik" sering kali dianggap sebagai hal yang sama, padahal keduanya memiliki batasan medis yang berbeda.

Makanan atau minuman fermentasi tradisional seperti kombucha, sauerkraut, kimchi, hingga beberapa jenis keju memang mengandung mikroba hidup dari proses fermentasinya.

Namun, menurut International Probiotics Association (IPA), mikroba hidup dalam makanan fermentasi tradisional umumnya belum memenuhi kriteria resmi sebagai probiotik. Sebab, jenis strain mikrobanya sebagian besar belum teridentifikasi secara pasti dan jumlah mikroba hidupnya belum teruji secara klinis memiliki manfaat kesehatan tertentu.

Supaya dapat disebut sebagai probiotik, suatu mikroorganisme harus terbukti hidup, jumlahnya terukur, dan memiliki manfaat kesehatan yang tervalidasi melalui penelitian ilmiah.

Faktanya: Tidak semua makanan fermentasi adalah probiotik.

4. Mitos: Anak yang sudah minum susu berprobiotik tidak perlu suplemen probiotik

Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA

Susu formula berfortifikasi probiotik memang baik sebagai asupan penunjang harian. Namun, hal ini tidak otomatis menutupi seluruh kebutuhan kondisi medis si Kecil.

Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) meluruskan bahwa kadar atau jenis strain probiotik dalam susu olahan belum tentu mencukupi apabila anak sedang mengalami kondisi khusus.

Misalnya ketika anak mama terjangkit diare, , diperlukan suplemen probiotik khusus dengan strain serta dosis klinis yang lebih spesifik untuk mempercepat pemulihannya.

Faktanya: Kadar atau jenis strain probiotik dalam susu olahan belum tentu mencukupi apabila anak sedang mengalami kondisi khusus.

5. Mitos: Probiotik hanya dibutuhkan saat anak sedang sakit pencernaan

Magnific/jcomp

Apakah Mama masih menganggap probiotik seperti obat?

Faktanya, menurut dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) bahwa fungsi probiotik jauh lebih luas dari sekadar penanganan penyakit pencernaan.

Probiotik yang tepat dapat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mikrobioma usus harian, yang memegang peranan penting dalam mendukung daya tahan tubuh. Selain itu, probiotik turut membantu penyerapan nutrisi harian anak agar tumbuh kembangnya makin optimal.

Faktanya: Fungsi probiotik jauh lebih luas dari sekadar penanganan penyakit pencernaan.

6. Mitos: Makanan fermentasi bisa sepenuhnya menggantikan suplemen probiotik

Pexels/cottonbro studio

Makanan olahan fermentasi seperti yogurt memang merupakan pilihan camilan sehat yang kaya nutrisi. Namun, mengandalkan makanan fermentasi saja untuk menggantikan suplemen probiotik bukanlah langkah yang tepat.

Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) menekankan bahwa jumlah bakteri baik dalam makanan fermentasi harian sering kali tidak terukur dengan pasti. Selain itu, tidak semua bakteri dalam makanan fermentasi memiliki daya tahan yang cukup untuk melewati asam lambung yang pekat hingga akhirnya sampai ke usus dalam keadaan hidup.

Berbeda halnya dengan suplemen probiotik teruji klinis yang memang dirancang khusus agar mikroba baiknya mampu bertahan dan bekerja optimal di dalam saluran cerna anak mama.

Faktanya: Tidak semua bakteri dalam makanan fermentasi memiliki daya tahan yang cukup untuk melewati asam lambung yang pekat hingga akhirnya sampai ke usus dalam keadaan hidup.

7. Mitos: Konsumsi lebih banyak probiotik lebih baik

Pexels/Ron Lach

Sebagian orangtua beranggapan bahwa makin banyak produk berprobiotik diberikan kepada anak, maka hasil yang didapat akan makin bagus. Namun, prinsip “semakin banyak, semakin baik” ternyata tidak berlaku dalam penggunaan probiotik.

Hal ini ditegaskan oleh International Probiotics Association (IPA), menambah dosis secara berlebihan tanpa indikasi yang jelas tidak otomatis meningkatkan efektivitasnya bagi tubuh. Mengonsumsi probiotik melebihi kebutuhan justru berpotensi memicu rasa tidak nyaman pada perut anak, seperti perut kembung.

Faktanya: Memberikan probiotik dengan strain yang tepat dan dosis yang sesuai saran dokter atau petunjuk penggunaan yang telah teruji klinis.

Itulah 7 mitos probiotik yang penting untuk Mama ketahui. Memilih probiotik untuk anak memang tidak boleh sembarangan. Pastikan Mama selalu memperhatikan kebutuhan dan saran medis sebelum membeli produk probiotik, ya. Jika ragu, segera konsultasikan ke dokter anak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article