“Asbun biasanya mereka cukup nyeletuk terus pergi. Jadi dari sikap juga kita sudah bisa menilai anak ini benar-benar kritis atau cari perhatian aja,” jelas psikolog yang akrab disapa Alexa itu.
5 Fakta Gen Alpha Sering Dibilang Asbun dan Kritis ke Orangtua, Kok Bisa?

- Gen Alpha sering dianggap asbun karena spontan, padahal hal itu dipengaruhi lingkungan digital cepat dan pola komunikasi di rumah yang membentuk cara berpikir mereka.
- Psikolog Alexandra Gabriella menekankan pentingnya orangtua membedakan anak yang benar-benar kritis dengan yang hanya mencari perhatian agar perkembangan berpikir tetap sehat.
- Kemampuan critical thinking anak tumbuh dari kebiasaan berdiskusi di rumah, contoh nyata dari orangtua, serta penjelasan logis dan konsisten dalam aturan keluarga.
Generasi Alpha sering dianggap terlalu banyak bicara, suka nyeletuk, bahkan dicap “asbun” oleh orang dewasa. Padahal, di balik kebiasaan mereka yang spontan, ada banyak faktor perkembangan pola pikir, lingkungan digital, hingga pola komunikasi di rumah yang ikut memengaruhi.
Menurut Alexandra Gabriella, M.Psi., Psi., C.Ht., C.ESt., Psikolog Klinis, penting bagi orangtua memahami perbedaan antara anak yang benar-benar kritis dengan anak yang hanya mencari perhatian. Cara meresponsnya pun perlu berbeda agar kemampuan berpikir anak tetap berkembang dengan sehat.
Berikut Popmama.com rangkum fakta mengenai Gen Alpha yang sering dianggap asbun padahal bisa jadi sedang belajar critical thinking.
1. Anak asbun biasanya hanya nyeletuk tanpa benar-benar ingin berdiskusi

Menurut Alexandra Gabriella, anak yang benar-benar kritis biasanya ingin memahami sesuatu lebih dalam. Mereka tidak sekadar bertanya lalu pergi, tetapi tertarik mendengarkan jawaban dan memproses informasi yang diterima.
Anak yang kritis cenderung menunjukkan rasa ingin tahu yang konsisten. Mereka bisa kembali bertanya, memberi tanggapan, atau mencoba menghubungkan jawaban dengan pengalaman yang pernah mereka alami sebelumnya.
2. Gen Alpha tumbuh di era serba cepat sehingga responsnya spontan

Generasi Alpha lahir di lingkungan digital yang serba instan. Mereka terbiasa mendapatkan jawaban dengan cepat melalui internet, media sosial, atau video singkat. Hal ini membuat otak mereka terbiasa memproses informasi secara cepat pula.
“Karena sedari kecil mereka hidup di era digital yang serba cepat dan instan. Jadi biasanya mereka butuh banyak latihan mengontrol diri dan lebih sabar, menunggu giliran, mengikuti aturan yang mungkin buat mereka tidak terbiasa,” tutur Alexandra.
Ia juga menjelaskan bahwa spontanitas anak kadang muncul karena otak mereka terbiasa merespons dengan cepat. Meski begitu, keberanian anak berbicara kepada orangtua juga bisa menjadi tanda hubungan yang hangat di rumah.
“Di satu sisi semakin mereka berani berbicara dengan orangtuanya, menyampaikan pemikiran ke orangtuanya, senyeleneh apa pun, itu menandak
3. Anak bisa membalikkan omongan orangtua karena mereka memperhatikan contoh nyata

Anak-anak Gen Alpha tidak hanya mendengar aturan, tetapi juga mengamati perilaku orangtuanya sehari-hari. Karena itu, mereka sering mempertanyakan hal-hal yang dianggap tidak konsisten.
“Pernah, ‘kok aku nggak boleh main handphone padahal mama dan papa juga main handphone’, anakku pernah bertanya seperti itu,” ujar Alexa sambil mencontohkan pengalaman pribadi.
Menurutnya, orangtua perlu memberikan penjelasan yang masuk akal dan menjadi contoh langsung di rumah. Anak akan lebih mudah memahami aturan jika melihat orangtuanya juga menerapkan hal yang sama.
“Mama papa pakai handphone itu untuk bekerja lho atau belajar. Jelaskan tontonan itu bukan sekadar lucu-lucuan. Lucu-lucuan boleh tapi sebentar. Di luar itu berikan tontonan yang bermanfaat,” jelas Alexandra.
4. Anak lebih mudah memahami lewat analogi sederhana

Alexandra menjelaskan bahwa anak-anak sebenarnya sangat mudah diajak memahami sesuatu jika menggunakan bahasa yang dekat dengan dunia mereka. Salah satunya lewat analogi sederhana tentang spons dan air berwarna.
“Anak-anak ini paling gampang diajarin pakai analogi, bayangin anak itu sponge. Kalau ditaruh di air kotor jadi meresap air kotornya. Tapi kalau sponge itu ditaruh di air warna-warni, sponge-nya jadi warna-warni,” tutur Alexandra.
Ia menambahkan bahwa analogi tersebut bisa membantu anak memahami dampak tontonan dan informasi yang mereka konsumsi setiap hari. Jika terlalu banyak menerima konten negatif atau brainrot, maka pola pikir anak juga ikut terpengaruh.
“Kalau misalnya otaknya dikasih brainrot ya akan jadi seperti kotor itu. Tapi kalau banyak membaca, banyak lihat pelajaran atau video edukatif, maka otak akan lebih berwarna dan wawasannya lebih luas,” lanjutnya.
5. Critical thinking anak sebenarnya berawal dari rumah

Kemampuan berpikir kritis menurut Alexa tidak muncul begitu saja. Anak belajar dari pola komunikasi di rumah, terutama apakah mereka terbiasa didengar dan diajak berdiskusi sejak kecil.
“Kritikal thinking berangkat dari rumah. Dan di satu sisi mereka sudah terbiasa mengungkapkan. Kalau dulu kan nggak kayak sekarang, mereka lebih berani,” jelas Alexandra.
Ia juga mengingatkan pentingnya aturan yang jelas di rumah. Jika orangtua tidak memiliki kesepakatan yang konsisten, anak justru akan terus mengkritisi perilaku orangtuanya sendiri.
“Mereka mempelajari apa yang disepakati di rumah. Kalau nggak punya aturan yang jelas jadi anak mengkritisi orangtuanya,” pungkasnya.
Itulah beberapa fakta mengenai Gen Alpha yang sering dianggap asbun padahal bisa jadi sedang belajar critical thinking. Jadi, penting bagi orangtua untuk membedakan mana perilaku mencari perhatian dan mana rasa ingin tahu yang perlu diarahkan dengan baik.
POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Psikolog Klinis
Senior Editor - Novy Agrina
Host - Novy Agrina
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana
Script - Sania Chandra Nurfitriana
Social Media - Mayang Ulfah
Photographer - David Andrew
Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav
Video Editor - David Andrew
Design - Aristika Medinasari


















