Kasus DBD Meningkat Signifikan, Ini Hal yang Perlu Orangtua Ketahui

- Kasus DBD meningkat di Jakarta sejak akhir 2025; Jakarta Barat mencatat 1.538 kasus, dengan Cengkareng tertinggi 327 kasus, di tengah musim kemarau berkepanjangan.
- Orangtua perlu mengenali fase demam, kritis, dan pemulihan; penurunan suhu mendadak pada fase kritis 24–48 jam dapat menandakan risiko kebocoran plasma dan perdarahan.
- Selain 3M+, vaksin dengue TAK-003 yang disetujui BPOM dan direkomendasikan IDAI tersedia untuk usia 4–18 tahun dalam dua dosis berjarak tiga bulan.
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengalami peningkatan signifikan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.
Dinas Kesehatan Jakarta mencatat tren kenaikan kasus sejak akhir 2025. Peningkatan signifikan ini juga terjadi akibat musim kemarau yang berkepanjang.
Data dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat sendiri telah mencatat sebanyak 1.538 kasus DBD terdata di wilayah tersebut. Kecamatan Cengkareng menjadi titik dengan kasus terbanyak, mencapai 327 kasus dari total tersebut .
Melihat kondisi ini, para orangtua tentu perlu waspada dan memahami langkah pencegahan yang tepat. Bukan hanya 3M+ yang selama ini dikenal, kini ada proteksi ekstra berupa vaksin dengue yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Untuk itu, berikut Popmama.com rangkumkan apa saja yang perlu orangtua pahami untuk menjaga si Kecil dari maraknya kasus DBD yang sedang terjadi di masyarakat.
1. Tiga fase DBD yang perlu orangtua pahami

Magnific Salah satu yang perlu orangtua ketahui mengenai DBD adalah bagaimana penyakit ini mengalami tigas fase berbeda, yakni fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan.
Memahami fase-fase ini penting agar Mama dan Papa bisa segera mengenali gejala dan membawa anak ke fasilitas kesehatan tepat waktu.
Untuk fase demam, biasanya anak mulai mengalami gejala demam tinggi mencapai 40 derajat Celcius selama 2–7 hari setelah penularan nyamuk Aedes aegypti.
Pada fase ini, anak biasanya akan lebih lemas dari baisanya dan jumlah trombosit dalam darah mulai menurun drastis.
Selain demam, Mama juga perlu mewaspadai fase kritis yang justru menjadi fase paling berbahaya, Ma.
Pada tahap ini, suhu tubuh anak tiba-tiba turun drastis mendekati normal, jadi banyak orangtua keliru menganggap anak sudah sembuh. Padahal, fase inilah yang berpotensi menyebabkan kebocoran plasma darah dan perdarahan yang berisiko fatal jika tidak segera ditangani.
Pada fase kritis ini, biasanya berlangsung sekitar 24–48 jam dan memerlukan pengawasan ketat, Ma. Barulah setelah melewati fase ini, anak akan memasuki Fase Pemulihan selama 48–72 jam.
Di fase terakhir perjalanan DBD ini, nafsu makan mulai kembali dan anak kembali ceria serta aktif seperti semula.
2. Kasus DBD juga meningkat di musim kemarau

Magnific/jcomp Hal lain yang tak kalah penting untuk diketahui adalah nyamuk Aedes aegypti sebagai faktor utama penular DBD paling aktif menggigit di pagi dan sore hari.
Namun yang menarik, kasus DBD justru tidak hanya meningkat di musim hujan, tapi juga di musim kemarau seperti saat ini, Ma.
Kedua musim ini sama-sama berisiko terhadap penularan DBD, karena nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang biak dengan cepat hanya dari genangan air dalam jumlah kecil.
Pemanasan global juga turut berkontribusi terhadap peningkatan kasus DBD, karena kenaikan suhu bumi mempercepat siklus hidup nyamuk.
Pada suhu normal 28 derajat Celcius, nyamuk menghisap darah setiap 5 hari. Namun seiring kenaikan suhu, siklusnya memendek menjadi setiap 2 hari. Hal ini secara otomatis meningkatkan risiko penularan DBD.
3. Vaksin dengue untuk proteksi ekstra

Magnific Pencegahan DBD identik dengan menjaga kebersihan lingkungan menggunakan 3M+, yaitu Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang.
Namun, tahukah Mama bahwa kini ada perlindungan langsung yang bisa diberikan pada tubuh kita? Adalah baksin dengue TAK-003 buatan Takeda yang terlah mendapatkan persetujuan BPOM dan direkomendasikan oleh IDAI.
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi, menegaskan bahwa sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.
Hal ini karena pada kelompok usia tersebut dinilai memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat bila terinfeksi dengue.
Penelitian vaksin TAK-003 fase 3 menunjukkan manfaatnya secara umum sebesar 80,2%, juga menurunkan risiko perawatan rumah sakit sebesar 90,4%, dan mengurangi risiko demam berdarah dengue (DHF) sebesar 85,9%.
Untuk Mama yang ingin memberikan proteksi ekstra dari DBD, vaksin ini diberikan sebanyak 2 kali suntikan dengan jeda 3 bulan antara dosis pertama dan kedua sebagai perlindungan optimal, baik bagi anak yang sudah maupun belum pernah terinfeksi.
Keunggulan lain dari vaksin ini adalah fleksibilitasnya, karena vaksin dengue aman diberikan baik untuk anak yang sudah pernah kena DBD maupun yang belum pernah sama sekali.
Dengan kombinasi 3M+ dan vaksinasi dengue, ini tentu menjadi langkah pencegahan terbaik untuk si Kecil di tengah penyebaran DBD yang semakin meningkat.





















