Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Tak Semua Orang Dewasa Aman, Ini Hal Penting yang Wajib Diketahui Anak

Tak Semua Orang Dewasa Aman, Ini Hal Penting yang Wajib Diketahui Anak
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI
Intinya Sih
  • Kasus kekerasan terhadap anak meningkat, membuat orangtua perlu menanamkan pemahaman bahwa tidak semua orang dewasa aman, bahkan dari lingkungan terdekat sekalipun.
  • Anak harus diajarkan mengenali perasaan tidak aman, memahami batasan tubuh, serta berani berbicara ketika merasa terancam atau tidak nyaman.
  • Penting bagi anak mengetahui rahasia baik dan buruk, mengenali perilaku mencurigakan, serta memiliki daftar orang dewasa tepercaya untuk dimintai bantuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat ini masyarakat tengah dihebohkan dengan berbagai kasus kekerasan pada anak di bawah umur. Tak jarang memberikan rasa kekhawatiran sendiri bagi setiap Mama di rumah.

Penting bagi orangtua untuk memberikan pemahaman sejak dini bahwa tidak semua orang dewasa aman bagi si Kecil bahkan keluarga terdekat sekalipun.

Edukasi ini, tak hanya untuk menanamkan rasa takut berlebihan ma, melainkan sebagai bekal anak dan keterampilan untuk melindungi diri di kemudian hari . Anak perlu memahami batasan, mengenali situasi berisiko, serta berani bersikap tegas ketika merasa tidak nyaman.

Untuk memahami informasi ini secara lebih mendalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum hal ini secara lebih lanjut. Disimak, ya!

Table of Content

1. Ajari mengenali perasaan tidak aman

1. Ajari mengenali perasaan tidak aman

anak sedang berbicara dengan orang asing di taman
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Mengajarkan anak untuk mengenali perasaan sejak dini merupakan langkah penting dalam membangun kesadaran diri dan kewaspadaan anak. Saat anak mampu memahami apa yang ia rasakan, mereka akan lebih mudah membedakan situasi yang membuatnya nyaman dan yang menimbulkan rasa tidak aman. Kemampuan inilah yang membantu anak bersikap lebih waspada tanpa adanya takut berlebihan.

Menurut Dr. Laura Markham, mengungkapkan bahwa anak yang terbiasa mengenali dan memahami perasaannya cenderung memiliki kontrol emosi yang lebih baik. Hal ini membuat anak lebih mampu menyampaikan ketidaknyamanan serta mengambil keputusan yang aman dalam situasi berbahaya sekalipun.

Dengan melatih anak melalui percakapan sederhana setiap hari. Ajak anak menceritakan perasaannya setelah bermain atau bertemu orang baru. Jika dilakukan secara konsisten, anak akan tumbuh lebih peka terhadap dirinya sendiri dan lebih percaya diri menjaga batasan pribadinya secara sehat.

2. Tanamkan pemahaman mengenai batasan

anak sedang bermain dengan teman
Freepik

Salah satu hal yang terpenting yang wajib diketahui anak adalah menjaga diri dari segala bentuk kejahatan yang berkaitan dengan orang dewasa. Anak perlu memahami bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri dan tidak boleh disentuh sembarangan oleh siapa pun.

Menurut American Academy of Pediatrics, edukasi tentang batasan tubuh sejak dini terbukti membantu anak lebih waspada terhadap sentuhan tak pantas.

Ajarkan bagian tubuh mana yang bersifat pribadi serta hanya boleh disentuh saat situasi tertentu, seperti pemeriksaan medis dengan pendampingan orangtua dan tidak sembarangan disentuh oleh orang asing.

3. Ajarkan untuk tidak diam saat anak merasa terancam

orang dewasa memerikan anak permen
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Diam tak selalu berarti baik. Mengajarkan anak untuk tidak diam saat merasa terancam merupakan langkah penting dalam melindungi keselamatan mereka Ma. Anak perlu memahami bahwa menyampaikan perasaan takut, tidak nyaman, atau khawatir kepada orang dewasa adalah tindakan yang benar. Sikap terbuka ini tentunya membantu anak merasa lebih aman serta mencegah potensi membahayakan yang terjadi di masa depan.

Menurut Dr. Karen Saywitz dari University of California, anak yang dibiasakan mengungkapkan perasaannya cenderung lebih mampu melindungi diri dan mencari bantuan saat berada dalam situasi yang berisiko. Kemampuan inilah yang menjadi bekal penting dalam membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak dalam kehidupan sehari-hari.

Ciptakan kebiasaan komunikasi yang hangat di rumah agar anak merasa nyaman bercerita tentang apa pun yang ia alami. Berikan respons yang tenang dan penuh empati ketika anak menyampaikan keluh kesahnya. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa suaranya penting dan perasaannya dihargai.

4. Ajarkan anak mengenai rahasia baik dan rahasia tidak baik

anak perempuan sedang berfikir
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Penting bagi orangtua untuk memahami bahwa tidak semua rahasia itu bersifat baik. Terutama jika rahasia tersebut membuat anak merasa tidak nyaman, takut, atau diminta untuk menyembunyikan sesuatu dari orangtua. Dalam kondisi tertentu, permintaan untuk merahasiakan dari orang tak dikenal justru dapat menjadi tanda bahaya yang perlu diwaspadai.

Sejatinya rahasia terbagi menjadi dua. Rahasia baik, umumnya bersifat menyenangkan dan tidak menimbulkan tekanan, seperti kejutan ulang tahun atau rencana memberi hadiah. Sebaliknya, rahasia tidak baik biasanya membuat anak merasa cemas, bingung, atau terancam, apalagi jika disertai dengan larangan untuk tidak memberitahukan kepada orangtua.

Jangan lupa untuk selalu ajak anak berdiskusi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Berikan pemahaman bahwa orangtua sejatinya selalu menjadi tempat paling aman untuk anak bercerita, apa pun yang ia alami.

5. Ajarkan anak mengenali ciri perilaku yang mencurigakan

pria dewasa memberikan gulali ke anak
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Tak semua ancaman datang dalam bentuk yang menakutkan. Terkadang, pelaku justru terlihat dengan tampilan ramah dan terlihat baik saat berbicara. Oleh karena itu, anak perlu diajarkan untuk mengenali berbagai perilaku mencurigakan, seperti orang dewasa yang memberi hadiah tanpa alasan, mengajak pergi diam-diam, atau meminta anak merahasiakan sesuatu dari orangtua.

Dengan memahami ciri-ciri tersebut, anak akan lebih waspada dan tidak mudah terbuai oleh bujuk rayu yang menyesatkan. Ajarkan bahwa kebaikan yang disertai permintaan rahasia atau membuatnya merasa tidak nyaman bukanlah bentuk perhatian yang sehat.

Latih anak untuk mempercayai instingnya. Jika ada situasi yang tak wajar atau membuatnya ragu, anak perlu tahu bahwa ia berhak menolak dan segera mencari bantuan dari orang dewasa tepercaya terdekat.

6. Ajarkan anak situasi berisiko di lingkungan sekitar

anak dan ibu sedang berpelukan
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Anak perlu memahami bahwa ada tempat dan kondisi tertentu yang berpotensi lebih berbahaya, seperti area sepi, ruang tertutup tanpa pengawasan, atau situasi saat ia sedang sendirian. Edukasi ini dinilai membantu anak lebih waspada tanpa menimbulkan rasa takut berlebihan.

Mama bisa mengajak anak berdiskusi tentang contoh situasi berisiko, seperti diajak ke tempat asing tanpa izin orangtua atau diminta masuk ke ruangan tertutup oleh orang dewasa.

Dengan mengenali situasi tersebut, anak akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mampu menjaga keselamatan dirinya secara mandiri.

7. Tentukan orang dewasa tepercaya yang bisa dihubungi anak

seorang anak sedang berkenalan dengan tante
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Selain orangtua, anak juga perlu mengetahui siapa saja sosok dewasa yang aman dan dapat dipercaya seperti guru, wali kelas, kerabat atau pengasuh. Kenalkan beberapa nama yang bisa menjadi tempat bercerita dan meminta pertolongan. Jelaskan bahwa mereka boleh mendatangi orang tersebut kapan pun merasa takut atau terancam.

Dengan memiliki daftar orang dewasa tepercaya, anak akan lebih berani mencari bantuan dan tidak menyimpan masalah seorang diri, sehingga risiko bahaya dapat berkurang.

Itulah ma, informasi penting mengenai hal yang wajib diketahui anak. Perlu diingat bahwa mempercayai orang dewasa tak selalu berarti buruk, selama anak dibekali pemahaman yang tepat tentang batasan serta keberanian untuk menyampaikan perasaan diri yang tepat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More