"Produk yang ada di warung ini rata-rata adalah upcycle. Jadi, dari sisa-sisa kain kita yang nggak kepake. Bukan cuma produk warungnya aja, semua yang ada di warung ini termasuk tutupan warung dan kain-kain yang ada di meja juga berasal dari kain daur ulang," katanya saat ditemui di kawasan Plaza Indonesia, Jumat (1/12/2023).
Brand Fashion Ini Membuat Warung Serba Menggunakan Kain Perca

Dalam rangka mendukung upaya merawat bumi tercinta, Sejauh Mata Memandang (SMM) melakukan kolaborasi bersama Greenpeace Indonesia dengan menghadirkan pameran bertajuk 'Kedai Kita'.
Kedai tersebut diadakan di Plaza Indonesia mulai tanggal 1-10 Desember 2023. Pameran keenam SMM ini mengangkat isu krisis iklim yang saat ini telah melanda dunia, termasuk Indonesia.
Salah satu area utama bertajuk Warung Sejauh Mata Memandang dirancang khusus oleh Felix Tjahyadi. Uniknya, rancangan tersebut sangat lekat kain kain bermotif khas Indonesia.
Warung didesain menggunakan 90 persen material guna ulang (reuse) serta kain perca dari sisa produksi SMM yang didaur ulang (upcycle). Penasaran seperti apa?
Yuk, simak ulasan Popmama.com selengkapnya!
1. Warung didesain menggunakan kain perca bermotif

Sejauh Mata Memandang resmi menghadirkan pop-up store di pameran 'Kedai Kita' yang sengaja dirancang menyerupai warung.
Di warung tersebut, kita bisa melihat dan berbelanja berbagai koleksi pakaian hingga pernak-pernik hasil dari bahan upcycle berupa kain-kain perca bermotif. Khusus untuk Warung SMM akan beroperasi hingga tanggal 11 Januari 2024.
2. Produk yang terdapat di warung dibuat dari kain upcycle

Pendiri sekaligus direktur kreatif dari Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto, berbagi cerita dengan Popmama.com mengenai konsep yang diusung demi menciptakan warung menggunakan kain-kain upcycle.
3. Warung terinspirasi dari pasar tradisional di tahun 70 sampai 90-an

Chitra Subyakto mengatakan, desain pop-up store terinspirasi dari warung-warung Indonesia di tahun 70 sampai 90-an. Pada zaman tersebut, warung maupun pasar yang ada di Indonesia memiliki ciri khas lekat akan nuansa tradisional. Berbeda dengan era sekarang yang lebih didominasi pasar modern.
"Aku sangat senang dengan warung ini karena mengingatkan aku akan memori masa kecil. Jadi, konsepnya memang seperti pasar zaman dulu, sekarang kan sudah gantinya supermarket ya," ungkap Chitra Subyakto
"Jadi, ini semua produk-produknya rata-rata upcycle, terus dibikinnya ala warung gitu. Terus ada musik-musik zaman dulu juga. Yang nuansanya daerah sekali, sangat tradisional," tambahnya.
4. Banyak produk untuk menunjang fashion yang dijual di sini

Warung tersebut menjual berbagai aksesori yang dapat menunjang kebutuhan fashion sehari-hari, mulai dari dompet, tas, kain, dan banyak lagi.
Nuansa tradisional bisa sangat terasa lantaran produknya terbuat dari material kain perca yang memiliki motif khas Indonesia.
Jadi, apakah kamu tertarik untuk mengunjungi warung satu ini?







-VNGXGOzs9c9SzRy2LvKpuXja5mkDxbry.jpg)










