Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nike Catat Laba Bersih Kuartal IV Berkat Keuntungan Sekali Pakai
instagram.com/nikefootball
  • Laba bersih Nike melonjak lima kali lipat menjadi US$1,1 miliar berkat pengembalian bea masuk US$986 juta, meski pendapatan operasional turun 1% dibanding tahun sebelumnya.
  • Penjualan Nike menunjukkan hasil beragam di berbagai wilayah; Amerika Utara dan Asia-Pasifik tumbuh tipis, sementara China turun 12% dan merek Converse anjlok hingga 32%.
  • Pasar bereaksi negatif dengan saham turun hampir 5%, karena investor menyoroti tantangan operasional global dan penurunan penjualan produk inti meski ada keuntungan sekali pakai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kabar terbaru datang dari raksasa perlengkapan olahraga, Nike, yang baru saja merilis laporan keuangan untuk kuartal keempat tahun fiskal 2026. Secara mengejutkan, laba bersih perusahaan melonjak hingga lima kali lipat menjadi US$1,1 miliar, jauh melampaui prediksi analis yang sebelumnya hanya memperkirakan angka di kisaran US$193 juta. Angka fantastis ini pun sempat mencuri perhatian banyak pihak sesaat setelah diumumkan.

Namun, lonjakan laba tersebut bukanlah berasal dari laris manisnya penjualan produk, melainkan didorong oleh pengembalian bea masuk sebesar US$986 juta yang cair lebih cepat dari jadwal. Keuntungan sekali pakai inilah yang membuat angka laba di atas kertas tampak sangat tinggi, meskipun kenyataannya tidak mencerminkan pertumbuhan penjualan produk secara organik di pasar global.

Faktanya, pendapatan Nike justru turun tipis 1% menjadi US$10,97 miliar dibandingkan tahun lalu. Hal ini menjadi sinyal bahwa di balik kas perusahaan yang terlihat aman berkat dana pengembalian pajak, tantangan bisnis inti di lapangan masih cukup menantang. Untuk memahami lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi dengan performa Nike saat ini, berikut Popmama.com bagikan rangkuman kinerjanya.

1. Variasi performa penjualan di berbagai wilayah

instagram.com/nikefootball

Hasil penjualan Nike di berbagai negara selama Maret hingga Mei 2026 cukup beragam. Penjualan di Amerika Utara masih tumbuh sehat sebesar 3% dan kawasan Asia-Pasifik naik 1%. Sayangnya, pasar China justru merosot tajam hingga 12% menjadi US$1,30 miliar, sementara kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) turun tipis 1%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Nike menghadapi tantangan yang berbeda-beda di tiap negara. Penurunan penjualan di China menjadi sorotan penting bagi investor karena pengaruhnya yang cukup besar terhadap total pendapatan. Hal ini menuntut Nike untuk lebih jeli dalam menyusun strategi pemasaran di setiap wilayah agar bisa kembali menarik minat para pembelinya.

Selain itu, merek Converse yang masih bagian dari Nike mengalami penurunan penjualan yang cukup dalam, yaitu sebesar 32% dengan total US$244 juta. Hasil ini menjadi catatan penting bagi manajemen Nike untuk memperbaiki strategi agar Converse bisa kembali populer di pasar sepatu kasual yang persaingannya semakin ketat.

2. Dampak pengembalian tarif terhadap laba

instagram.com/nikefootball

Keuntungan sekali pakai yang dialami Nike berasal dari pengembalian bea masuk sebesar US$986 juta. Dana ini cair setelah Supreme Court of the United States pada Februari lalu membatalkan sebagian kebijakan tarif yang sempat diberlakukan oleh Donald Trump pada tahun 2025. Tanpa kontribusi dari pengembalian tarif ini, laba bersih perusahaan tentu tidak akan mencapai angka US$1,1 miliar.

Berkat adanya kebijakan pengembalian dana ini, laba per saham terdilusi Nike tercatat sebesar 72 sen, termasuk kontribusi 52 sen dari pengembalian tarif tersebut. Angka ini jauh melampaui estimasi analis yang sebelumnya memperkirakan laba sebesar 12 sen per saham. Sebagai perbandingan, laba per saham pada periode yang sama tahun lalu hanya 14 sen.

Dalam dunia bisnis, ketergantungan pada pendapatan satu kali (one-time gain) sering kali tidak cukup untuk menutupi penurunan performa operasional. Pasar cenderung lebih melihat pada kekuatan penjualan ritel sebagai indikator utama kesehatan perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pengumuman laba ini tidak lantas membuat harga saham Nike naik, justru sempat terkoreksi di perdagangan after-hours.

3. Tantangan operasional yang kian nyata

instagram.com/nikefootball

Direktur GlobalData, Neil Saunders, mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi Nike saat ini jauh lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Meskipun perusahaan telah berupaya keras untuk bergerak lebih cepat dan menargetkan pertumbuhan yang lebih ambisius, hasil penutupan tahun fiskal 2026 dianggap masih kurang memuaskan. Pemulihan bisnis diperkirakan akan memakan waktu yang lebih lama dari ekspektasi awal.

CFO Nike, Matthew Friend, secara khusus menyoroti adanya "lingkungan operasional yang semakin menantang" bagi bisnis perusahaan. Berbagai variabel eksternal membuat penjualan menjadi lebih sulit diprediksi. Perusahaan kini berada dalam posisi yang mengharuskan mereka untuk lebih fleksibel dan adaptif dalam merespons perubahan perilaku belanja konsumen di seluruh dunia.

CEO Nike, Elliott Hill, menegaskan bahwa tahun fiskal 2026 telah digunakan untuk melakukan langkah tegas demi memperkuat fondasi perusahaan untuk pertumbuhan jangka panjang. Perbaikan struktural sedang dilakukan secara intensif. Bagaimanapun, tantangan nyata yang ada sekarang adalah bagaimana mengubah perbaikan internal ini menjadi angka penjualan yang kembali tumbuh stabil di kuartal-kuartal mendatang.

4. Kekecewaan pasar dan reaksi saham

instagram.com/nikefootball

Merespons hasil keuangan tersebut, pasar menunjukkan reaksi negatif yang cukup signifikan. Saham Nike tercatat turun hampir 5% dalam perdagangan setelah jam bursa (after-hours trading) di New York Stock Exchange. Investor tampaknya lebih berfokus pada penurunan penjualan produk inti dan tantangan pasar global daripada merayakan lonjakan laba akibat pengembalian tarif tersebut.

Kekecewaan ini bukanlah tanpa alasan, karena Nike selalu dipandang sebagai pemimpin pasar yang seharusnya mampu menjaga momentum pertumbuhan penjualan. Ketika angka pendapatan operasional turun, investor cenderung khawatir akan keberlangsungan tren merek di mata konsumen yang kini memiliki banyak pilihan alternatif merek olahraga lainnya di pasar.

Namun, bagi mereka yang percaya pada potensi Nike, langkah perbaikan struktural yang dicanangkan manajemen menjadi titik terang. Jika Nike mampu mengintegrasikan inovasi produk yang lebih segar dengan strategi distribusi yang tepat, bukan tidak mungkin kepercayaan pasar akan kembali. Perjalanan pemulihan ini memang menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Elliott Hill saat ini.

5. Langkah ke depan bagi Nike

instagram.com/nikefootball

Tahun 2026 menjadi tahun transisi yang cukup menantang bagi Nike. Perusahaan kini harus fokus pada diversifikasi produk dan efisiensi operasional di tengah pasar yang sangat kompetitif. Dengan adanya perbaikan struktural yang dilakukan, Nike berusaha membangun kembali fondasi yang kokoh agar tidak lagi terlalu bergantung pada faktor-faktor eksternal di luar penjualan produk.

Bagi konsumen, Nike tetaplah sebuah merek dengan kekuatan brand yang luar biasa. Inovasi teknologi pada sepatu lari dan koleksi gaya hidup akan tetap menjadi senjata utama mereka untuk memenangkan hati pasar. Fokus pada kualitas dan pengalaman pelanggan diharapkan bisa kembali mendongkrak penjualan yang sempat lesu di beberapa wilayah utama.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kemampuan Nike untuk bertahan dan berinovasi tetap menjadi hal yang menarik untuk disimak. Bagi penggemar setia atau investor, pergerakan strategis perusahaan dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah Nike bisa kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih konsisten dan memberikan hasil yang memuaskan bagi pemegang saham.

Dunia industri memang penuh dengan pasang surut, dan Nike pun sedang membuktikan bahwa adaptasi adalah kunci utama untuk bertahan. Tetap dukung gaya hidup aktifmu dengan memilih perlengkapan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan, karena kualitas yang sesungguhnya akan selalu relevan di segala situasi!

Editorial Team

Related Article