- Rasa lelah berlebihan (fatigue).
- Badan terasa tidak enak atau malaise.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di area perut kanan atas.
Apa Itu Fatty Liver? Ini Pengertian, Gejala, dan Pengobatannya

- Fatty liver adalah kondisi penumpukan lemak berlebih di hati yang bisa disebabkan oleh obesitas, diabetes tipe 2, konsumsi alkohol, atau gangguan metabolik lainnya.
- Penyakit ini sering tanpa gejala awal namun dapat berkembang menjadi peradangan atau sirosis; diagnosis dilakukan melalui tes darah dan pencitraan seperti USG atau MRI.
- Pencegahan dan pengobatan utamanya meliputi pola makan sehat, olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, serta menghindari alkohol untuk melindungi fungsi hati.
Pernah dengar istilah fatty liver atau perlemakan hati? Kondisi ini ternyata jauh lebih umum daripada yang kamu kira, bahkan bisa dialami oleh orang yang terlihat sehat-sehat saja.
Sayangnya, fatty liver sering kali tidak menimbulkan gejala di tahap awal, sehingga banyak orang baru menyadarinya setelah pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika kondisinya sudah cukup lanjut.
Nah, biar kamu lebih paham dan bisa mengenali tanda-tandanya sejak dini, berikut Popmama.com mengulas apa itu fatty liver. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Pengertian Fatty Liver

Fatty liver atau perlemakan hati adalah kondisi ketika lemak menumpuk terlalu banyak di dalam organ hati. Melansir Healthdirect Australia, hati yang sehat sebenarnya hanya mengandung sedikit lemak atau bahkan tidak sama sekali.
Seseorang baru dikatakan mengalami fatty liver ketika lemak sudah menyumbang lebih dari 5 persen dari total berat hati.
Mengutip dari Mayo Clinic, kondisi yang kini disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) ini umumnya dialami orang dengan berat badan berlebih, obesitas, atau gangguan metabolik lain seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
Dilansir dari Max Hospital, fatty liver terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu perlemakan hati nonalkoholik (NAFLD) yang berkaitan dengan gangguan metabolik, dan perlemakan hati akibat alkohol (AFLD) yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, fatty liver bisa berkembang menjadi peradangan hati yang lebih serius, bahkan berujung pada jaringan parut atau sirosis. Karena itu, sangat penting untuk kamu mengenali kondisi ini sejak awal.
Gejala Fatty Liver

Sayangnya, fatty liver memang terkenal sebagai silent condition karena jarang menimbulkan keluhan yang jelas di tahap awal. Namun, dikutip Mayo Clinic, ada beberapa gejala yang mungkin muncul, di antaranya:
Dilansir dari Max Hospital, beberapa gejala lain yang bisa muncul seiring perkembangan kondisi ini, seperti penurunan berat badan tanpa sebab jelas, hilangnya nafsu makan, hingga perut yang terasa membengkak akibat penumpukan cairan.
Jika kondisinya sudah berkembang menjadi peradangan atau sirosis, gejala yang muncul bisa lebih serius, seperti:
- Kulit terasa gatal.
- Perut membengkak (ascites).
- Sesak napas.
- Bengkak di area kaki.
- Muncul pembuluh darah seperti sarang laba-laba di bawah kulit.
- Pembesaran limpa.
- Perubahan warna kulit di telapak tangan.
- Kulit dan mata menguning (jaundice)
Penyebab Fatty Liver

Setelah tahu gejalanya, kamu mungkin penasaran, sebenarnya apa sih yang bikin lemak bisa menumpuk di hati?
Dikutip dari Mayo Clinic, para ahli belum sepenuhnya memahami alasan pastinya, tapi ada beberapa faktor yang diketahui berkaitan erat dengan kondisi ini, yaitu:
- Faktor genetik atau keturunan.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Resistensi insulin terjadi ketika sel tubuh tidak merespons hormon insulin dengan baik.
- Diabetes tipe 2 atau gula darah tinggi.
- Kadar lemak darah yang tinggi, terutama trigliserida.
Dilansir dari Max Hospital, penyebab fatty liver juga bisa dipicu oleh pola makan tidak sehat yang tinggi gula dan lemak jenuh, gaya hidup kurang aktif, penurunan berat badan yang terlalu drastis, konsumsi alkohol berlebihan, efek samping obat-obatan tertentu, hingga infeksi hati seperti hepatitis.
Faktor Risiko Fatty Liver

Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa faktor risiko tersebut meliputi:
- Obesitas, terutama jika lemak menumpuk di area perut.
- Diabetes tipe 2.
- Kolesterol tinggi.
- Kadar trigliserida tinggi dalam darah.
- Resistansi insulin.
- Sindrom metabolik.
- Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
- Gangguan tidur seperti sleep apnea obstruktif.
- Gangguan tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme).
Mengutip dari Healthdirect Australia, fatty liver juga bisa dipengaruhi oleh faktor yang lebih jarang ditemui, seperti gangguan tiroid dan efek samping obat-obatan tertentu. Jadi, kalau kamu punya salah satu kondisi di atas, ada baiknya lebih rutin memantau kesehatan hati, ya.
Pencegahan Fatty Liver

Kabar baiknya, fatty liver termasuk kondisi yang bisa dicegah, bahkan berpotensi membaik dengan perubahan gaya hidup. Dikutip dari Mayo Clinic, langkah-langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan meliputi:
- Menerapkan pola makan sehat yang kaya akan buah, sayur, biji-bijian utuh, dan lemak sehat.
- Membatasi konsumsi alkohol, gula sederhana, dan porsi makan.
- Menjaga berat badan tetap ideal.
- Rutin berolahraga di sebagian besar hari dalam seminggu.
Mengutip Healthdirect Australia, menjaga aktivitas fisik secara konsisten dan membatasi konsumsi alkohol seminimal mungkin menjadi kunci utama pencegahan fatty liver, terutama bagi kamu yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau diabetes.
Cara Fatty Liver Didiagnosis

Karena sering tidak bergejala, fatty liver biasanya baru terdeteksi lewat pemeriksaan rutin. Menurut Mayo Clinic, sejumlah tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini antara lain:
Tes fungsi dan enzim hati.
Pemeriksaan darah lengkap.
Tes kadar zat besi dalam darah.
Skrining hepatitis kronis dan penyakit celiac.
Pemeriksaan gula darah puasa dan tes A1C.
Profil lipid untuk mengukur kadar kolesterol dan trigliserida.
Selain tes darah, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan pencitraan seperti USG perut, CT scan, MRI, hingga transient elastography untuk melihat kondisi lemak dan kekakuan jaringan hati.
Jika hasil tes belum jelas atau dicurigai ada peradangan serius, dikutip dari Mayo Clinic, biopsi hati bisa direkomendasikan untuk memastikan diagnosis.
Dilansir dari Max Hospital, proses diagnosis biasanya diawali dengan wawancara medis seputar pola makan, gaya hidup, riwayat penyakit, dan riwayat keluarga, sebelum berlanjut ke pemeriksaan fisik dan tes penunjang lainnya.
Pengobatan dan Perawatan Fatty Liver

Sampai di bagian ini, kamu mungkin bertanya-tanya, kalau sudah telanjur kena fatty liver, apa yang bisa dilakukan? Tenang, kabar baiknya, kondisi ini sering kali bisa membaik dengan penanganan yang tepat.
Mengutip dari Mayo Clinic, penurunan berat badan menjadi langkah utama dalam mengobati fatty liver, di mana menurunkan berat badan sekitar 3 hingga 5 persen saja sudah bisa memberikan manfaat, meski hasil optimal biasanya didapat dari penurunan 10 persen atau lebih.
Selain perubahan berat badan, sejumlah langkah perawatan mandiri yang disarankan meliputi:
Menjaga pola makan sehat dengan memperbanyak buah, sayur, dan biji-bijian utuh.
Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.
Mengelola kondisi diabetes dengan baik.
Menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah tetap normal.
Melindungi hati dengan menghindari alkohol dan berhati-hati dalam mengonsumsi obat atau suplemen herbal.
Dilansir dari Healthdirect Australia, untuk kasus fatty liver akibat gangguan metabolik, dokter biasanya akan merujuk pasien ke ahli gizi atau fisiolog olahraga, sementara untuk kasus akibat alkohol, langkah paling penting adalah menghentikan konsumsi alkohol sepenuhnya.
Dikutip dari Mayo Clinic, pada kasus peradangan hati yang sudah cukup berat, dokter dapat meresepkan obat-obatan tertentu, meski pilihan ini umumnya diperuntukkan bagi kondisi yang lebih serius dan tetap memerlukan pengawasan medis ketat.
Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu fatty liver? Semoga informatif dan bermanfaat!










-OdB3azCbrWXlk8pABO1Pw05ayZ3r39ZV.jpg)










