Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa itu Hipertensi Gestasional? Ini Gejala dan Bahayanya
Pexels/Thirdman
  • Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan biasanya hilang setelah persalinan, dialami sekitar 5–8 persen ibu hamil.
  • Kondisi ini sering tanpa gejala, sehingga pemeriksaan rutin penting untuk mendeteksi dini; diagnosis dilakukan lewat pengukuran tekanan darah, tes urine, serta pemantauan fungsi organ.
  • Penanganan meliputi istirahat, obat antihipertensi, pemantauan janin, hingga induksi persalinan bila perlu; pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga berat badan ideal dan pola hidup sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tekanan darah yang tiba-tiba melonjak saat pemeriksaan kehamilan trimester akhir kerap bikin Mama panik. Padahal, kondisi ini punya nama medis tersendiri, yaitu hipertensi gestasional, gangguan tekanan darah yang khas muncul pada paruh kedua masa kehamilan.

Kabar baiknya, hipertensi gestasional umumnya dapat dikendalikan jika terdeteksi sejak dini dan tidak semakin memburuk. 

Untuk Mama yang sedang hamil dan ingin menjadi lebih sehat selama masa kehamilan, berikut Popmama.com mengulas apa itu hipertensi gestasional? Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Hipertensi Gestasional

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Melansir Stanford Health Care, hipertensi gestasional adalah salah satu gangguan hipertensi yang muncul sekitar pertengahan masa kehamilan dan dialami sekitar 5 hingga 8 persen dari seluruh kehamilan. Kondisi ini umumnya menghilang setelah persalinan, namun jika tekanan darah tetap tinggi setelah melahirkan, diagnosisnya berubah menjadi hipertensi kronis.

Dikutip dari Cleveland Clinic, hipertensi gestasional adalah tekanan darah yang sama dengan atau lebih dari 140/90 mmHg, yang muncul pada paruh kedua kehamilan, biasanya setelah usia kandungan 20 minggu, dan berakhir tak lama setelah bayi lahir. Kondisi ini dialami sekitar 6 hingga 8 persen ibu hamil.

Mengutip Legacy For Women OB-GYN, diagnosis hipertensi gestasional dilakukan bila tekanan sistolik (angka atas) mencapai 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan diastolik (angka bawah) 90 mmHg atau lebih, yang terukur pada minimal dua kali pemeriksaan berjarak setidaknya empat jam, setelah usia kehamilan melewati 20 minggu, pada Mama yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.

Dilansir dari BMJ Best Practice, tekanan darah yang lebih dari 140/90 mmHg pada dua kali pengukuran berjarak minimal empat jam setelah 20 minggu kehamilan, tanpa disertai protein dalam urine atau tanda-tanda preeklamsia lainnya.

Bedanya dengan hipertensi kronis, hipertensi gestasional baru muncul di masa kehamilan dan umumnya reda dengan sendirinya begitu Mama melahirkan.

Gejala Hipertensi Gestasional yang Perlu Diwaspadai

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Menurut BMJ Best Practice, sebagian besar Mama dengan hipertensi gestasional justru tidak merasakan gejala apa pun alias asimtomatik. Itu sebabnya, pemeriksaan tekanan darah rutin saat kontrol kehamilan jadi kunci untuk menangkap kondisi ini lebih awal. 

Dikutip Stanford Health Care, berikut tanda yang dapat muncul, di antaranya:

  • Tekanan darah meningkat drastis dari biasanya

  • Ditemukan protein dalam urine

  • Bengkak atau edema, terutama di kaki, tangan, atau wajah

  • Berat badan naik secara tiba-tiba dan signifikan

  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur atau berbayang

  • Mual dan muntah

  • Nyeri di perut bagian atas, terutama sisi kanan

  • Frekuensi buang air kecil berkurang meski cukup minum

  • Sakit kepala yang tak kunjung reda

  • Perubahan hasil tes fungsi hati dan ginjal

Penyebab dan Faktor Risiko Hipertensi Gestasional

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Sampai saat ini, penyebab pasti hipertensi gestasional belum diketahui. Penjelasan dari Stanford Health Care menyebut bahwa pemicu kondisi ini masih belum jelas secara medis. Meski begitu, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko Mama mengalaminya, seperti:

  • Memiliki riwayat hipertensi atau penyakit ginjal sebelum hamil

  • Mengidap diabetes, termasuk diabetes gestasional

  • Pernah mengalami hipertensi pada kehamilan sebelumnya

  • Usia Mama di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun dan usia di atas 35 tahun sebagai faktor risiko tersendiri

  • Mengandung anak kembar dua atau lebih

  • Memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi gestasional

  • Mengidap gangguan sistem imun, seperti lupus

  • Baru pertama kali hamil (nulipara)

  • Memiliki riwayat migrain

  • Mengalami obesitas sebelum masa kehamilan

Cara Mendiagnosis Hipertensi Gestasional

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Karena gejalanya kerap tak terasa, dokter kandungan akan mengandalkan sejumlah pemeriksaan untuk memastikan diagnosis.Berikut pemeriksaan yang umum dilakukan:

  • Pengukuran tekanan darah secara berkala di setiap kunjungan prenatal

  • Tes urine untuk mengecek kadar protein

  • Pemeriksaan tanda bengkak atau edema

  • Pemantauan berat badan secara rutin

  • Pemeriksaan mata untuk melihat perubahan pada retina

  • Tes fungsi hati dan ginjal

  • Tes pembekuan darah

  • Tes darah tambahan, seperti kadar asam urat dan pemeriksaan faktor pertumbuhan plasenta

  • USG janin dan pemeriksaan aliran darah tali pusat (Doppler) bila diperlukan

Pilihan Perawatan untuk Hipertensi Gestasional

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Begitu diagnosis ditegakkan, dokter kandungan akan menentukan penanganan berdasarkan kondisi kesehatan Mama, usia kehamilan, dan tingkat keparahan hipertensi. 

Dikutip dari Stanford Health Care, berikut beberapa langkah perawatannya:

  • Istirahat total atau bed rest, dapat dilakukan di rumah maupun di rumah sakit

  • Pemantauan tekanan darah secara mandiri di rumah

  • Pemberian obat penurun tekanan darah sesuai resep dokter

  • Rawat inap bila kondisi tergolong berat, misalnya tekanan darah mencapai 160/110 mmHg atau lebih

  • Pemantauan kondisi janin secara berkala, seperti menghitung gerak janin, nonstress test, profil biofisik, dan USG Doppler

  • Pemberian kortikosteroid bila bayi berisiko lahir prematur, untuk membantu mematangkan paru-parunya

  • Induksi persalinan begitu usia kehamilan mencapai 37 minggu atau lebih

  • Persalinan lebih awal, termasuk opsi caesar, bila kondisi Mama atau janin dinilai berisiko

Cara Mencegah Hipertensi Gestasional

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Meski penyebab pastinya belum diketahui, bukan berarti Mama tidak dapat menekan risikonya. Dilansir Cleveland Clinic, berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dicoba, di antaranya:

  • Menjaga berat badan tetap ideal sebelum dan selama hamil

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan membatasi asupan garam

  • Rutin bergerak, misalnya jalan kaki, bersepeda santai, atau yoga kehamilan

  • Menghindari rokok dan minuman beralkohol

  • Mencukupi waktu istirahat dan tidur

  • Rutin memeriksakan kehamilan agar faktor risiko dapat dideteksi sejak dini

  • Berkonsultasi dengan dokter soal konsumsi aspirin dosis rendah bila Mama termasuk kelompok berisiko tinggi

Apakah Hipertensi Gestasional Memengaruhi Bayi?

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI

Jawabannya, iya, dapat. Menurut Cleveland Clinic, tekanan darah tinggi selama kehamilan dapat menghambat aliran darah ke plasenta, sumber makanan dan oksigen bagi janin.

Akibatnya, bayi berisiko mengalami berat badan lahir rendah atau hambatan pertumbuhan dalam kandungan, lahir prematur, bahkan lahir mati (stillbirth), sehingga dokter mungkin perlu melakukan induksi persalinan sebelum usia kehamilan cukup bulan.

Dikutip dari Stanford Health Care, hipertensi gestasional juga dapat memicu solusio plasenta atau lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum waktunya. Jika tidak ditangani, kondisi berat bahkan dapat membahayakan nyawa Mama dan janin, sehingga persalinan sebelum usia 37 minggu terkadang menjadi pilihan yang tak terhindarkan demi keselamatan keduanya.

Mengutip Legacy For Women OB-GYN, deteksi dini dan penanganan yang tepat, sebagian besar Mama dengan hipertensi gestasional tetap dapat menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi yang sehat pula.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu hipertensi gestasional? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article