Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI
Melansir Stanford Health Care, hipertensi gestasional adalah salah satu gangguan hipertensi yang muncul sekitar pertengahan masa kehamilan dan dialami sekitar 5 hingga 8 persen dari seluruh kehamilan. Kondisi ini umumnya menghilang setelah persalinan, namun jika tekanan darah tetap tinggi setelah melahirkan, diagnosisnya berubah menjadi hipertensi kronis.
Dikutip dari Cleveland Clinic, hipertensi gestasional adalah tekanan darah yang sama dengan atau lebih dari 140/90 mmHg, yang muncul pada paruh kedua kehamilan, biasanya setelah usia kandungan 20 minggu, dan berakhir tak lama setelah bayi lahir. Kondisi ini dialami sekitar 6 hingga 8 persen ibu hamil.
Mengutip Legacy For Women OB-GYN, diagnosis hipertensi gestasional dilakukan bila tekanan sistolik (angka atas) mencapai 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan diastolik (angka bawah) 90 mmHg atau lebih, yang terukur pada minimal dua kali pemeriksaan berjarak setidaknya empat jam, setelah usia kehamilan melewati 20 minggu, pada Mama yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
Dilansir dari BMJ Best Practice, tekanan darah yang lebih dari 140/90 mmHg pada dua kali pengukuran berjarak minimal empat jam setelah 20 minggu kehamilan, tanpa disertai protein dalam urine atau tanda-tanda preeklamsia lainnya.
Bedanya dengan hipertensi kronis, hipertensi gestasional baru muncul di masa kehamilan dan umumnya reda dengan sendirinya begitu Mama melahirkan.