Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Hipertensi Pulmonal? Kenali Gejala dan Penyebabnya

Apa Itu Hipertensi Pulmonal? Kenali Gejala dan Penyebabnya
Wikimedia Commons/BruceBlaus
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Hipertensi pulmonal adalah tekanan darah tinggi di arteri paru-paru yang membuat jantung kanan bekerja lebih keras dan bisa berujung gagal jantung bila tidak ditangani.
  • Gejalanya meliputi sesak napas, nyeri dada, pusing, pembengkakan tubuh, hingga batuk berdarah pada kasus lanjut; diagnosis memerlukan pemeriksaan fisik dan tes lanjutan seperti ekokardiogram atau kateterisasi jantung.
  • Perawatan tergantung penyebabnya, mencakup obat vasodilator, terapi oksigen, operasi pengangkatan gumpalan darah, serta perubahan gaya hidup seperti diet sehat dan berhenti merokok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah dengar istilah hipertensi pulmonal? Kondisi ini berbeda dengan darah tinggi biasa yang sering kita dengar, karena yang bermasalah bukan tekanan darah di seluruh tubuh, melainkan khusus di pembuluh darah menuju paru-paru. 

Sayangnya, banyak orang baru menyadari bahwa mereka mengalaminya setelah gejalanya cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Padahal, kalau dikenali sejak dini, hipertensi pulmonal bisa dikelola supaya tidak makin parah, supaya kamu bisa lebih menjaga diri. Berikut Popmama.com mengulas apa itu hipertensi pulmonal? Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Hipertensi Pulmonal

Pengertian Hipertensi Pulmonal
Wikimedia Commons/Katholisches Klinikum Essen

Melansir Cleveland Clinic, hipertensi pulmonal (pulmonary hypertension/PH) adalah kondisi ketika tekanan darah di arteri pulmonal, yaitu pembuluh yang membawa darah dari jantung menuju paru-paru, menjadi terlalu tinggi. Penyebabnya beragam, tapi biasanya merupakan komplikasi dari penyakit jantung atau paru-paru.

Seiring waktu, tekanan yang meningkat ini merusak dan mempersempit arteri pulmonal. Akibatnya, bilik kanan bawah jantung (ventrikel kanan) harus bekerja lebih keras memompa darah supaya bisa sampai ke paru-paru. 

Kerja ekstra ini membuat ventrikel kanan membesar dan lama-lama bisa memicu gagal jantung sisi kanan. Cleveland Clinic menyebutkan, tanpa penanganan, hipertensi pulmonal bisa berakibat fatal.

Menariknya, kondisi ini tidak selangka yang dikira banyak orang. Hipertensi pulmonal diperkirakan memengaruhi sekitar 1 dari 100 orang di dunia dan paling sering ditemukan pada orang berusia di atas 65 tahun, meski bisa juga terjadi pada bayi baru lahir, anak-anak, hingga orang dewasa muda.

Gejala Hipertensi Pulmonal yang Perlu Diwaspadai

Gejala Hipertensi Pulmonal yang Perlu Diwaspadai
Pexels/freestocks.org

Gejala hipertensi pulmonal biasanya muncul perlahan dan makin terasa seiring waktu. Melansir Cleveland Clinic, apa pun jenis hipertensi pulmonal yang dialami, beberapa gejala yang umum dirasakan meliputi:

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada
  • Pusing atau bahkan pingsan
  • Mudah lelah
  • Nafsu makan menurun
  • Sesak napas
  • Pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, atau perut

Khusus untuk hipertensi arteri pulmonal (PAH) yang sudah cukup lanjut, mengutip informasi dari Medical News Today, gejalanya bisa disertai batuk yang kadang bercampur darah, serta sianosis atau perubahan warna kebiruan pada bibir dan kulit akibat kurangnya oksigen dalam darah. 

Karena gejalanya mirip dengan penyakit jantung lain, hipertensi pulmonal tidak bisa didiagnosis hanya dari gejala saja, sehingga pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan.

Penyebab Hipertensi Pulmonal

Penyebab Hipertensi Pulmonal
Pexels/Doriane__ photographe

Karena hipertensi pulmonal memiliki beberapa jenis, penyebabnya pun beragam tergantung jenisnya. Dikutip dari Cleveland Clinic, penyakit jantung dan paru-paru adalah penyebab paling umum, meski kondisi medis lain, obat-obatan tertentu, hingga racun juga bisa memicunya.

Nah, salah satu jenis yang paling sering dibahas adalah hipertensi arteri pulmonal (PAH). Mengutip IDN Times, ada tujuh penyebab umum PAH yang perlu kamu tahu:

  • Idiopatik, yaitu PAH yang tidak diketahui penyebab pastinya, meski diduga ada peran faktor lingkungan dan genetik.
  • Penyakit jaringan ikat yang bersifat autoimun, di mana respons peradangannya memengaruhi arteri di paru-paru.
  • Defek jantung bawaan, seperti kebocoran sekat jantung yang membuat darah beroksigen dan tanpa oksigen tercampur.
  • Infeksi HIV, yang bisa memicu disfungsi pada dinding pembuluh darah arteri paru.
  • Gumpalan darah kronis yang meninggalkan bekas luka di pembuluh darah setelah emboli paru.
  • Faktor keturunan, misalnya perubahan pada gen BMPR2 yang bisa diwariskan dalam keluarga.
  • Konsumsi obat atau racun tertentu, seperti obat penekan nafsu makan, amfetamin, metamfetamin, kokain, hingga beberapa obat kanker dan imunomodulator.

Diagnosis Hipertensi Pulmonal

Diagnosis Hipertensi Pulmonal
Wikimedia Commons/Hellerhoff

Hipertensi pulmonal tergolong kondisi yang cukup sulit didiagnosis karena gejalanya mirip dengan banyak penyakit lain. Melansir Cleveland Clinic, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu, seperti:

  • Mengukur tanda vital, termasuk tekanan darah dan kadar oksigen darah.
  • Mendengarkan detak jantung dan paru-paru dengan stetoskop.
  • Memeriksa pembuluh vena di leher yang menonjol, yang bisa jadi tanda gagal jantung.
  • Memeriksa pembengkakan di perut, tungkai, dan pergelangan kaki.

Kalau dari pemeriksaan fisik ditemukan kecurigaan, dokter biasanya akan melanjutkan dengan sejumlah tes tambahan, seperti:

  • Tes darah untuk memeriksa fungsi organ, kadar hormon, dan infeksi.
  • CT scan dada untuk mendeteksi gumpalan darah atau kondisi paru-paru lain.
  • Rontgen dada untuk melihat pembesaran ventrikel kanan atau arteri pulmonal.
  • Ekokardiogram Doppler untuk melihat kerja pompa jantung dan aliran darah.
  • Kateterisasi jantung kanan, yaitu tes yang mengukur langsung tekanan di arteri pulmonal dan jadi standar utama untuk memastikan diagnosis.
  • Tes jalan enam menit untuk melihat kemampuan fisik dan kadar oksigen saat beraktivitas.
  • Pemindaian VQ untuk mendeteksi gumpalan darah di paru-paru.

Jenis-Jenis Kondisi Hipertensi Pulmonal

Jenis-Jenis Kondisi Hipertensi Pulmonal
Pexels/Anastasia Shuraeva

Supaya tidak salah kaprah, penting untuk mengetahui bahwa hipertensi pulmonal sebenarnya bukan hanya satu jenis penyakit. Mengutip Cleveland Clinic, World Health Organization (WHO) membagi hipertensi pulmonal menjadi lima kelompok berdasarkan penyebabnya:

  • Grup 1: kerusakan jaringan pada arteri pulmonal, biasa disebut hipertensi arteri pulmonal (PAH)
  • Grup 2: gangguan fungsi jantung, khususnya sisi kiri
  • Grup 3: gangguan fungsi paru-paru
  • Grup 4: sumbatan di arteri pulmonal, yang jika disebabkan gumpalan darah disebut hipertensi pulmonal tromboemboli kronis (CTEPH)
  • Grup 5: kondisi medis lain yang berkaitan dengan hipertensi pulmonal lewat mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami

Dilansir dari Cleveland Clinic, Grup 2 dan 3 adalah yang paling umum ditemukan, sementara Grup 1 (PAH) justru tergolong langka meski paling sering dianggap mewakili seluruh hipertensi pulmonal. Makanya, tidak heran kalau banyak orang mengira kondisi ini jarang terjadi, padahal kenyataannya cukup umum.

Perawatan dan Pengobatan Hipertensi Pulmonal

Perawatan dan Pengobatan Hipertensi Pulmonal
Pexels/Anna Shvets

Sebagian besar kasus hipertensi pulmonal memang tidak bisa disembuhkan total, tetapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Melansir Cleveland Clinic, jenis perawatan medisnya disesuaikan dengan grup atau penyebabnya, di antaranya:

  • Grup 1 (PAH): pemberian obat vasodilator paru untuk melemaskan arteri, ditambah terapi oksigen bila diperlukan
  • Grup 2 dan 3: mengobati penyakit jantung atau paru-paru yang jadi penyebab utamanya, bisa lewat obat, perubahan pola makan, terapi oksigen, prosedur, atau operasi
  • Grup 4: prosedur balloon pulmonary angioplasty untuk melebarkan arteri, atau operasi pulmonary endarterectomy untuk mengangkat gumpalan dan jaringan parut
  • Grup 5: penanganan disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya

Untuk kasus PAH secara khusus, Medical News Today mencatat beberapa golongan obat yang sudah disetujui, yaitu:

  • Prostaglandin, untuk orang yang belum merespons terapi lain
  • Endothelin receptor antagonist, untuk membantu meredakan sesak napas
  • Penghambat phosphodiesterase type 5, untuk menurunkan tekanan arteri saat beraktivitas
  • Vasodilator, untuk melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah tinggi

Selain obat-obatan, perubahan gaya hidup juga tidak kalah penting. Dikutip Cleveland Clinic, berikut beberapa langkahnya:

  • Mengurangi asupan garam dan menghindari makanan olahan seperti daging asap atau makanan cepat saji
  • Memperbanyak makanan tinggi serat, kalium, dan magnesium
  • Tetap aktif bergerak sesuai anjuran dokter, tapi menghindari aktivitas berat seperti angkat beban
  • Berhenti merokok
  • Berhati-hati dengan interaksi obat, termasuk obat bebas dan suplemen
  • Melengkapi vaksinasi musiman seperti flu dan pneumonia
  • Bergabung dengan kelompok dukungan atau konseling untuk membantu proses adaptasi

Transplantasi paru-paru bisa menjadi pilihan terakhir bagi sebagian orang jika perawatan lain sudah tidak lagi efektif.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu hipertensi pulmonal? Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More